Akar Puisi, Daun Pohon

Akar Puisi, Daun Pohon

Puisi-puisi Indonesia berimbun romantisme pepohonan meski nasib pohon-pohon tidak puitis. W.S. Rendra memakai bahasa pohon dalam puisinya berjudul Kangen: Pohon cemara dari jauh/ membayangkan panjang rambutnya: maka aku pun kangen kekasihku. Pohon, oleh Rendra dimaknai dalam dua perumpamaan: pohon sebagai wujud asli pohon, dan pohon sebagai wujud bukan pohon. Pohon cemara dalam puisi Kangen bukan lagi ditafsirkan sebagai pohon, tapi lebih ke sesuatu yang diimajinasikan. Pohon cemara itu menyejukkan, berada pada ketinggian. Tinggi dan indah, menyerupai sosok kekasih.

Pada puisi lain, Rendra kembali membawa pohon dalam puisinya berjudul Pahatan: Di bawah pohon Sawo/ di atas bangku panjang/ di bawah langit biru/ di atas bumi kelabu/ istirahatlah dua buah hati rindu. Pohon sawo bukan lagi sesuatu yang bersifat imajiner dalam puisi Pahatan. Sawo di situ benar-benar pohon sawo yang diceritakan sebagai tempat berlangsungnya peristiwa. Peristiwa dua buah hati rindu benar-benar terjadi di bawah pohon sawo yang rindang.

Lebih jauh, kita berpindah ke penyair yang jauh lebih muda dari Rendra, penyair yang mewakili kecenderungan puitis masa kini. Penyair itu Faisal Oddang, ia masih menampilkan pohon dalam sisi-sisi romantisnya. Tepatnya, pada puisi Pohon Tua: Badai sebentar lagi tiba/ sebatang pohon tak bernama/ bertanya kepada ranting dan daun kering; siapa yang akan merelakan lebih awal? Kita tidak mengetahui jenis kelaminnya, ia sekadar pohon tua. Ia gelisah menunggu siapa yang harus jatuh terlebih dahulu.

Barangkali, kita juga bisa menemukan puisi-puisi lainnya tentang pohon dengan menengok puisi jenaka Joko Pinurbo (Jokpin), Pohon Perempuan: Pohon perempuan itu masih berdiri anggun di tengah kota/ walau sudah sangat tua umurnya// teman-temannya sudah tumbang dan roboh semua/ tapi ia masih tegar di sana// Aku ingin mencicipi sepasang buahnya yang indah/ yang selalu tampak segar dan basah/ tapi kata orang itu buah keramat/ dan tak seorang pun boleh memetiknya//. Pohon diperempuankan dan dimainkan secara nakal oleh Jokpin. Penghormatan terhadap martabat perempuan tampak berusaha ditunjukkan Jokpin di puisi nakalnya. Menjaga buah keramat diartikan pemberian hormat ke pohon, sama artinya memartabatkan perempuan. Berbuat kerusakan berarti berkhianat pada pohon, berkhianat pada perempuan: berkhianat pada kehidupan.

Mengakarkan Puisi

Jika dibandingkan bahasa binatang, bahasa flora atau tumbuhan dalam sastra˗terlebih pada karya puisi˗dianggap mampu memberikan nilai romantisme yang lebih. Namun, romantisme itu tidak sebanding dengan garis hidup flora dalam puisi-puisi yang ditulis para penyair di atas. Nyatanya, pohon-pohon terus ditebang, dieksploitasi, dan diabaikan posisi pentingnya dalam kehidupan.

Saat pohon-pohon telah tumbang, manusia berada dalam kebingungan. Kekeringan, bencana alam, keselamatan hewan, manusia, dan kesehatan bumi akan terancam. Bahkan, Darwin pernah mengatakan bahwa, “pohon-pohon adalah Tuhan.” Itu artinya, kita sangat bergantung padanya, pada pohon yang bagi Darwin menyetarai bergantungnya kita ke Tuhan. Kita membayangkan bagaimana jika pohon-pohon di jalan, gunung, atau hutan melakukan demonstrasi mogok satu hari saja dalam kehidupan. Apa yang bisa manusia lakukan? Mungkin hanya merengek dengan, “rengekan paling cengeng dan tidak bermoral,” kata Chairil Anwar.

Manusia sering lupa, bahwa hidup mereka sangat bergantung pada pohon. Namun, abai dengan pelestarian pohon. Penebangan pohon terus dilakukan, seperti tidak bisa dihentikan. Manusia adalah pemangsa paling ganas bagi makhluk sekitarnya. Ali Subeno (Beno Siang Pamungkas) dalam antologi puisi Cerita dari Hutan Bakau (1994) menulis fenomena itu pada puisi berjudul Eksekusi Pohon-Pohon: ini berita/ dari padang/ yang luka/ pohon-pohon dieksekusi/ tak ada lagi sisa/ tanah bengkah/ bumi belah/ hutan menjelma belantara luka/ manusia menjadi tarzan/ terpenjara pendingin ruangan/ dan kotak-kotak kaca/ pohon terakhir/ telah dimakamkan/ di delapan mata angin/ ada suara menggemuruh/ marabahaya/ dari luka! Masa depan kehidupan manusia bersama pohon semakin suram. Pohon-pohon perlahan dihancurkan, dihilangkan, lantas digantikan kepentingan-kepentingan personal.

Kisah lain tentang pohon juga menginspirasi Achmad Shuhadak untuk menuliskan sebuah puisi berjudul Pohon. Puisi ditulis di kisaran tahun 1992-1994, berbunyi: Pohon/ pohon ku/ pohon kuru/ pohon ku runtuh/ pohon ku runtuh utuh/ pohon ku runtuh utuh Tuhan/ pohon ku runtuh utuh/ pohon ku runtuh/ pohon kuru/ pohon ku/ pohon/ ku/ kuru/ runtuh/ utuh/ Tuhan. Kita bisa membayangkan bagaimana ketakutan sekaligus kepedihan yang dialami Achmad saat menulis puisi Pohon, juga tentang kegelisahan serta pengaduan-pengaduannya pada Tuhan. Tentu saja, bukan api atau hewan yang menghabisi pohon-pohon rindang di hutan. Manusia adalah predator paling serakah dalam perkara perusakan hutan.

Pohon Bertuhan

Dhony Firmansyah di buku 4 Cermin Flora (2011) menuliskan bagaimana seharusnya manusia memposisikan diri dalam kehidupan. Ia mengatakan bahwa flora (termasuk pohon) adalah makhluk yang menyerupai manusia, begitu pun makhluk Tuhan lainnya. Dhony mengajak para pembaca untuk belajar bersama tentang empat hal yang bisa dijadikan cermin oleh manusia dari flora. Empat hal termaksud adalah tentang personalitas (tunduk pada aturan Tuhan), mentalitas (berinteraksi sosial), moralitas (menyelesaikan masalah), serta spiritualitas (menata diri). Dhony berusaha menyadarkan pada kita bahwa flora dan manusia adalah makhluk yang sama. Bahkan, manusia bisa bercermin pada flora.

Kita mengingat tulisan Dhony berjudul Cerahnya Lingkar Tuhan, yang menarasikan tentang proses terbentuknya lingkar tahun pada batang pohon yang telah ditebang. Saat musim hujan, penampang lintang pada lingkar tahun berwarna cerah. Sedang pada musim kemarau, lingkar batang kemudian berubah warna menjadi lebih gelap. Pola gelap terang itu bagi Dhony adalah teguran bagi manusia untuk terus berkarya, dengan asupan nutrisi dan tenaga yang cukup seperti warna cerah yang didapat lingkar batang pohon saat musim hujan tiba. “Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelebihannya. Janganlah mengerdilkan diri dengan bersifat pesimistis dan enggan untuk berinovasi.”

Pohon dan Manusia

Hubungan antara manusia dengan pohon juga dinarasikan oleh Han Kang di novel Vegetarian (2017). Novel itu bercerita tentang seorang perempuan bernama Yeong-Hye yang memutuskan menjadi seorang vegan akibat mimpi buruk yang dialaminya. Yeong-Hye berubah menjadi sosok perempuan asing di mata orang-orang terdekatnya. Bagi suami, orang tua, dan keluarganya. Ia dianggap mengidap gangguan mental, dan merasa dirinya pohon, sehingga tak memerlukan lagi makanan untuk disantap. “Aku tidak perlu makan nasi. Aku bisa hidup. Asal ada cahaya dan matahari.”

Tidak dipungkiri memang, bahwa pohon itu sumber segala manfaat bagi manusia, mulai dari kebutuhan bernapas, pangan, sandang, serta papan. Manusia membutuhkan sebatang, dua batang, tiga batang, hingga berbatang-batang pohon di hutan. Anak-anak bermain petak umpet di bawah pohon rindang, ibu-ibu mencari kayu bakar dari pohon di hutan, bapak-bapak membuat perkakas meja, kursi, lemari kayu dari pohon di hutan. Burung-burung dapat bersiul riang dan singgah pada cabang-cabang pohon yang tumbuh di pinggir jalan.

Namun, kini, imajinasi tentang pohon-pohon bukan lagi kesejukan, kerindangan, dan kelebatan, melainkan sebuah kegersangan. Kita telah mendengar lagu berjudul Cerita Tentang Gunung dan Laut yang dinyayikan oleh grup band indie Payung Teduh: Aku pernah berjalan di atas bukit/ tak ada air/ tak ada rumput// tanah terlalu kering untuk di tapaki/ panas selalu menghantam kaki dan kepalaku. Masa depan terlihat semakin gersang. Pohon-pohon seakan mulai disingkirkan dan dihilangkan. []

Rujukan:
  • Rendra, W.S. 2015. “Puisi-Puisi Cinta”. Yogyakarta: Bentang Pustaka.
  • Oddang, Faisal. 2017. “Perkabungan untuk Cinta”. Yogyakarta: Basa-Basi.
  • Pinurbo, Joko. 2007. “Celana Pacar Kecilku di Bawah Kibaran Sarung”. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Pembaca dan penulis dengan gembira.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel