Alkisah Hiduplah Seorang Lelaki yang Tak Begitu Ketakutan Membaca Dongeng-Dongeng Menyeramkan

Alkisah Hiduplah Seorang Lelaki yang Tak Begitu Ketakutan Membaca Dongeng-Dongeng Menyeramkan

Lelaki itu tak berniat menguji adrenalin laiknya menonton film horor. Ia hanya membaca cerita-cerita berlabel menyeramkan dari penulis yang bahkan tak ia kenali sebelumnya. Mendapati nama penulisnya dalam lis buku-buku sastra terbaik dari suatu negara, lalu mencari buku itu, lantas membacanya meski tak rampung sekali duduk. Bukannya tak asyik, hanya saja tak selalu membikin penasaran seperti pertanyaan “mana hantunya?” ketika menonton film hantu. Beberapa cerita itu ditulis seolah film horor tanpa efek suara yang membuat merinding atau kejutan jump-scare—yang tampaknya jadi modal utama membuat film semacam itu. Pembaca akan dibuat sedikit gelisah, juga sesekali mengerutkan dahi, bertanya apa maksud semua ini. Dongeng-dongeng itu tak melulu soal hantu, kadang berupa cerita kehidupan manusia yang normal juga wagu. Begitulah ia membaca cerpen-cerpen Ludmilla Petrushevskaya, sastrawan cum dramawan Rusia kontemporer, dalam kumpulan cerpennya There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbor’s Baby.

Barangkali sulit menjaga ritme film hantu supaya tetap menghibur sekaligus menantang. Terlalu sering menampilkan hantu itu menakutkan dan bisa membuat pemirsa malas menontonnya, apalagi tak ada wujud hantunya sama sekali. Demikian pula kumpulan cerpen Petrushevskaya ini. Jika dicermati, hantu-hantu itu hanya menampakkan diri di awal-awal cerita. Bagian pertama dari empat bagian utamanya—dua cerpen pertamanya bisa dibaca dalam terjemahan bahasa Indonesia di sini dan di sini. Tentang hantu istri seorang kolonel yang kuburannya digali sang suami, hantu penerbang pesawat yang kembali menemui istrinya, hingga orang-orang mati yang secara misterius hidup kembali dan menyambangi keluarganya. Semua hantu itu tak sepenuhnya membuat merinding. Barangkali imajinasi pembaca Indonesia tentang hantu telah didominasi oleh hantu-hantu lokal. Begitu pula tercampur perihal hantu atau setan dalam narasi agama. Nyaris semua hantu di awal tadi menyerupai manusia biasa. Hidup kembali untuk memperingatkan atau memberi tahu seseorang bahwa ada sesuatu yang tak wajar dengan kematiannya. Berbeda dengan hantu-hantu Indonesia yang kebanyakan tak berwujud manusia. Sebagian orang mungkin merasa takut melihat hantu macam apapun, sekalipun yang tak nyata dalam film maupun cerita horor.

Secara tak sadar, kadang terdapat sekat semu antara horor dan misteri. Beberapa orang menganggapnya sama, padahal berbeda. Horor adalah sesuatu yang menimbulkan perasaan ngeri, sedangkan misteri merupakan sesuatu yang masih menjadi teka-teki. Bagi mereka yang kebingungan, kerap mencampurnya menjadi satu. Horor sekaligus misteri. Lihat novel-novel horor karangan Abdullah Harahap, sebagian judulnya diawali diksi “misteri”. Begitu pula yang dilakukan film-film horor Indonesia dengan misalnya: pengungkapan pembunuhan atau sejenisnya melalui pemunculan hantu si terbunuh. Barangkali itu langkah jitu untuk membuat plotnya lebih menarik. Tak hanya memunculkan hantu seolah tayangan uji nyali.

Jika membuat pemirsa atau pembaca merasa ketakutan adalah misinya, barangkali membuatnya terus terngiang-ngiang merupakan yang paripurna. Dan tampaknya salah satu cerpen Petrushevskaya berhasil meraihnya, meski hanya mengingatkan kembali pada hal serupa yang dulu pernah diperoleh. Ialah cerpen The Fountain House, yang bercerita ihwal seorang ayah saleh yang begitu mencintai putrinya, hingga suatu ketika putrinya mati dalam kecelakaan bus bersamanya dan nyaris ia gunakan seluruh tabungan untuk membawanya ke dokter super yang mampu menghidupkan kembali orang mati. Memang tak ada hantu di situ, tapi kisahnya mampu mengingatkan pada cerita mulut-ke-mulut soal hantu santriwati yang dihidupkan kembali untuk balas dendam. Kisahnya kurang lebih begini:

Pada suatu masa tinggallah seorang santriwati yang ramah juga rupawan di suatu pesantren di daerah Jawa Timur. Namun, selama itu ia tak pernah dihiraukan. Demi mendapat perhatian ia nekat mencuri cincin akik kiainya. Saat melakukan aksinya ia tepergok lalu kabur dan tewas tertabrak mobil dalam pelariannya. Pihak pesantren tak mendengar kabar itu, namun keluarga yang mengetahuinya lantas tak terima anaknya meninggal dalam keadaan seperti itu. Ayah gadis itu membawanya ke ahli ilmu hitam yang konon mampu menghidupkan orang. Mayat gadis yang telah hidup lagi itu pun kembali ke pesantren. Kawan-kawannya merasa ada yang aneh pada dirinya, terlebih bau anyir yang ia bawa serta lewat kopernya. Hingga suatu malam ia meminta diantar ke kamar mandi, namun lama tak kunjung keluar. Ketika pintu itu didobrak yang di dalam ternyata hantu perempuan bertaring berpakaian merah sedang menenggak darah.

Kisah hantu pesantren itu—tentu dengan banyak versi yang tersebar—memiliki kemiripan dengan cerita gadis Rusia yang dihidupkan kembali dalam cerpen The Fountain House, walau memiliki plot yang berbeda—si gadis dihidupkan kembali supaya keluarganya tak curiga ke mana selama itu ia menghilang. Tapi itu tadi menjadi semacam bukti kuatnya tradisi oral di Indonesia. Hanya mendengarnya dari mulut ke mulut tanpa pernah membaca teks tertulis dari kisah itu. Tentu cerita horor akan ciamik jika berakhir demikian dalam benak pembaca. Ungkapan semacam “di pohon itu ada penghuninya” bahkan mampu mengguratkan sumber ketakutan dalam batok kepala yang tak mudah hilang serupa trauma.

Seperti seorang yang mahir berkisah, ia akan mengakhiri kisahnya seapik ia mengawalinya. Dan seperti itulah Petrushevskaya menutup kumpulan cerpennya dengan kisah bertajuk The Black Coat. Lagi-lagi tak ada hantu dalam cerita itu. Namun ia menyajikan mimpi buruk seorang gadis yang tiba-tiba berada di suatu tempat yang entah, yang dikelilingi hutan rimba. Sekali waktu sampailah ia pada suatu apartemen kosong setelah dikejar-kejar sopir dan kernet yang meminta bayaran setelah ia tumpangi. Begitulah ia kemudian bertahan di sana dengan sekotak korek api, secarik kertas, dan semata kunci. Tampak tak begitu menakutkan memang, tapi mimpi buruk semacam itu mampu menciptakan teror karena seseorang tak memegang kendali penuh atas tubuhnya di dalam mimpi. Demikianlah sebagian besar cerita horor dimasak, dengan bahan-bahan mimpi, hantu, pembunuhan, kuburan, juga darah atau hal-hal menjijikkan lainnya. Meski Petrushevskaya tak mampu membuatmu bergidik, namun percayalah kisah-kisahnya bisa saja sekonyong-konyong datang tanpa diundang dalam ingatanmu. []


Judul
There Once Lived a Woman Who Tried to Kill Her Neighbor’s Baby: Scary Fairy Tales
Penulis
Ludmilla Petrushevskaya
Penerjemah
Keith Gessen dan Anna Summers
Penerbit
Penguin Books
Tebal
154 halaman buku-e
Tahun Terbit
2009

Pembaca dan sesekali pengalihbahasa kisah-kisah dari Rusia. Sekali-dua menulis di umarqadafi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel