Belajar Mencintai Buku

Belajar Mencintai Buku

Saran dari Mbak Nana, begitu sapaan akrabnya, bagi kita yang kurang suka atau bahkan tak punya rasa suka sama sekali terhadap dunia buku dan membaca: coba temukan satu buku yang membuat kita jatuh cinta. Dari jatuh cinta pada satu jenis buku, harapannya akan menambah nafsu membaca kita pada jenis buku-buku lainnya.

Terkait mencintai buku saya punya sedikit cerita. Asni, adik saya, entah bagaimana, dia ternyata suka baca buku. Meskipun tinggal di pesantren, koleksi bukunya cukup banyak dan nafsu membacanya cukup tinggi. Pernah sekali waktu saya bertanya, “Kok senang baca buku, kenapa?” “Buat ngisi waktu luang di pondok,” jawabnya. Di saat santri yang lain merasa aktivitas di pondok sangat melelahkan karena padatnya jadwal mengaji, ternyata ada sebagian santri yang masih memiliki waktu luang, meskipun tidak banyak. Dan mereka memanfaatkan itu untuk membaca buku. Hebat!

Sekali waktu, Asni menitip untuk dibelikan buku.

“Mas, ke Semarang kapan?”

“Besok Senin” 

“Beliin buku ya, ini duitnya.”

“Iya, buku apa?” jawabku sambil menerima uang 100 ribu darinya. 

“Terserah, kalau bisa novel, yang banyak.”

Selama perjalanan dari Brabo ke Semarang, aku berpikir, ‘duit 100 ribu, beli novel, dapat banyak, di mana ya?’ Akhirnya pilihan jatuh pada toko-toko buku yang ada di Stadion Diponegoro, Semarang. Di sana memang masih tersisa beberapa toko buku yang menjual berbagai genre buku dengan harga miring. Asli atau bukan? “Tentu ada beberapa buku asli cetakan penerbit, dan banyak juga buku-buku KW, bukan bajakan,” demikian tutur para penjual di sana.

Setelah jalan-jalan sebentar melihat beberapa buku, akhirnya saya memutuskan untuk membeli Roman Tetralogi Pulau Buru karya Pram. Selain berniat membelikan Asni, alasannya simpel, sudah lama saya punya keinginan membaca roman itu, tapi belum kesampaian. Pun, harga Tetralogi di Stadion jauh lebih murah dari harga di toko buku, apalagi di Gramedia. Dengan uang 100 ribu bisa mendapat empat jilid Roman legendaris karya sastrawan besar Indonesia.

Ketika saya berikan Roman Tetralogi itu kepada adik saya, ternyata ada sedikit nada protes. “Ini buku apa, Mas?” “Novel,” jawab saya. “Kok kayak gini sih, yang lain.” Akhirnya buku itu tidak dibaca sampai selesai, dan tergeletak di rumah. Daripada tidak ada yang membaca, saya bawa Tetralogi itu ke Semarang. Saya mulai membaca Bumi Manusia, episode awal dari Tetralogi Pulau Buru. Sungguh sangat mengasyikkan dan menyenangkan berkenalan dengan Minke, terlebih cara bercerita Pram yang mengalir, dengan sedikit diksi bahasa Indonesia kuno. Kemudian hari-hari saya selanjutnya tidak lepas dari buku yang sempat dilarang terbit di era kepemimpinan Soeharto dulu.

Sebelum membaca Tetralogi Pulau Buru, sudah beberapa kali saya membaca buku, tetapi tidak senikmat ketika membaca Tetralogi Pulau Buru. Selain itu, buku tentang sejarah Indonesia modern itu juga membuka mata saya tentang dunia sastra. Selain juga didukung obrolan dengan beberapa teman yang lebih dahulu menekuni sastra.

Respon Asni terhadap Tetralogi Buru sedikit berbeda dengan responnya terhadap Dunia Sophie. Karena sebelum saya belikan novelnya Pram, Asni pernah saya belikan novel filsafat karya Jostein Gaarder itu. Ketika itu, setelah beberapa hari buku dia bawa, aku tanya, “Sudah selesai baca Dunia Sophie?” “Sudah,” katanya. “Paham?” aku bertanya. “Enggak,” jawabnya. Dalam hati saya berkata, “Saya saja belum baca novel itu, tapi kalau nonton filmnya, sudah.”

Karena kurang tertarik dengan Tetralogi Pulau Buru, di lain kesempatan saya memberinya karya Pram yang lain yakni Gadis Pantai. Ketika itu saya dan Asni sedang mendapat giliran menjaga Ibu yang dirawat di rumah sakit. Dan ternyata novel yang berkisah tentang Neneknya Pram itu selesai dibaca dalam waktu satu hari.

Merupakan anugerah yang luar biasa, diberikan rasa cinta dan suka terhadap buku dan membaca. Jika dirunut, ternyata tidak lepas dari Bapak saya yang memang sangat suka membaca. Hanya saja jenis bacaan dan jenis bukunya berbeda. Saya baru sadar bahwa nafsu membaca Bapak tinggi. Di sela-sela aktivitas sehari-hari, atau bahkan ketika bepergian, Bapak selalu membaca kitab kuning. Kitab-kitab tersebut mulai dari fiqh, tauhid, hadis dan lainnya. Terkadang juga buku berbahasa Indonesia, tapi tidak banyak.

Ada satu kejadian menarik. Satu ketika Asni minta izin untuk pergi ke Pameran Buku di Semarang. Ternyata Bapak tidak memberikan izin. Alasannya, “Hla bukumu itu sudah banyak, kok masih mau beli lagi. Mbok ya sesekali beli dan baca kitab (kuning).” Ternyata meskipun sama-sama mencintai buku, ada perbedaan sudut pandang tentang apa itu buku dan kitab. Padahal itu hanya istilah saja. Kitab (dalam bahasa Arab) artinya adalah buku dalam bahasa Indonesia. Tetapi, selama ini kitab identik dengan kitab kuning (karena dicetak di kertas berwarna kuning) dan ditulis dengan huruf Arab.

Meskipun begitu, saya selalu bersyukur memiliki kesempatan untuk selalu belajar mencintai buku dan membaca dari orang-orang terdekat. []


Kuncen cum pemodal bacabukumu.id.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel