Ibu-Ibu dalam Pusaran Hoaks

Ibu-Ibu dalam Pusaran Hoaks

Berada di tengah tsunami informasi sekarang ini sering kali membuat saya gelisah. Belakangan kata ‘hoaks’ semakin menjadi musuh bersama dan kian masif pada tahun politik ini. Bukan karena para simpatisan dua kubu, cebong dan kampret yang saling serang, justru saya semakin merasa miris ketika membaca di salah satu portal media daring bahwasanya penyebar hoaks didominasi oleh ibu-ibu. Sebegitu mudahnya ibu-ibu terperangkap dalam lingkaran yang penuh kepalsuan ini.

Di Indonesia, mulai dari SR dengan nama alias Ny. Rahayu dari kelompok penebar hoaks Saracen, penculikan anak, ibu rumah tangga S di Bandung yang mengunggah hoaks soal kecelakaan pesawat Lion Air. Terdapat pula ibu-ibu ‘militan’ yang door-to-door berkampanye hitam dengan kabar hoaks sebagai senjatanya.

Kasus-kasus tersebut merupakan sebagian kecil yang tersorot media yang acap kali membuat panik banyak orang. Barangkali masih banyak lagi penyebaran hoaks yang dilakukan ibu-ibu, mulai dari membagikan hoaks di grup WhatsApp keluarga atau membagikannya ke linimasa Facebook mereka di samping gemar komentar Aamiin di unggahan minta like, bagikan, dan katakan Aamiin.

Awalnya saya menganggap isu disinformasi menjadi salah satu aspek literasi yang genting. Banyak hoaks soal politik, kesehatan, agama, yang beredar dalam lingkar ibu-ibu. Namun ternyata isu tantangan literasi digital dalam perspektif ibu-ibu lebih luas lagi.

Memang tidak semua ibu rumah tangga memahami konsep dasar internet, hanya mengetahui fitur ponsel berdasarkan ajaran anaknya, bahkan tidak bisa mengoperasikan sama sekali. Almarhum ibu saya misalnya. Ia tidak bisa mengoperasikan telepon pintar. Dulu sebelum hoaks menjadi semenakutkan sekarang, hampir setiap hari saya disuruh membuka portal media daring lokal, sekadar memutar selawat burdah, dan memutarkan lagu-lagu lawas kesukaannya. Ibu saya tidak pernah bertanya apakah berita yang dibaca benar adanya atau palsu. Namun di zaman semakin maju ini, agaknya mayoritas ibu-ibu juga berkeinginan untuk bisa memanfaatkan teknologi yang ada meski dibantu anaknya. Jika ibu ingin terkoneksi dengan teman lamanya, anak akan mengajarkan Facebook. Jika kelompok pengajiannya pada heboh memintai nomor ponsel untuk dimasukkan ke grup WhatsApp, anak akan membantu membuatkan WhatsApp. Facebook dan WhatsApp menjadi kanal informasi dan komunikasi utama mereka di dunia maya.

Sama halnya dengan lapisan masyarakat yang lain, internet sesungguhnya berpotensi besar bagi ibu-ibu. Internet bisa mempertemukannya dengan teman lama, membuka peluang bisnis, sampai akses beragam resep makanan. Namun tak sedikit para ibu yang bergantung pada anak termasuk mengelola akun segala rupa. Para ibu justru mempercayakan semua urusan berselancar ria di dunia maya kepada si anak.

Dari sini, terdapat aspek yang menonjol di dunia digital dewasa ini, yaitu proses sosialisasi terbalik ketika generasi muda memiliki pemahaman lebih tinggi ketimbang generasi atasnya. Meskipun banyak ibu yang bercerita bagaimana ia mendampingi anak dalam mengakses internet, tak dimungkiri pula mayoritas ibu-ibu mengakui kalau anaknya lebih pintar dalam menggunakannya. Kesenjangan semacam inilah yang bisa menganggu kepercayaan diri ibu dalam menghadapi anak.

Kendali orang tua semakin sempit terhadap informasi yang diakses anak karena kegagapan terhadap teknologi. Contohnya, anak mengelabuhi orang tua dengan memberikan akun media sosial banyangan sebagai persona atas dirinya di hadapan orang tua, yang berbeda dengan akun media sosialnya sehari-hari. Terlebih ketika WhatsApp meluncurkan pengembangan update story, yang paling jamak terjadi adalah orang tua masuk dalam daftar orang yang disembunyikan oleh anak agar tidak bisa melihat apa yang diunggahnya. Saat ini dunia maya telah menjadi ruang di luar kendali orang tua dan dilema batasan kepercayaan anak terhadap orang tua untuk melihat ruang interaksi di luar rumah.

Kelompok ibu-ibu agaknya tidak dianggap sebagai narasi besar perkembangan teknologi di negara kita, karena banyak mengutamakan anak muda yang lebih dekat dengan teknologi. Anggapan ibu-ibu yang gagap teknologi, penyebar hoaks ini terjadi karena mereka sedang terjerembab di jurang literasi digital antargenerasi yang semakin sulit dilalui. Waktu mereka untuk belajar teknologi sangat sempit, terlebih bagi para ibu mempelajari literasi digital sebagai suatu hal yang kusut tak perlu diurai dengan cepat, pun bercampur aduk dengan beban domestik di kehidupannya.

Jadi, teruntuk para anak yang ingin punya orang tua melek literasi digital, yang setidaknya tarafnya sama dengan kalian, mungkin kalian harus turut berperan. Sebagai contoh, apakah kalian pernah mendapati ibu menyebarkan info hoaks di grup WhatsApp keluarga sehingga membuat kalian gelisah namun tidak berani menegur? Apakah kalian pernah merasakan khawatir semisal orang tua terkena penipuan belanja daring? Apakah kalian pernah berandai-andai alangkah cemasnya kalian semisal orang tua kalian tercatut kasus fintech karena mengunggah dokumen pribadi lalu disalahgunakan oknum? Mungkin, membantu orang tua mempelajari perkembangan teknologi yang kian pesat ini dan tidak gemar mengelabuhinya di dunia maya bisa jadi syarat baru anak yang berbakti. []

Pembaca dan penulis seputar ekologi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel