Jatuh Cinta Pada Buku

Jatuh Cinta Pada Buku

“Aslinya Fathan itu pintar, sayang tidak mau baca,” semua kawan di lingkaran obrolan kami tertawa lepas kecuali aku. Kami terbiasa ngobrol sampai terbahak-bahak jika saling ngecengin antarkawan selingkaran obrolan. Tapi kali ini beda, seakan celetukan bernada guyon dari salah satu kawan itu benar-benar menamparku. Beberapa detik setelahnya aku langsung termenung dan dalam hati bertanya-tanya. Padahal selama ini aku aktif di kelas, aktif bertanya dan tak jarang menjawab pertanyaan–pertanyaan diskusi di bangku perkuliahan. Lalu, kata-kata apa yang selama ini aku lontarkan saat ada forum di kelas? Sekadar bualan tanpa substansi kah?

Obrolan kami usai, tapi tidak dengan renunganku. Tiba-tiba pikiran tertuju pada satu kata, “baca”. Iya, selama ini aku memang asing dengan buku, entah buku pelajaran kuliah maupun di luar itu. Kalau selama ini buku dinilai sebagai jendela ilmu pengetahuan dan aku tidak akrab dengannya, maka jelaslah sudah keaktifanku di kelas selama ini hanyalah “omong kosong”.

Di lain kesempatan, aku tertarik nimbrung diskusi bedah buku yang diadakan salah satu lembaga pers kampus. Aku masih ingat betul judul bukunya, Hegemoni Quraisy karya Kholil Abdul Karim. Ada hal menarik yang kurasakan pascadiksusi. Aku benar-benar merasa sama sekali asing dengan muatan isi yang ada di buku tersebut sehingga selama diskusi yang terjadi hanyalah bengong semata.

Usai diskusi aku tertarik untuk mendapatkan buku itu. Setelah keliling perpustakan, akhirnya bukunya sukses di genggaman. Buku itu menguak sisi “politis” dari kenabian Muhammad saw., mencoba menggugat narasi–narasi “heroik” dalam kitab-kitab Sirah Nabawiyah dengan sangat objektif. Pun memandang Mumammad saw. sebagai realitas manusia yang sepenuhnya utuh. Saking objektifnya tidak jarang membuat “asing” orang-orang yang terbiasa menerima narasi “baik–baik saja” tentang sejarah Islam selama ini.

Dua peristiwa di atas cukup membuatku terpantik untuk menyelami buku-buku yang lain. Berawal dari buku-buku keislaman lalu merembet ke buku bergenre lainnya, mulai dari ekonomi, politik, hingga sosial.

Jatuh Cinta Pada Pram

Dari sekian genre buku, agaknya aku kurang begitu tertarik dengan buku-buku sastra terutama novel. Saat SMA, aku dikenalkan novel Ayat-ayat Cinta anggitan Habiburrahman El Shirazi oleh salah seorang kawan. Itulah novel yang pertama kali kubaca. Namun, karena bagiku isinya terlalu melankolis, jadi aku tak mengkhatamkannya.

Ketidaksukaanku kepada novel bernuansa moralis tidak berarti secara kualitas menjadikan buku-buku itu buruk, namun ini hanya soal selera. Pasca itu aku tidak pernah lagi membaca novel, apa pun genrenya. Sampai masuk kuliah, tepatnya ketika semester VI, di rumah kebetulan punya kawan yang suka buku-buku sastra, dan saat itu ia tertarik pada diskursus agraria.

Kami berbagi banyak hal, dia banyak berbicara soal novel Bumi Manusia anggitan Pramoedya Ananta Toer dan aku sedikit banyak menceritakan buku agraria yang pernah kubaca. Ia bercerita mengenai sejarah bangsa Indonesia dan perjuangan rakyat dalam cita-cita kemerdekaan lewat tokoh utama Minke dengan bumbu-bumbu asmaranya dengan Annelies.

Tak terasa aku mulai tertarik dengan ceritanya. Di akhir obrolan kami memutuskan untuk saling tukar buku. Alhasil buku Petani dan Penguasa karya Noer Fauzi Rahman dibawanya dan aku membawa buku Bumi Manusia. Lembar demi lembar kubaca, baru kali ini aku menikmati membaca novel. Pramodeya Ananta Toer benar-benar membuatku jatuh cinta pada novelnya. Belakangan aku tahu bahwa ia merupakan novelis aliran realisme sosialis. Pun aku juga baru tahu sejarah hidupnya, salah seorang aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) tersebab afiliasinya dengan komunis ia dipenjara di pulau buru.

Satu hal lagi yang luar biasa dari seorang Pram. Sebagian besar karyanya ia buat di penjara pulau buru termasuk tetraloginya. Setelah beberapa hari membaca dan khatam Bumi Manusia, saat kembali ke Semarang aku langsung berburu buku lanjutannya, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca.

Demikianlah secuil kisahku tentang awal mula jatuh cinta dengan buku. Meskipun terbilang telat mengenal buku, aku sangat bersyukur telah dikenalkan dengan buku. Najwa Shihab bilang, “hanya butuh satu buku untuk jatuh cinta pada membaca,” kalau menurutku, “butuh barang satu-dua momen untuk jatuh cinta pada buku.” Masalahnya momen itu tidak “jatuh dari langit” begitu saja. Kita juga harus mencarinya. Cepat atau lambat, semoga momen itu segera menghampiri pembaca yang budiman. []

Pegiat Minerva Foundation.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel