Kejayaan Peradaban Islam dan Budaya Literasi

Kejayaan Peradaban Islam dan Budaya Literasi

Banyak sekali orang menukilkan kejayaan Islam di masa lampau. Mereka berkesimpulan bahwa keterpurukan umat Islam saat ini dikarenakan mereka tidak menggunakan Al-Quran dan hadis dalam kehidupan mereka sehari-hari. Bagi sebagian kelompok umat Islam yang lain menyebutkan, kebangkitan Islam tidak akan terwujud jika Khilafah tidak ditegakkan. Ada juga yang meyakini bahwa faktor kecenderungan terhadap meniru gaya hidup orang-orang Barat yang akan menambah keterpurukan umat Islam.

Memang begitulah sejarah selalu dibaca. Dalilnya, fakta sejarah itu obyektif dan menarasikan sejarah adalah subjektif. Kejayaan Islam di masa lalu itu adalah fakta sejarah yang obyektif tetapi narasi akan kejayaan Islam, termasuk di dalamnya faktor kejayaan Islam, adalah subjektif. Jadi, tidak usah terburu-buru kelabakan melihat kesimpulan-kesimpulan sejarah semacam itu. Dalam tulisan ini, kejayaan peradaban Islam akan dilihat dari sudut pandang yang berlainan dengan paparan kesimpulan yang ada.

Bagi penulis, kalau disebutkan bahwa penanda puncak kejayaan peradaban Islam di masa lalu adalah era bani Abbasiyah, maka dari sanalah kita bisa melihat ilmu pengetahuan dijunjung tinggi. Iklim ilmiah terjadi di mana-mana. Maka tak heran, jika kisah Abu Nawas yang cerdik nan humoris selalu dinarasikan dalam gelaran perdebatan-perdebatan langsung dengan sang khalifah.

Salah satu indikator bahwa antusias terhadap ilmu pengetahuan yang tinggi ialah digelarnya perdebatan-perdebatan kritis dan terbuka setiap selesai pelaksanaan salat Jumat. Persoalan atau wacana yang sedang berkembang di masyarakat selalu diselesaikan dalam forum-forum perdebatan ilmiah yang fair di hadapan publik.

Selain itu, kita tentu tidak melupakan jasa para khalifah seperi Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun dalam gerakan literasi membangun perpustakaan “Bait al-Hikmah” serta melakukan penerjemahan karya-karya filsuf Yunani ke dalam bahasa Arab. Tanpa memandang perbedaan agama, banyak di kalangan penerjemah yang beragama non-muslim, satu di antaranya adalah musa bin maimun.

Kerja-kerja literasi inilah yang membuat Islam bersinar dan mencapai masa keemasan. Dalam era ini, lahirlah pemikir-pemikir muslim yang lahir dari berbagai bidang. Islam di masa itu tidak hanya berkutat pada bacaan-bacaan ilmu seputar keislaman. Tetapi juga bergelut dengan dunia filsafat, sosiologi, teknologi, astronomi, kimia, biologi, dan lain sebaginya.

Selain bacaan yang banyak, tentu saja para pemikir muslim ini menggoreskan pemikirannya dalam lembaran-lembaran kitab yang begitu banyak. Tidak mengherankan jika para ulama dahulu begitu produktif dalam menulis. Dari karya-karya para pemikir muslim inilah kemudian bangsa barat belajar dan membangun peradabannya yang masih superior sampai saat ini.

Di era teknologi dan keterbukaan informasi seperti ini, umat Islam seharusnya mampu melanjutkan kiprah ulama-ulama, terutama dalam aspek produktivitas tulisannya. Sumber yang begitu banyak bisa diperoleh di mana saja tanpa harus beranjak menuju perpustakaan. Di masa lalu, para pemikir muslim tidak hanya meyakini bahwa membaca adalah wahyu pertama dan utama dalam Al-Quran. Namun masih ada kelanjutan untuk menyalurkan bacaan dengan qolam (tulisan), “iqro’ wa robbukal akromul ladzi ‘allama bil qolam.

Dari situlah lahir tokoh semacam al-Kindi, al-Farabi, Ibnu Sina, al-Khawarizmi yang karya-karyanya, baik langsung maupun tidak langsung, menjadi pondasi berdirinya peradaban dunia saat ini. Meskipun begitu, haram hukumnya, setidaknya bagi penulis, hanya membaca kiprah dan sejarah mereka tanpa meneladani di kehidupan saat ini. Sehingga umat Islam tidak terjebak pada romantisme sejarah yang hanya menguap di lembaran catatan sejarah Islam.

Jadi, bagi penulis, untuk membangun kembali kejayaan peradaban Islam sebagaimana dahulu pernah diraih oleh umat Islam, bukan dengan memaksa nonmuslim memeluk Islam, bukan juga mendirikan negara Islam dan menjadikan Islam sebagai hukum di kehidupan sehari-hari, namun jauh yang lebih penting ialah membangkitkan semangat keilmuan dengan membangun pojok-pojok baca, melanjutkan dengan diskusi-diskusi ilmiah dan yang paling penting, menuangkan segenap gagasan dan pemikiran ke dalam sebuah karya tulisan yang tidak lekang dimakan zaman. Wallahu a’lam bi al-showab. []

Manajer program Syafii Institute.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel