Mendiskusikan Budaya Literasi; Supaya Apa?

Mendiskusikan Budaya Literasi; Supaya Apa?

Dalam waktu singkat, data tentang kondisi budaya literasi masyarakat Indonesia bisa diketahui oleh siapapun melalui mesin pencarian Google. Program for International Student Assessment (PISA) yang diterbitkan oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada tahun 2015 misalnya, menunjukkan kepada kita tentang rendahnya budaya literasi Indonesia. Indonesia menduduki peringkat 62 dari 70 negara yang diteliti. Bahkan Central Connecticut State University (CCSU) pada Maret 2016 menyebutkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei.

Data ini dalam pembacaan penulis mengatakan bahwa di Indonesia, negara dengan mayoritas umat Islam terbesar, masyarakatnya sudah mulai enggan membaca. Kalau membaca sudah mulai segan, apalagi menulis. Jikalau sudah tidak ada yang menulis, bagaimana ilmu akan diikat untuk kemudian ditransmisikan kepada generasi selanjutnya? Bukankah kata Imam Syafii, ilmu adalah binatang buruan dan menulis adalah cara mengikatnya supaya tidak terlepas. Apabila hewan buruan (ilmu) sudah terlepas dari masyarakatnya, maka tunggulah waktunya tiba (kehancuran).

Di sinilah problem tentang literasi dimulai, terlebih di era banjirnya informasi digital seperti sekarang ini. Masyarakat yang malas membaca, memahami, dan mengonfirmasi data-data akan dengan mudahnya terseret arus besar hoaks, provokasi, fitnah, adu domba, dan lain sebagainya. Sehingga kebenaran sudah tidak menjadi patokan primer dalam masyarakat dengan kualitas literasi yang rendah.

Budaya Literasi dalam Sejarah Islam

Sebagai agama yang lahir dari peradaban syair yang kuat, penulis kurang sepakat atas pendapat Islam tumbuh di tengah masyarakat jahiliah yang tidak mengerti baca dan tulis. Pemaknaan jahiliah yang demikian menutupi fakta sejarah bangsa Arab pra-Islam yang sudah begitu maju dalam mengelola kehidupannya. Ini terlihat misalnya dalam tradisi tahunan di pasar Ukaz, di mana orang-orang Arab saling berlomba mempertunjukan syair-syair terbaik ciptaan mereka. Bangsa Arab menuliskannya sebelum mereka membacakannya di panggung publik. Ini memperlihatkan betapa budaya literasi sudah ada sejak sebelum kehadiran Islam.

Islam hadir bukan untuk merusak tradisi baik yang sudah ada. Justru Islam memperkuat hal-hal atau budaya masyarakat Arab yang dianggap baik. Wahyu pertama yang turun ialah perintah kepada umat Islam untuk membaca (iqra’). Permulaan literasi adalah membaca dan Islam menempatkannya menjadi perintah Tuhan kali pertama yang diperdengarkan. Bahkan Nabi Muhammad memiliki beberapa sekretaris pribadi, di antaranya yang bernama Zaid bin Tsabit yang mencatat setiap wahyu turun.

Di era Sahabat, saat kekuasaan Islam dipimpin oleh Abu Bakar, terbunuhnya para penghafal Al-Quran memunculkan polemik wacana atas kodifikasi Al-Quran. Pengumpulan tulisan ayat-ayat Al-Quran yang tercecer di pelepah kurma, kayu-kayu, dan lembaran-lembaran menunjukkan bahwa para sahabat yang hidup semasa Nabi sudah mentradisikan apa yang kita kenal kemudian hari dengan budaya literasi. Wahyu yang tersebar di beberapa media dokumentasi itulah yang membantu umat Islam hari ini memahami agamanya yang terbukukan dalam kitab suci yang telah terkodifikasi.

Selanjutnya di era tabi’in yaitu munculnya kodifikasi hadis yang diinisiasi oleh khalifah Umar bin Abdul Aziz. Di era Abbasiyah, masa di mana Islam dikatakan berada di titik puncak keemasannya, para khalifah mendasarkan kepemimpinannya pada aktivitas-aktivitas keilmuan. Berdirinya bait al-hikmah, penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani ke dalam bahasa Arab dan terakomodasinya para ilmuwan untuk mengembangkan keilmuannya menunjukan bahwa kejayaan Islam memiliki pondasi berupa budaya literasi yang kokoh.

Di saat umat Islam memunggungi aktivitas literasi (membaca, menulis, meneliti, dan memahami informasi) di situlah kemunduran Islam sedang berlangsung. Data-data di atas membuktikan betapa negara sebesar Indonesia dengan mayoritas masyarakatnya yang beragama Islam telah melakukan tindakan menjauhi aktivitas dan budaya literasi. Dan kemunduran secara sosial, ekonomi, dan politik adalah ganjaran bagi setiap bangsa yang memunggungi ilmu.

Mahasiswa Bisa Apa?

Slogan-slogan semacam agent of change, agent of control, dan agent of social sayup-sayup mulai hilang di tengah kamus perbendaharaan masyarakat kampus. Tidak hanya hilang dalam pengertian fisik, melainkan juga hilang dalam konteks makna. Mahasiswa yang diharapkan sebagai agen yang selalu mengawal dan merespons perubahan atas persoalan yang terjadi di masyarakat, justru terkena dampak persoalan yang berkembang di masyarakat.

Merosotnya tingkat budaya literasi tidak serta merta tidak memiliki kaitan apapun dengan kehidupan masyarakat kampus, termasuk di dalamnya mahasiswa. Kampus sebagai laboratorium pengetahuan dan masyarakat di dalamnya sebagai elite intelektual menjadi indikator dan representasi atas kondisi sosial masyarakat yang terjadi. Jika elite intelektualnya tidak peduli pada urusan politik, maka apalagi masyarakatnya. Pun dengan persoalan budaya literasi.

Memang saat ini, istilah literasi tidak menjadi kata yang asing untuk diperbincangkan. Semua orang, lembaga, komunitas di kampus membincangkannya. Gelaran diskusi literasi semarak di setiap program kerja lembaga mahasiswa. Tapi satu hal yang mahasiswa lupa, bahwa literasi bukan persoalan teoritik yang harus secara terus menerus dikaji. Literasi adalah persoalan budaya yang menyangkut kebiasaan dan perilaku sebuah entitas masyarakat.

Kondisi ini persis seperti kritik Gus Mus dalam sebuah pernyataannya, “ada yang sibuk memperdebatkan ibadah, hingga tak sempat ibadah.” Mahasiswa memang mulai akrab dengan wacana literasi dan segenap persoalannya tapi mereka lupa dan tidak sempat untuk melakukan dan membudayakan aktivitas literasi. Sehingga perhelatan-perhelatan yang mengkaji tentang persoalan yang timbul atas rendahnya literasi sama seperti orang yang berdebat tentang ibadah hingga tak sempat untuk beribadah.

Jadi, kalau penulis ditanya bagaimana meningkatkan budaya literasi mahasiswa, maka penulis telah menjawabnya melalui teladan para pendahulu dalam sejarah Islam. Lantas kemudian penulis akan berbalik bertanya kepada para mahasiswa beserta perangkat kelembagaannya, “supaya apa menggelar diskusi tentang budaya literasi?” []


Manajer program Syafii Institute.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel