Hujan dan Dua Orang di Bangku Taman & Sejumlah Puisi Lain

Hujan dan Dua Orang di Bangku Taman & Sejumlah Puisi Lain

HUJAN DAN DUA ORANG DI BANGKU TAMAN

Hujan yang turun adalah air,
Yang basahnya tak pernah kau duga dimana.

Aroma yang mengembang adalah aroma tanah yang sering dirindukan di puncak kemarau.

Dua orang tersenyum di bangku taman
Menikmati rindu mereka

Grobogan, 23 September 2018


SILATURAHMI

Dihadapan para penyair dan penghamba satra
Seorang penyair mulai membaca puisi
Bunyi puisinya seperti ini;

abaikan puisi-puisi saya
tak ada yang lebih penting selain bertukar sapa.

Grobogan, 5 Oktober 2018


SELINGKUH

Sore tadi, sepulang dari bekerja,
Aku melihatnya diam-diam memperhatikanku dari kisi-kisi yang sengaja dibuat untuk meniupkan angin dan bukan untuk melihatku dengan diam-diam.

Dan sesampainya dirumah, aku menerima teleponmu.
Sejak malam itu,
Cinta, kasih, sayang, dan rindu yang kau sampaikan dari jauh,
Adalah rayuan sepasang kekasih yang kosong.

Grobogan, 10 Februari 2018


BERJUANG

Dalam sisa merah mata
kelopaknya berat nian terasa.
Kepala-kepala oleng menumpahkan sisa
salinan buku semalam.

Dikejar waktu, ditumbuk kantuk.
Setiap ketukan adalah titian,
setiap uap dari mulut mereka adalah doa
untuk sebuah asa yang jaya.

Jeketro, 1 April 2019


Guru dan penikmat sastra.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel