Sebuah Usaha Menggemari

Sebuah Usaha Menggemari

Kesungguhan untuk menggemari kegiatan membaca muncul ketika kekosongan yang terjadi saat masa sekolah menengah atas kian membosankan dan rasanya ingin cepat lulus—yang segera saja disesalkan. Waktu itu, tiada hal yang pantas dilakukan untuk mengisi waktu kosong berlimpah selepas ujian. Hanya sesekali bermain bola voli, atau menonton film jika beruntung. Kantin bukan opsi yang tepat, pun tidak dimungkiri sesekali kami—saya dan kawan-kawan menghabiskan waktu di sana.

Saya tidak memulai usaha itu dengan mengunjungi perpustakaan sekolah. Percayalah, hanya ada koleksi buku sekolah elektronik di sana. Buku pertama yang saya baca sebagai usaha awal adalah kumpulan puisi Kolam milik Sapardi. Terima kasih untuk seorang teman yang sudi meminjamkannya. Lalu novel Michael Punke The Revenant yang beberapa waktu setelah terbit dialihwahanakan menjadi film. Dari situ, saya mulai mencari-cari puisi dan syair yang ada di internet. Saya menemukan haripuisi.com, lalu di salah satu platform berbalas pesan mendapati seorang penyair yang bisa saya idolakan dan telah memiliki beberapa buku puisi dan tak satu pun belum dipunya, Astrajingga Asmasubrata. Di situ, sebuah komunitas daring bernama Pecandu Sastra berada. Dalam usaha menggemari kegiatan membaca, saya bergabung.

Mari untuk tidak membicarakan ini lebih jauh. Persinggungan dengan kegiatan membaca telah terjadi jauh dari waktu kekosongan itu. Semasa sekolah dasar hingga menengah pertama, Ibu gemar membeli beberapa jilid Hidayah dalam sebulan. Kalau sedang ingin, beberapa kali saya membacanya. Hanya bagian-bagian menarik saja, seperti ilustrasi dan halaman-halaman akhir di mana pembaca memiliki kolom untuk diisi dengan cerita pengalaman gaib mereka. Sekali waktu saya berharap agar bisa menjadi yang beruntung dan mendapat sedikit uang. Saya tak punya pengalaman gaib yang menarik.

Kakek pernah berlangganan majalah berbahasa Jawa, Panjebar Semangat. Ketika berkunjung ke rumahnya, saya sesekali membuka-buka halamannya. Hanya bagian yang menarik saja, yaitu ilustrasi dan gambar wayang. Bahasa Jawa tidak menarik bagi diri kecil saya. Mungkin karena itu pula, Kakek memberikan sebuah buku kamus bahasa Jawa seukuran folio yang sepertinya ia kopi dari buku lain dan susun sendiri, lalu mendapat beberapa eksemplar majalahnya setelah Kakek wafat beberapa tahun lalu. Saya juga mendapat sepeda jengki kesayangannya.

Ketika sekolah dasar pula, Bapak pernah sekali mengajak berkunjung ke Gramedia Java Mall yang sekarang sudah tiada. Akibat dari perbuatannya, Bapak harus membelikan sebuah buku ensiklopedi masa prasejarah yang harganya lumayan. Waktu itu saya enggan meminta. Tapi apa boleh mau dikata, namanya juga anak kecil. Saya juga pernah membeli, katakanlah, versi ringkas dari mitologi Yunani dan Romawi.

Jika dilihat dari masa itu dan sebelum masa sekarang, masa sekolah menengah pertama terasa lebih mengerikan. Ada dua judul buku yang pernah saya baca berkat meminjam dari perpustakaan sekolah. Yaitu buku tentang Hitler yang mati dan dikuburkan di Indonesia dan buku tentang Erwin Rommel, salah satu kacung Hitler yang sangat berwelas asih terhadap tawanannya. Meski akhirnya mati diracun oleh tuannya sendiri. Saya tak bisa membayangkan diri saya sekarang sebagai seorang Neo-Nazi, dengan armband swastika di lengan kiri. Selain itu, saya gemar membaca artikel-artikel di sebuah situs konspirator. Ini sungguhan. Meski tak sepenuhnya yakin, situs itu memuat hampir seluruh konspirasi soal makhluk ekstraterrestrial, CIA, crop circle Sleman, flat earth, dan sebagainya. Saya membaca hampir seluruh artikel di sana, sebab keberlimpahan waktu dan keengganan untuk berbuat hal lain.

Terima kasih kepada Tuhan, tren ini tak berlanjut hingga sekarang.

Ada sebuah masa yang sepertinya menghindarkan saya dari kemalangan tersebut. Tiba-tiba saja, saat masa awal sekolah menengah atas, ketertarikan membaca beralih kepada gim daring, futsal, dan kegiatan lain yang tidak banyak melibatkan membaca. Masa ini berlangsung hingga masa sebelum kekosongan yang membosankan itu. Saya tertarik untuk bergabung dengan OSIS menengah atas, namun urung dan berbelok mengikuti organisasi rohaniwan-rohaniwati amatiran. Salah satu sebab pemicu keurungan adalah perasaan kalah keren dengan siswa lain. Namun perlu diakui, di organisasi rohaniwan-rohaniwati itu saya masih saja kalah keren.

Saya masih dengan kegemaran bermain gim, futsal, dan ditambah bermain bola voli. Tak pernah sekalipun merokok dan minum-minum air raksa macam kelakuan beberapa teman. Saya cukup lurus meski pernah berkunjung ke sebuah pub hanya untuk main PlayStation 4. Di situ, minuman paling lurus hanyalah teh lemon yang rasanya tak enak.

Lalu pengalaman-pengalaman biasa siswa sekolah menengah atas terjadi. Hingga tiba masa membosankan itu, di mana perasaan untuk membaca dengan kesungguhan muncul. Setelah merampungkan Kolam, saya meminjam dan merampungkan beberapa buku Sapardi yang lain. Lalu Melihat Api Bekerja dan Sebelum Sendiri milik Aan Mansyur dan mencoba menulis puisi setelah merampungkan Telepon Genggam dan Malam Ini Aku Tidur di Matamu milik Joko Pinurbo. Setelah usaha yang lumayan, saya sadar tak ditakdirkan sebagai penyair.

Sebab itu, saya beralih membaca dan sesekali menulis dan menerjemahkan prosa. Hingga sekarang. []

Pembaca juga sesekali-penulis-dan-penerjemah prosa. Pengampu biskuatsusu.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel