Tasawuf (Falsafi) dan Paradigma Penyelamatan terhadap Alam

Tasawuf (Falsafi) dan Paradigma Penyelamatan terhadap Alam

Dalam buku Akar Tasawuf di Nusantara karya Dr. Alwi Shihab, beliau melacak bagaimana Islam yang hadir di Nusantara ini bercorak sufistik. Aspek esoteris lebih kental dibandingkan aspek eksoteris, meskipun Prof. Azryumardi Azra menyebut dalam karyanya Jaringan Ulama Timur Tengah-Nusantara pada abad ke-17 dan 18  bahwa Islam yang berkembang di Indonesia tidak melulu bisa dikategorikan bercorak tasawuf saja, melainkan ada aspek fiqih (eksoteris) yang berkembang di periode selanjutnya dan kemudian direkonsiliasikan dengan tasawuf, beliau menyebutnya sebagai Neosufisme.

Setiap sejarawan selalu menarasikan fakta temuan dan narasinya masing-masing. Dua orang sejarawan dalam membaca sebuah fakta sejarah yang sama, akan menghasilkan narasi berbeda. Meskipun demikian, keduanya, baik Alwi Shihab dan Azyumardi Azra, memaparkan satu hal yang sama, pertarungan sengit antara tasawuf sunni (akhlaki) dan tasawuf falsafi (mistiko-filosofis).

“Pertengkaran” wacana ini sudah sering kita dengar dalam cerita dihukumnya Syekh Siti Jenar oleh Walisongo. Pertarungan ini berlanjut di Abad ke-17, di saat Hamzah Fanshuri begitu menggemari pemikiran-pemikiran Ibnu ‘Arabi dan membuat Nurudin Ar-Raniri geram hingga mengeluarkan fatwa haram dan mengejar para pengikut Hamzah Fanshuri untuk dihukum mati.

Tentu kita tidak akan membahas bagaimana “pertarungan” ini berlangsung, biarlah ini menjadi teka-teki sejarah untuk diselesaikan para intelektual Islam di Nusantara dengan melihat “pertarungan” ini secara komprehensif dan dari berbagai perspektif. Namun, sebagaimana para bijak bestari berkata, “ambilah sebuah hikmah dalam sebuah peristiwa sejarah”. Barangkali tulisan ini akan mencoba mengelaborasi bagaimana konsep tasawuf (falsafi) yang dianggap sebagai ajaran haram justru menemukan relevansinya di tengah brutalnya kekuatan kapital terhadap alam Nusantara.

Kehancuran Alam dan Tanggung Jawab Seorang Mukmin

Dalam pemahaman keislaman pada umumnya, selain sebagai abid (hamba) bagi Tuannya, manusia memiliki tugas sebagai khalifah (pengganti) bagi Tuannya untuk mengelola bumi beserta segenap urusannya. Jika abid adalah fungsi yang bersifat vertikal (manusia dengan Tuhannya), maka khalifah lebih berkaitan pada urusan horizontal (manusia dengan alam dan seisinya).

Dalam pemahaman Kristen, kehadiran manusia di bumi adalah proyek Tuhan untuk manusia, supaya membangun taman-taman sebagaimana taman Firdaus dan Eden di Surga. Baik-buruknya bumi yang kita tempati, terletak dalam bagaimana manusia mengelola dengan baik hubungannya dengan alam dan seisinya dalam proyek pembuatam taman-taman Firdaus dan Eden di bumi. Sehingga manusia benar-benar layak disebut sebagai khalifah di bumi.

Jika ini yang kita amini, maka kehancuran yang terjadi di muka bumi yang paling bertanggung jawab adalah manusia, khusunya mereka yang mengamini dan menyebut dirinya sebagai pengganti Tuhan di bumi untuk mengelola alam semesta ciptaan-Nya. Terang saja ada sebuah hadis yang kira-kira terjemahannya sebagai berikut, “ketika sesuatu diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah saatnya (kehancuran/ kiamat)”. Jika manusia sudah tidak becus (tidak ahli) mengelola dan mengatur alam, maka tentulah Isrofil segera melaksanakan tugasnya, meniupkan terompetnya untuk menandakan datangnya Hari Kehancuran (kiamat).

Ini penting dipahami oleh insan beriman di saat ekspansi kapital yang mewujud dengan topeng proyek-proyek pembangunan telah menihilkan perspektif ekologis. Bahkan, seringkali justru agama yang dijadikan legitimasi teologis untuk meruntuhkan pegunungan, mencemari sungai dan meratakan hutan. Kaum beriman memiliki tanggung jawab yang besar dalam menjaga harmonisasi alam. Tanggung jawab terhadap hal yang riil hanya akan bisa ditunaikan dengan gerakan-gerakan yang riil. Pun dengan tanggung jawab mengelola harmonisasi segala sesuatu di muka bumi.

Tasawuf (Falsafi) Sebagai Paradigma Alternatif

Konsep Tasawuf yang telah ditenggelamkan dan dicurigai sebagai “barang haram” ini, setidaknya menurut saya, patut diketengahkan kembali melihat kondisi realitas alam di Nusantara. Pencerahan yang melanda dunia barat memiliki radiasi hingga ke negara Indonesia. Cara pandang yang meletakkan manusia sebagai pusat dan inti kehidupan (antroposentrisme) mempengaruhi “khalifah” dalam memandang alam sekitarnya.

Apapun, jika itu menguntungkan secara ekonomis untuk kepentingan dan kebutuhan manusia, meskipun sebenarnya yang berkepentingan adalah segelintir elit, maka diperbolehkan. Sekalipun itu harus menggerus ruang hidup masyarakat miskin, mengusir secara paksa masyarakat adat hingga meninggalkan lubang kematian bekas tambang. kira-kira begitu cara pandang yang digunakan untuk mengesahkan sederet perusakan-perusakan yang terjadi. Ditambah lagi, dengan mitos kesejahteraan sosial untuk masyarakat. Bagaimanapun jika ini diabaikan sebagai tugas utama manusia mengelola alam, maka detik demi detik dosa kita semakin menumpuk dan jalan menuju kehancuran semakin dekat.

Ungkapan-ungkapan seperti manunggaling kawula gusti dan Ana Al-Haqq adalah contoh betapa konsep wahdatul wujud meniscayakan satu hal yang tersisa, yaitu Tuhan. Setiap mata memandang di sanalah hanya ada Tuhan. Bahwa setiap makhluk, termasuk manusia memiliki potensi-potensi yang sebenarnya sudah ditiupkan dari Ruh Tuhan. Artinya, dalam pandangan tasawuf falsafi, alam adalah pancaran cahaya Ilahiyah.

Dalam puncak hakikat, hanya ada satu wujud yang hakiki, yakni Allah. Pada dasarnya, semua yang ada di bumi ialah bayangan dari Tuhan. Semuanya semu, Yang Hakiki hanya Allah. Setiap segala sesuatu ada bagian yang tidak terpisahkan dari aspek Ketuhanan. “aku melihat Tuhan di dalam dirimu” kata Shah Ruk Khan di dalam film Rab Ne Bana De Jodhi untuk menjelaskan tahap mahabbah sedang mencapai puncaknya.

Cara pandang yang demikian tentulah sangat relevan digunakan dalam mengelola alam yang terhampar di muka bumi. Prinsipnya, bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi adalah hasil pengejawantahan aspek ketuhanan yang kemudian tidak boleh diabaikan. Seseorang akan mengurungkan niat dan perilakunya saat mencemari sungai dengan pertimbangan bahwa di dalam penciptaan sungai terdapat aspek ketuhanan yang terkandung di dalamnya. Sehingga pilihannya adalah mengotori sungai atau menjaga kesucian Tuhan yang mewujud dalam setiap aliran air sungai.

Seseorang akan segan menebang pohon jika di depan matanya yang nampak adalah Tuhan. Seseorang akan enggan menggusur lahan pertanian warga kecil jika di wajah para petani dan luasnya lahan terhampar wujud Tuhan, dan begitu seterusnya. Tentu bukan hal yang mudah mencapai maqom ini, di sinilah peran penting tasawuf (falsafi) dalam menjawab persoalan masyarakat kekinian.

Bahwa justru tujuan akhir dari perjalanan salik ialah menghilangkan kedirian hingga yang nampak hanyalah Tuhan. Bukan terus memupuk hawa nafsu, apalagi nafsu untuk menguasai, mengeksploitasi dan bahkan merusak alam secara brutal hanya untuk kepentingan kapital. Para ulama telah memberikan teladan, bagaimana pemberontakan dan perlawanan justru lahir dari basis-basis tarekat yang berisi para salik yang sedang meleburkan dirinya ke dalam perjumpaan yang hakiki dengan Tuhannya.

Sebelum datang kehancuran, mari menyatu dengan Tuhan (yang berada di balik pegunungan, sungai, laut, hutan dan seluruh ciptaan). []

Manajer program Syafii Institute.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel