Asal Mula Nama dan Puisi-Puisi Lainnya

Asal Mula Nama dan Puisi-Puisi Lainnya

Kaki Nenekku

Kaki nenekku mencatat perjalanan yang memakan waktu
Terkadang retak seperti tanah di musim kemarau
Terkadang empuk seperti roti terendam air hujan.

Tanah yang terbawa di antara retakan kaki
Mengingatkannya untuk terus kembali
Aroma tanah menjadi arah
Perjalanan pulang menuju rumah.

Cucu-cucu mereka yang ingin pergi,
dulu begitu mudah meninggalkan kota ini,
tapi sekarang begitu sulit untuk kembali.

Barangkali, tak ada lagi tanah yang terbawa
di antara kaki-kaki bersepatu
dan jalanan yang kehilangan debu.

Yogyakarta, 2019



Kota yang Minta Dilupakan

Mbok yo lali!
Mbok yo lali!

Suara itu terus ada di kepala
Setiap kaki berjalan pulang ke kota.

Aku rasa, kota ini gampang berubah
dan semakin bising
Membuatku terus-menerus pangling
dan merasa asing.

Seolah aku sudah meninggalkannya begitu lama
Padahal hanya semalam atau satu kali pejam mata.

Mbok yo lali!
Mbok yo lali!

Barangkali kota ini memang untuk dilupakan
Sebagaimana asal mula namanya.
Tapi sungguh, tak bisa kulupakan
Sebab tak ada ingatan
yang benar-benar kukenal dan kukenang.

Boyolali, 2019



Takdir bagi Anak-Anak Kami

Anak laki-laki dilahirkan sebagai penempa
dan pengukir tembaga
Anak perempuan diajari menjahit dan menghitung
untuk menjadi buruh pabrik atau penjaga toko.

Cita-cita hanya seperti lempengan tembaga
yang ditempa dan diukir untuk menghias tempat lain
Atau seperti lembaran kain yang dijahit dengan mesin,
tapi tak pernah dipakai sendiri
Juga seperti dagangan di toko yang dijajakan,
bukan dinikmati sendiri.

Sebab bagi kami
Inilah takdir yang mesti dijalani,
Orangtua bekerja untuk mencarikan biaya
Belajar anak-anaknya.
Anak-anak belajar untuk mengerti cara bekerja
dan berbakti kepada orangtuanya.

Boyolali, 2019



Perihal Hujan

Masa lalu berjatuhan di halaman
Engkau menampungnya dengan ember di tritisan
untuk mengisi ulang bejana ingatan.

Anak-anakmu memetik daun, menjadikannya perahu harapan
Lalu menghayutkannya di alir selokan.
Penuh tawa, anak-anakmu menyoraki harapan-harapannya
Orang bilang, tuhan maha mendengar
tapi anak-anakmu tetap setia
Teriak begitu rupa.

Biasanya, hujan begini tuhan menjatuhkan namamu
Tepat di atas kepala dan dentingnya menggema
di ruang tunggu dalam dada.

Tapi tidak untuk hari ini
Hujan terasa begitu sunyi
Barangkali tuhan sudah lupa namamu
Atau tuhan tahu, diam-diam aku melupakanmu.

Boyolali, 2019



Asal Mula Nama

Kelak, setiap orang akan bertanya
perihal nama-nama
yang disematkan pada setiap benda.
Sebab setiap kali menciptakan,
orang-orang merasa bosan.
Setiap kali meninggalkan,
orang-orang merasa perlu mengenang.

Kelak, ketika anak-anak bertanya perihal desa ini
Setiap orangtua akan bercerita perihal hantu dan api.

“Dulu tempat ini hanyalah belantara,
Tempat mayat dibakar dan moksa.
Api pembakarannya menyala-nyala
Menjadi hantu yang tinggal di kepala.

“Lalu kami menyebutnya Tumang,
Hantu Kemamang.”

Tapi hari ini anak-anak seolah lupa cara bertanya
Seolah lupa cara membaca
Sebab baginya, apalah arti sebuah nama.

Boyolali, 2019



Permohonan

Jalanan yang merindukan kaki,
Akhirnya kita setapaki lagi.
Bagaimana pun, semuanya sudah berbeda
Usiamu merimbun, sedang nasibmu gugur diterpa angin
Berserakan di batu yang dingin.

Aku di belakangmu
Mencoba memungutnya satu persatu
Memanggulnya di punggung waktu
Membawanya pulang dan mengubahnya menjadi batu
yang kutata menjadi rumah di hari tuamu.

Ibu, anak yang pernah kauizinkan
Berjalan di telapak tanganmu
Izinkanlah menjadi jalan
yang kausetapaki di hari tuamu.

Boyolali, 2019



Kunjungan
: Rahmawati Addas

Di Prambanan, akulah batu-batu yang menyambutmu
dengan segenap masa lalu
Tubuhku terbuka begitu saja, sedia untuk kaubaca.

Dalam tubuh batuku, mungkin kautemui retakan-retakan
Atau celah-celah kecil dari susunan berantakan
Itulah nasib yang sedang kuupayakan.

Dalam tubuh batuku, terpahat cerita-cerita
yang tak akan selesai kaubaca
sekali kunjungan saja.

Maka datanglah pada musim hujan berikutnya
Bawalah kemaraumu yang panjang selepas perpisahan
dan pertemuan kita, tubuh-tubuh basah oleh ingatan.

Barangkali, kaulah Rara Jonggrang itu
yang kemudian menjadi batu
Menggenapi keganjilan tubuhku.

Yogyakarta, 2018



Cerita Ibu

Masih kuingat ceritamu, tentang pohon
dan ranting-ranting
bercabang dan patah pada saatnya
sebab usia atau angin atau lain
yang dianggap bencana

"Perjalanan kita akan berliku,
mungkin buntu, dan berakhir kaku.
Masihkah kau mau menemaniku,
menemui akhir yang jelas tentu?"

Kita masih bersama
meski jauh dan tapakmu entah sampai mana
selalu kurasai, adamu dalam diri
dalam hati.

Boyolali, 2015


Lahir 15 Desember 1995 di Boyolali. Lulus dari Sastra Indonesia UNY. Meraih juara pertama penulisan puisi Peksiminas XIII di Kendari, Sulawesi Tenggara (2016). Buku puisinya bersama Shodiq Sudarti, Dongeng Suatu Zaman dan Riwayat yang Terlupa (Quark Books, 2018).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel