Aku Sedang Memeluk Buku-Buku

Aku Sedang Memeluk Buku-Buku

Aku kanak-kanak berumur sekitar sebelas tahun sedang membaca buku tentang kisah Walisongo di gudang penyimpanan padi. Letak gudang berada di ruangan paling belakang rumah yang depannya adalah pawon dan peralatan-peralatan dapur lain. Beralaskan tanah dan bersandar di karung-karung bertumpuk berisi padi, aku membaca buku yang baru kutemukan tergeletak dan seperti terabaikan bertahun-tahun di lantai tanah dengan penuh rasa ingin tahu. Sebab membaca kisah itu, aku melupakan sesuatu yang sedang kucari sebelumnya. Waktu itu siang, dan azan berkumandang. Tetapi aku tetap tinggal di gudang. Setelah azan usai berkumandang, aku dipanggil ibu. Panggilan ibu tidak kuhiraukan. Aku tetap membaca hingga sekitaran tiga atau empat kisah wali. Setelah kisah terakhir dari sekitaran tiga atau empat kisah wali, aku berhenti membaca. Sebab panggilan ibu mulai mengeras. Tentu aku tidak ingin ada yang melayang atau dianggap anak durhaka karena tidak memenuhi panggilan ibu. 

Aku bergegas sembari membawa buku hasil temuanku. Buku yang sudah dimakan rayap bagian bawahnya dan debu sudah demikian tebal melingkupinya. Aku membawanya dengan riang gembira. Sebelum menemui ibu, aku menaruh buku itu di kamar di atas sebuah almari kecil berwarna biru laut tempatku menaruh buku. Aku riang gembira, ditambah buku temuan baruku, sekarang aku memiliki dua buku. Buku itu bersanding dengan buku yang sudah dibelikan oleh Ibu tempo hari, buku tentang legenda-legenda di Indonesia. 

Aku meminta dibelikan buku legenda, hanya ingin berlagak seperti anak-anak yang kutonton di televisi. Anak-anak perkotaan yang dibacakan dongeng oleh orang tua mereka sebelum tidur di ranjang mewah dengan lampu terang. Nasib baik, hal itu tidak terjadi. Aku lebih suka membacanya sendiri. Aku membaca tidak bergantung waktu. Kadang siang setelah pulang sekolah, kadang sore sebelum pergi ke madrasah diniyah, kadang malam setelah mengaji. Jika siang dan sore cahaya terang masuk ke kamar, mataku bisa membaca dengan leluasa. Jika malam, aku akan membaca dibantu dengan bohlam kecil sinar kuning—aku lupa ukuran berapa, mungkin saja lima watt. Bagaimanapun juga, buku tentang legenda-legenda di Indonesia adalah buku favoritku. Aku sudah membaca berulang-ulang. Pertama, mungkin karena aku menyukainya. Kedua, karena mungkin tidak ada bacaan lain, selain buku pelajaran, kitab dan—sekarang ditambah—buku temuan itu. Tak heran, bagiku temuan buku tentang kisah Walisongo adalah hal yang menggembirakan.

Semasa kelas enam sekolah dasar, aku bersyukur, buku koleksiku sudah bertambah. Tidak hanya dua saja. Aku ingat, bertambahnya koleksi, adalah hasil beli dan selebihnya tidak diketahui asal muasalnya. Buku yang hasil beli, kubeli sewaktu ada bazar buku di sekolah. Aku mendaftar, semasa ini buku koleksiku adalah Ya’juj Ma’juj, Kisah Nabi Zakaria dan Yahya, Kisah Walisongo, Legenda-legenda di Indonesia, RPUL, ATLAS, Alkisah dan Alhidayah. Aku menyukai koleksi-koleksi itu. Kadang aku akan menaruhnya di atas ranjang tepat di pinggir bantal. Aku akan melihat-lihat dan sesekali membaca beberapa sebelum tidur. Pada waktu itu, aku beranggapan, aku sedang memeluk buku-buku.

Sudah tiga tahun di tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs)—setingkat dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP), tetapi koleksi bukuku tidak bertambah. Bahkan, aku sudah mulai mengabaikan dan melupakannya. Barangkali karena di MTs, aku mulai menggemari olahraga voli, sering dolan, sering keluar malam cari belut di sawah, nongkrong di lapangan sepak bola malam-malam sambil bakar-bakar, menggoda cewek-cewek, yang-yangan dan lebih sering membaca LKS-LKS—setelah kuketahui, untuk menjadi juara satu itu mudah, tinggal mengahafal pelajaran di materi LKS.

Minat membeli dan membaca buku tumbuh kembali sewaktu aku melanjutkan sekolah di Kajen. Keadaan perekonomian sudah semakin membaik. Tidak seperti masa-masa sekolah dasar, yang sedikit-banyak kusesali, mengapa aku hanya membeli buku sewaktu bazar saja? yang kemudian tidak kusesali lagi setelah kuketahui, Indonesia sedang krisis, uang lebih baik untuk kebutuhan makan daripada beli buku. Dengan bersekolah di Kajen, aku bisa menabung untuk membeli buku. Meski setelah kuingat-ingat, selama dua tahun, aku hanya membeli satu buku, Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu karya Agus Sunyoto—aku sudah lupa isinya.

Selain membeli, aku sesekali meminjam di perpustakaan sekolah—yang payahnya baru kuketahui dan aku baru berani masuk ruang perpustakaan setelah dua tahun berada di sekolah itu. Buku yang paling kuingat hasil pinjam di perpustakaan sekolah adalah Semesta Sabda karya Fauz Noor. Ingatan tentang buku ini sangat kuat sekali, karena mungkin saja tersebab membaca buku ini, otakku panas dan aku jatuh sakit. Padahal baru membaca beberapa lembar saja. Sewaktu sakit, aku bertekad menyelesaikan membaca buku ini jika sudah sembuh. Setelah sebelumnya mangkrak dan tidak kuat kulanjutkan, dengan semangat ’45—setelah  kesembuhanku—akhirnya  aku menyelesaikannya.

Di akhir masa sekolah, aku meminta uang tambahan. Aku ingin membeli beberapa buku, karena waktu itu bertepatan ada bazar yang diadakan oleh organisasi siswa sekolah.  Senyum merekah, permintaan dikabulkan. Aku membeli beberapa buku. Aku sudah membayangkan, di rumah koleksi buku akan bertambah. Kelak, karena tidak memiliki rak buku, buku koleksiku baik berupa kitab maupun buku bacaan, kusimpan di almari. Setelah kutinggalkan untuk kuliah di Semarang, buku-buku itu dimakan oleh rayap. Beberapa terselamatkan, beberapa harus direlakan. 

Kesukaan pada buku berlanjut hingga kuliah
Sewaktu pengenalan akademik kampus di stan Kelompok Studi Mahasiswa Walisongo (KSMW), seorang mahasiswa bertanya—karena sebelumnya sudah bertanya dari mana asalku—apakah aku mengenal Pramoedya Ananta Toer (PAT). Aku diam dan mengingat-ingat. Setelah beberapa lama, aku mengatakan tidak tahu. Dan ia mengatakan, PAT adalah penulis dari Blora. Dalam benakku, Blora daerah dekat Rembang, ternyata ada penulisnya. Kalau begitu aku orang Rembang dan bisa jadi penulis juga. Mulai dari sini, aku mencari-cari buku PAT.

Sekitar semester dua, tersebab diajak teman membeli buku, aku pergi bersama ke toko buku. Awalnya di Gramedia Balaikota, setelah bolak-balik mengitari rak-rak buku, tidak ada harga yang pas di kantong—meskipun ketika itu aku membeli buku juga—biografi Mahatma Gandhi—yang harganya sedikit terjangkau. Kami kemudian pindah ke Stadion Diponegoro. Di Stadion Diponegoro, aku membeli beberapa buku: ada yang bekasan dan ada yang bajakan. Pikirku, lumayan murah dibandingkan beli di Gramedia. Setelah beberapa lama—semester banyak—aku  baru mengerti, pembelian buku bajakan sama saja dengan tindakan kriminal. Karena buku bajakan bisa merugikan penulis atau kreator-kreator buku. Aku lalu berusaha untuk membeli buku-buku yang original, demi menghormati para penulis dan kreator-kreatornya.

Lambat laun, buku-buku mulai terkumpul. Beberapa hasil pemberian, hasil pembelian dan beberapa dicuri, dipinjam teman tidak kembali dan beberapa mencuri di perpustakaan. Meski hanya beberapa, kepemilikan buku itu juga memaksaku untuk memiliki tempat tinggal. Selama enam semester, aku mahasiswa nomaden,—tidak punya tempat tinggal tetap—dari mulai sekretariat LPM, sekretariat PMII, hingga numpang indekos teman. Terpaksa, buku-buku kutitipkan di indekos teman-teman yang rela kutumpangi dan kuambil space untuk tempat buku secara cuma-cuma. Setelah semester bertambah, aku tidak ingin melakukan itu lagi. Aku ingin sekamar bersama buku-buku. Aku ngin bernostalgia  dengan masa kanak-kanak dulu—yang memeluk dan membaca buku di sebelah bantal.

Tanpa melupakan, jejak ingatan buku sewaktu kanak-kanak—sulit mendapatkan buku. Aku tidak ingin hal itu dirasakan juga oleh anak-anak lain. Oleh sebab itu, aku ingin mempunyai perpustakaan di rumah sendiri, yang kubebaskan untuk dibaca oleh siapapun dan kapanpun. Dan sampai sekarang—sampai tulisan ini selesai, aku masih menjaga nyala itu. []


Membaca dengan riang. Menulis dengan gembira. Sila mampir ke rumahnya di raungruangriang.blogspot.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel