Di Rumah Perawan Terdengar Sinisme Akan Hidup

Di Rumah Perawan Terdengar Sinisme Akan Hidup

Saat menonton film The Old Man and The Gun, kau akan semringah, senyum-senyum sendiri. Ada seorang tua, melaju dengan sedan tua menemukan cinta di tepi jalan. Merayu wanita dengan berlagak ala perampok dan mengatakan, “Sungguh aku sangat suka padamu, nona, jadi mohon serahkan, saya sungguh tidak ingin nona terluka, sungguh.” Seketika masa tua tidak meyeramkan seperti yang saya bayangkan.

Angan-angan seketika runtuh saat membaca Yasunari Kawabata dalam Rumah Perawan-nya, bahwa menjadi tua juga menyeramkan, renta, kesepian, dan tentu pelir yang tidak aktif lagi. Kemudian mempertimbangkan, saya tidak ingin terjerembab, tapi kenyataan berkata lain. Saya membaca dengan sangat lambat Kawabata dan lambat pula dalam memahami.

Kawabata banyak membuat simbol tentang tubuh, ombak, maupun ruangan untuk berbicara secara psikologis seperti halnya haiku. Penggunaan simbol-simbol ini bahkan bagi Eka Kurniawan telah memberi “kesan yang paling kuat setiap membaca karya-karyanya adalah keterpesonannya kepada benda-benda alamiah maupun ciptaan, dan membawa benda-benda itu sebagai pesan bagi perasaan-perasaan yang tak terkatakan.”

Sebab itu, simbol menjadi bagian nyentrik dari pendekatakan Kawabata, terutama ketelanjangan tubuh. Terasa kesan estetik terletak di titik tersebut. Ada pula bagian karya sastra Jepang jauh dari kritik akan kelas, ketimpangan, dan masalah urban lain karena penyimbolan.

Namun Rumah Perawan sebagai salah satu novel Kawabata lebih sekadar itu, mencoba mendekati kritik melalui ketelanjangan sebagai pintu utama. Kisah ini dilimpahkan pada tokoh Eguci tua yang ingin menikmati masa tua dalam kepuasan jasmaniah. Menghabiskan malam-malamnya bersama para perempuan yang tidur sembari menunggu ajal. Mati di pelukan wanita muda dan masih perawan adalah kebahagian bagi lelaki seumuran Eguci tua. “Rasanya sudah lama sekali berlalu semenjak aku kehilangan harapan pada setiap perempuan terakhir, ada sebuah rumah di mana gadis-gadis ditidurkan dan mereka tidak bisa bangun,” ingat Eguci saat Koga memberikan informasi tentang rumah perawan.

Perawan-perawan itu ditidurkan dengan pil penidur, hingga ia menjadi pulas seolah buddha tidur. Para perawan dalam keadaan telanjang dan Eguci hanya cukup berbaring di sampingnya tanpa melakukan apapun. Bahkan ia tidak boleh memasukkan jarinya ke mulut gadis yang tidur itu, atau mencoba melakukan apa saja yang serupa itu.

Pencarian kebahagian berbalik, menjadi bagian menakutkan tentang kematian. Kawabata berbicara tentang kematian terasa liris, dengan bercerita tentang para perawan yang sedang tertidur bersama Eguci adalah petaka itu sendiri. Ingatan masa tuanya melarikannya pada kenangan akan wanita manis, sendu, dan tegar yang telah mengisi ranjang masa mudanya, melintas begitu saja, dan jiwa kebocahan pada Eguci merengek, “buruk bukan karena perawakan perempuan-perempuan itu, tapi tragedi mereka, tragedi mereka yang kusut.”

Lalu berbekal itu, Kawabata berbicara nafsu jasmaniah dengan memukulnya dengan ironi ajal di belakang. Barangkali dengan begitu terasa sinisme dari Kawabata tentang hidup. Bahwa hidup manusia merupakan hutang dan harus terbayar lunas atau hidup bagian dari rasa dosa yang dingin. Hal tersebut ditunjukkan dengan si tokoh Eguci mengenang kembali beberapa wanita yang sempat mengisi hidupnya sebagai simbol yang tepat. Ada rasa bersalah bahkan dosa tentang kenangan-kenangan Eguci, hingga pada akhirnya berucap, “dalam umurnya sekarang, ia tidak ingin menambah episode yang seperti itu lagi dalam hidupnya.”

Sebagai contoh, hubungannya dengan seorang wanita yang bersuami menjadi salah satu episode hidup Eguci yang harus terbayar. Wanita itu telah melakukan apapun untuk Eguci, bahkan meninggalkan anak-anaknya pada seorang pengasuh hanya untuk bercinta. Namun, setelah wanita itu jatuh cinta padanya, ia menolak melalui pertimbangan: “sebagai ibu dari tiga anak, apa ia masih punya badan seperti yang dimiliki perempuan yang tak punya anak sama sekali?”
Fragmen dari episode hidup Eguci tua terus berganti sesuai dengan bergantinya para perawan yang ia tiduri saban malam. Para perawan telah menunjukkan kisah manis-pahit di waktu remaja, sekaligus menghadirkan kesepian akan masa tua yang kian bulat.

Pada puncaknya ketika salah satu perawan meninggal, ketika Eguci tidur dengannya. Rasa sinisme juga tragis yang gelap terbayang dan menebal dalam hidup Eguci. Sekarang ia berdiri sebagai seorang tua dengan ajal yang menakutkan, tak ada lagi kematian yang manis. Kematian yang dibayangkan sebagai kebahagian berbalik menjadi bagian paling menakutkan pada episode hidup Eguci. Dan simbolisme lagi-lagi berdiri dalam sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Simbolisme Kawabata berdiri layaknya tokoh Thomas Wolfe dalam film Genius dan Soe Hok Gie di film Gie ketika menatap pantai, dan maut adalah sesuatu yang luas dan tak terkira dan kemudian datang dengan segala penyesalan.

Simbolisme lain Kawabata dalam Rumah Perawan tegak sebagai bentuk penjelajahan akan tubuh membentuk kritik tajam perihal hasrat manusia, yang telah menciptakan petaka, seperti halnya ekspektasi tentang kematian. Di mana hasrat hadir sebagai ekploitasi pada wanita-wanita pulas; “Rumah ini adalah rumah yang dikunjungi oleh lelaki tua yang tidak lagi dapat mempergunakan perempuan sebagai perempuan,” dan menjadikannya boneka dalam pembiusan.

Kritik tersebut menyasar pada hasrat yang membuncah sebagai pertanyaan eksistensialis dalam kehidupan itu sendiri. Simbolisme kemudian menghadirkan lebih banyak kegamangan dalam membaca segala kritik terhadap kehidupan di sekitar Kawabata, yang banyak terjadi ekploitasi pada wanita. Seperti halnya ungkapan perempuan itu menetap padanya sedangkan di bibirnya terbanyang senyuman yang ada dan tiada. Dua sisi kesan tersebut melekat pada Kawabata, selalu tak pernah menjelaskan apapun. Tapi hidup tetap berjalan dalam sinisme dan tragedinya, ada hasrat tua dan ada boneka di dalamnya. []


Judul
Rumah Perawan
Penulis
Yasunari Kawabata
Penerjemah
Asrul Sani
Penerbit
Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal
122 halaman
Tahun Terbit
2016

Pengrajin prosa dan puisi. Gemar membaca sastra Jepun. Pengurus azizafifi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel