Bagaimana Saya Membaca?

Bagaimana Saya Membaca?

/1/
Setelah membaca tutorial membacameskipun sekilas dan tidak ingin menyelesaikan, saya jadi teringat sewaktu masih sekolah di SMP. Di mata pelajaran bahasa Indonesia, saya mendapatkan materi cara membaca efektif dan cepat dan sebutan lainnya yang sudah terlupakan. Ingatan saya hanya pada sekitaran judul materinya sajayang itu juga entah, bukan isi materi. Sekitaran ini maksudnya adalah waktu itu saya mempertanyakan, belajar cara membaca biar apa? Sejak SD saya sudah bisa membaca kata, kalimat, dan paragraf (tidak buta huruf). Bagi saya itu sudah selesai dan cukup. Mengapa harus belajar cara membaca? Jadi materi pula.

Hal ini sama juga dengan ketidakmengertian saya pada sebuah tutorial membaca yang tidak selesai kubaca itu. Dunia ini sepertinya penuh dengan berbagai macam tutorial. Saya bisa mendaftarnya melalui kegiatan sehari-hari: sejak dari bangun tidur, hingga tidur kembali.

Tutorial bangun tidur. Tutorial salat. Tutorial mandi. Tutorial menggunakan sabun. Tutorial menggunakan sikat. Tutorial menggunakan sampo. Tutorial keluar-masuk kamar mandi. Tutorial memakai baju. Tutorial beli makan. Tutorial makan. Tutorial minum dan seterusnya hingga tutorial tidur (Jokpin membuat ini, Buku Latihan Tidur, silakan baca dan tersenyumlah).

Betapa dunia ini penuh dengan berbagai macam tutorial. Bagi saya, dunia tutorial menunjukkan sesuatu: pengguna diyakini belum bisa menggunakan sesuatu itu dengan baik sesuai dengan perspektif yang membuat tutorial. Untuk itu, diperlukan sebuah tutorial. Sungguh terlalu, kata Haji Roma. Apakah semuanya harus ada panduannya? Jika iya, berarti semua manusia tidak tahu apa-apa.

Perihal panduan, saya tidak masalah jika salat dibuatkan panduan (buku yang sudah cetak ratusan kali: Risalah Tuntunan Shalat Lengkap). Tapi jika panduan membaca (bukan yang baru belajar membaca kata, kalimat, paragraf: buta huruf)? Bagi saya itu sangat koersif sekali. Apalagi dengan kalimat seoptimis ini:

Setelah membaca dan mempraktekkan ini, dijamin lebih tetap-ingat buku-buku yang kamu baca. (Kamu bisa membaca artikelnya di sini dan di sini)

Membaca kalimat itu setelah judul, saya ingin menikah saja. Oh, bukan, ingin berhenti membaca (saya tidak tertarik sama sekali). Karena sejak kalimat pembuka sudah sebegitu percaya diri sekali, seperti pengobral agama yang itu-itu: kamu akan masuk surga jika kamu beli ini dan itu. Hadeh. Ungkapan kalimat pembuka yang saya kutip di atas, bila dipelesetkan akan seperti ini mungkin: "ini cara membaca yang menjaminmu masuk surga."

Membacayang bagi saya adalah urusan privatternyata juga dicampuri oleh orang lain. Demi sebuah 'niat baik' agar orang-orang bisa membaca dengan baik seperti si pembuat tutorial. Alangkah pelik dunia ini, jika membaca saja harus didikte. Meskipun tulisan yang saya baca tidak mengharuskan (baca: memaksa), akan tetapi kalimat pertama seperti mencoba memaksa dengan cara lain: kalau mau membaca baik, bacalah panduan ini. Alamak!

Bagi saya, perkara membaca adalah sebuah kemerdekaan pribadi dan sesuatu yang sederhana, jangan direcoki dengan panduan luar biasa itu. Saya jadi membayangkan, bagaimana misalnya nanti, panduan ini diajarkan di sekolah. Lebih-lebih diwajibkan kepada siswanya. Alangkah susahnya menjadi merdeka, sampai aktivitas untuk beroleh kemerdekaan saja sudah dirampas oleh dunia panduan.

Bahkan seorang Virginia Woolf saja dalam esainya berjudul How Should One Read a Book? ia memulainya dengan sebuah rambu-rambu bahwa tanda pertanyaan dalam akhir judulnya mungkin jawabannya hanya berhasil untuknya saja, tidak untuk pembaca. Maka, "Each must decide the question for himself."

Lalu apa nasihat terbaik bagi pembaca? Virginia Woolf menuliskan, "the only advice, indeed, that one person can give another about reading is to take no advice, to follow your own instinct, to use your own reason, to come to your own conclusions."

Maka, seperti Virginia Woolf, tulisan ini tidak ingin menghadirkan panduan semacam tulisan panduan membaca di atas. Tulisan ini hanya akan menceritakan, bagaimana saya membaca. Saya tidak ingin mendikte atau memberi iming-iming atau mewajibkan pembaca untuk mengikuti. Karena saya yakin setiap manusia punya cara masing-masing dalam membaca.

Juga karena Virginia Wolf menuliskan, "to admite authorities, however heavily furred and gowned, into our libraries and let them tell us how to read, what to read, what value to place upon what we read, is to destroy the spirit of freedom which is the breath of those sanctuaries.

Sebelum menceritakan bagaimana saya membaca, saya akan menjawab terlebih dahulu pertanyaan: mengapa kita semua harus membaca? Pembaca sekalian bisa menentukan jawabannya sendiri-sendiri.Di sini kalimat "kita semua harus membaca" beroleh gaungnya, sesuai dengan jawaban masing-masing dari kita.

Sedangkan jawaban saya yaitu: karena membaca selayaknya pintu rumah. Setelah membuka dan masuk ke dalam, kita akan mengerti sesuatu. Membaca adalah pengantar tidur saya. Membaca adalah sebuah perjalanan saya. Membaca adalah pencair es batu di kepala saya dan seterusnya dan seterusnya.

Sekali waktu, seorang pernah bertanya, "membaca di situ membaca apa?" Saya jawab apa saja, baik teks maupun nonteks, termasuk membaca kamu. Aih. Objek bacaan adalah semuanya. Ini sama halnya dengan perintah Tuhan kepada nabi Muhammad saw: bacalah! Nabi tidak hanya membaca teks saja, ia membaca semuanya. (Tapi tulisan—Bagaimana Saya Membaca?ini lebih kepada membaca buku).

Setelah kita ketahui tentang betapa pentingnya membaca, saya akan melanjutkan dengan menuliskan bagaimana saya membacajangan dianggap ini panduan, ya! Sebelumnya, ada hal yang perlu diingat pembaca yang baik hati: karena saya tidak mempunyai prestasi apa-apa di bidang membaca dan menulis, sebuah catatan bagaimana saya membaca ini tidak perlu dirisaukan. Saya tidak akan membuat suatu ultimatum jaminan bahwa dengan mengikuti bagaimana saya membaca, kamu bakal beroleh sesuatu. Sama sekali tidak.

Kalau sudah diingat dan dipahami. Beginilah saya membaca: pertama sekali, saya harus pegang tangan pacar—Oh, lupa. 'Kan tidak punya!—buku maksudnya. Lalu melihat-lihat sampul depan dan belakang. Membukanya. Mulai membaca. Selesai.

Selesai membaca, saya tidak harus mengingat-ingat isinya. Cukup memahami sesuatu. Jika sekali waktu, kebetulan ingat; ini bagus, jika tidak ingat; itu tidak masalah. Membaca bagi saya adalah aktivitas yang merdeka. Saya tidak merasa terbebani jika tidak mengingat sesuatu dari buku yang sudah dibaca. Bahkan tidak harus juga meresensi setelahnya (biar saja dianggap konsumtif). Membaca adalah sebuah kemerdekaan bukan pemberat pancingEh, pemberat pikiran!

Itulah bagaimana saya membaca. Sedari awal saya sudah mengingatkan: jangan dirisaukan. Jika pembaca risau, saya akan risau. Lepaskan saja. Ha-ha-ha.

/2/
Pembuat panduan membaca yang budiman!

Sebuah panduan membacajika berkeinginan sekali membuat sebuah panduanharusnya hanya merumuskan tentang tujuan yang ingin dicapai dalam membaca saja. Misalnya tujuan membaca adalah tentang meraih kemerdekaan. Cukup itu saja. Bila sudah diketahui tujuannya (meraih kemerdekaan), setiap manusia memiliki cara sendiri-sendiri untuk meraih kemerdekaannya. Bahkan, tujuan itu juga bisa berubah-ubah. Misalnya, membaca adalah tentang mengisi waktu luang atau mengingat-ingat sesuatu, maka pasti juga pembaca memiliki caranya sendiri-sendiri. Tanpa perlu didikte dan dipastikan, apalagi dikasih jaminan omong kosongjaminan ya singkong dong.

Begitulah seharusnya panduan membaca. Karena bagi saya, membaca adalah kesunyian masing-masing. Selayaknya wisuda, cinta, dan mati. []

Tambak Aji, 05 Januari 2020

Membaca dengan riang. Menulis dengan gembira. Sila mampir ke rumahnya di raungruangriang.blogspot.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel