Bukan Deru Tangis Burisrawa

Bukan Deru Tangis Burisrawa

1.
Sejak berkeinginan menonton pementasan teater, saya sudah bersiap diri untuk dikuasai penuh oleh ruang pementasan. Saya membayangkan akan dilibatkan dengan emosi-emosi tokohnya. Tapi, malam itu saya salah, ruang pementasan begitu hambar. Saya masih berkuasa penuh terhadap diri saya. Emosi saya biasa-biasa saja, tidak ada empati yang tumbuh. Saya tidak ada keterikatan dengan pementasan sama sekali. Juga tidak ada keterikatan dengan tokoh-tokoh. Dan alur cerita sama sekali tidak terngiang-ngiang di kepala. Inilah yang saya rasakan ketika menonton pementasan teater dengan judul Deru Tangis Burisrawa. Sepanjang pementasan (dalam tempo yang lambat dan sangat membosankan) saya ingin berhenti menontonnya. Tapi saya penasaran, mengapa disajikan semacam ini.

Setelah pementasan usai. Penulis naskah mengatakan bahwa naskah ini menyesuaikan dengan keadaan para milenial saat ini. Entahlah, mungkin ini yang diinginkan. Sajian yang cocok bagi para milenial. Melalui pementasan ini 'milenial' yang dimaksudkan seperti sesuatu yang bersifat tidak serius, tidak ada penguatan karakter, memakai kata-kata 'quotable', dan cinta-cintaan yang klise.

Dan mungkin juga karena pementasan ini adalah wayang kloning yang tidak diinginkan menyamai cerita wayang sungguhan. Tapi jika menggunakan kata 'kloning', ia seharusnya memuat beberapa unsur pewayangan. Karena dilihat dalam wikipedia, kloning dalam peristilahan biologi adalah proses menghasilkan individu-individu dari jenis yang sama (populasi) yang identik secara genetik. Namun entahlah, semuanya kembali kepada penggagas wayang kloning.

Padahal melalui kostum dan setting panggung sudah sangat baik dalam upaya menggambarkan masa lampau: Merepresentasikan masa kerajaan. Meskipun ada beberapa properti yang sangat mengganggu saya. Misalnya buku laporan yang dibawa Togog, tas berisi entah apa, piring penyajian makanan dan sebagainya, yang dicampuradukkan, antara dunia kini dengan dunia lampau. Mendapati itu, saya tidak mengerti, apa sebenarnya ide yang ingin digagas. Apakah properti-properti masa kini itu dihadirkan sebagai upaya membedakan antara wayang sungguhan dengan wayang kloning. Atau sebagai suatu dobrakan dari dunia masa kini terhadap masa lalu. Atau ini hanya karena keterbatasan dari penyelenggara untuk menyediakan properti-properti yang juga bersifat masa lampau--ini sebenarnya diakui sendiri oleh sutradaranya. Tapi bagi saya, justru sebab itu, saya tidak bisa menikmati sajian cerita, karena mata saya kemudian tertuju pada properti-properti yang tidak seirama itu. Tampak wagu dan tidak menyenangkan.

2.
Pementasan berjudul Deru Tangis Burisrawa yang disajikan ini bercerita tentang betapa besarnya cinta Burisrawa (karakter: jahat) terhadap Subadra. Karena cinta itu, ia lalu memohon pada Batari Durga (karakter: jahat) untuk membantunya mewujudkan pertemuan dengan Subadra (karakter: baik). Permintaan itu dikabulkan, namun ada nilai yang harus dibayar. Sesuatu yang sangat diinginkan Batari Durga dan tidak dipikirkan Burisrawa: peperangan. Dengan ramuan dan ajian Batari Durga, Burisrawa menculik Subadra. Penculikan itu membuat geger. Lalu Bima mengobrak-abrik setiap aset yang dimiliki oleh Burisrawa dan menantangnya. Akan tetapi, kegarangan Bima (karakter: baik dan buruk) mentah oleh makanan 'ladu' dan setas berisi uang (entah apa?) yang diyakinkan oleh Burisrawa menjadi tambahan amunisi dalam peperangan Baratayuda. Bima terbujuk, ia kembali. Setelahnya, Arjuna (karakter: baik) datang bersama Srikandi (karakter: baik) menjemput Subadra. Tapi, Arjuna sudah tidak mengenali lagi istrinya, sebab wajah Subadra yang berubah cacat terkena ramuan. Hilanglah cinta Arjuna, ia tidak ingin membawa pulang Subadra. Subadra menangis. Cerita selesai.

Ada beragam versi kisah pewayangan Jawa tentang konflik antara Arjuna, Subadra dan Burisrawa. Hanya saja, modifikasi alur cerita pementasan dengan judul Deru Tangis Burisrawa tidak begitu kuat. Temponya terlalu lambat. Dan bagi saya, konflik yang dibangun kurang mengena. Begitu juga pendalaman karakter tokohnya terkadang wagu dan lemah. Karakter itu juga terkadang paradoks dengan cerita pada umumnya. Misalnya karakter tokoh Bima yang dipahami sebagai seorang ksatria sejati dan pantang kalah, ternyata takluk dengan iming-iming makanan dan harta. Seperti ingin mengobrak-abrik pakemnya. Akan tetapi hal ini justru menjadikan cerita kabur. Karena cerita hadir dimaksudkan untuk merepresentasikan watak secara jelas: pertentangan antara yang baik dan yang jahat. Dan dengan paradoks Bima (baik dan buruk) representasi itu menjadi kabur.

Hal-hal itulah yang membuat emosi saya tidak bisa terbangun. Saya sama sekali tidak merasakan empati terhadap tokoh. Bahkan, maksud untuk menjadikan Burisrawa sebagai tokoh utama terkalahkan oleh tangis Subadra di akhir adegan. Subadra lebih dominan dalam menarik emosi (meskipun tidak juga berhasil menarik emosi saya) daripada Burisrawa.

Bila melihat judulnya, pementasan ini adalah cerita tragedi. Maka menurut Aristoteles dalam Puitika, cerita yang ditujukan adalah untuk merepresentasikan peristiwa-peristiwa mengerikan dan menyedihkan.

Ada tiga bentuk tragedi menurut Aristoteles: a) orang-orang sopan yang menjalani sebuah perubahan dari nasib baik menjadi sial (tidak mengerikan ataupun menyedihkan: biasa saja); b) orang-orang jahat yang berubah dari nasib sial menjadi bernasib baik (bentuk paling buruk); c) orang yang sepenuhnya keji, yang bernasib baik ke nasib buruk (tidak bisa menumbuhkan rasa ngeri dan iba); d) orang yang tidak lebih unggul dari kita dalam hal kebaikan dan keadilan mendapatkan nasib buruk karena kesalahan (inilah bentuk yang baik, karena bisa menimbulkan rasa ngeri dan iba).

Dan pementasan itu termasuk bentuk yang pertama karena orang jahat mendapatkan nasib buruk. Sama halnya dengan orang baik mendapatkan nasib baik. Hal ini biasa saja dan akan sulit menumbuhkan rasa ngeri dan iba kepada penonton. Akibatnya cerita itu akan hambar dan biasa-biasa saja. Ini terjadi di pementasan Deru Tangis Burisrawa.

Soal pementasan ini (baca: cinta), saya lalu teringat dengan film yang secara baik mengkolaborasikan antara dunia layar kaca, musik dan teater. Film itu berjudul Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance). Film yang tayang pada tahun 2014 arahan Alejandro Gonzales Inarritu bercerita tentang Riggan Thomson (Michael Keaton) seorang yang mencoba keluar dari bayang-bayang masa lalu (menjadi aktor terkenal dalam trilogi film berjudul Birdman). Demi keluar dari bayang-bayang itu (seorang pemeran Birdman) Riggan ingin mencoba mencari keberuntungan (baca: terkenal) dengan tampil sebagai pemain, penulis naskah dan pengarah dalam pementasan teater di Broadway. Dalam film itu, ia mementaskan cerpen terkenal Raymond Carver berjudul What We Talk About When We Talk About Love.

Ada banyak rintangan yang dihadapi Riggan, selain bayang-bayang sosok Birdman yang selalu melemahkan, juga keluarga dan kritikus. Semua itu dilewatinya dengan baik dan pementasan berhasil mendapatkan apresiasi dari kalangan penonton maupun kritikus.

Cerita pementasan naskah What We Talk About When We Talk About Love, kebetulan seturut juga dengan kehidupan Riggan. Kita akan terpukau dengan akhir dari pementasan. Riggan yang berperan menjadi Ed mendapati Terry bersama Mel dalam satu kamar. Ed marah, ia mangacungkan pistol. Mel mengatakan Terry tidak mencintainya. Dan Terry mengiyakan. Ed lalu berucap, "I'm nothing". Dan menembakkan pistol di kepala.

Melalui pementasan itulah, seorang Ed yang sebenarnya dikarakterkan jahat mampu menarik empati penontonnya. Penonton lalu terbawa emosi. Dan kemalangan (baca: bunuh diri) itu mencapai tujuan tragedi yaitu merepresentasikan peristiwa mengerikan dan menyedihkan.

3.
Saya memutuskan mengikuti diskusi yang diadakan pasca pementasan usai. Demi mendapatkan jawaban tentang hal-hal yang masih belum jelas terkait pementasan. Sayangnya saya tidak mendapatkan apa-apa selain pernyataan sutradara dan penulis naskah. Sutradara mengatakan ini hanyalah sebuah pementasan hiburan semata. Dengan perkataan ini, membuat selera untuk bertanya hilang sekejap. Tidak hanya sutradara, bahkan penulis naskah menganggap enteng karena skenario yang dibikin mencoba menyesuaikan dengan kondisi milineal sekarang ini (terkhusus kondisi yang sedang dialami secara langsung oleh pemain). Maka, yang diambil adalah persoalan cinta.

Dengan jawaban-jawaban itu, saya membincangkan bersama teman tentang pementasan ini sembari berjalan menuju ke kontrakan. Obrolan kami, selain tentang kekecewaan-kekecewaan, berkeinginan menawarkan alur cerita lain.

Teman saya menawarkan sebuah modifikasi cerita. Karena tokoh utama dalam pementasan ini adalah Burisrawa, akan lebih mengena jika semua harta dan kekuasaan Burisrawa hilang ditambah dengan cintanya yang tidak terbalas. Kehilangan semuanya inilah yang membikin deru tangis Burisrawa.

Tapi saya tidak bersepakat, sebab jika seperti itu, penonton belum tumbuh empati sama sekali terhadap Burisrawa (karena ini tragedi, keberhasilannya adalah timbulnya empati penonton). Menimbulkan empati penonton terhadap tokoh berkarakter jahat itu sangat sulit. Hal inilah yang harus ditekankan.

Memandang itu, Burisrawa sebagai tokoh utama harus diperlihatkan sisi-sisi kebaikannya, supaya emosi penonton terbangun. Misalnya, Burisrawa setelah ditolak oleh subadra, ia menjadi pribadi relijius dan suka membagikan hartanya. Setelahnya, mungkin Burisrawa bisa melakukan percobaan dua kali untuk menculik Subadra. Kali ini tanpa mantra apapun. Tapi dengan menyerang kerajaan Arjuna. Inilah sesuatu yang diinginkan Batari Durga. Burisrawa hampir menang dan menculik Subadra. Tapi Subadra menolak dan Burisrawa bertanya, "Mengapa kamu tidak mau? Arjuna sudah mengabaikanmu" Subadra menjawab, "Karena aku tidak mencintaimu dan aku hanya mencintai Arjuna." Seketika semuanya hancur dan Burisrawa berkata, "Aku tidak ada. Aku tidak ada." Ia menangis dan menangis.

Dalam hal ini, jika ingin memodifikasi cerita pewayangan, bagi saya sekalian saja. Tapi karakter dan tokoh pakem pewayangan tetap dipertahankan, alur ceritanya saja yang dirubah.

Memandang itu, jalan ceritanya mungkin bisa dibikin seperti ini:

Adegan 1
Diperlihatkan kegilaan Burisrawa terhadap Subadra.

Adegan 2
Burisrawa mencari cara untuk mendapatkan Subadra.

Adegan 3
Batari Durga memberi cara untuk mendapatkan Subadra.

Adegan 4
Burisrawa menculiknya (hal ini bisa dipersingkat dengan langsung membawa Subadra di kerajaan Burisrawa).

Adegan 5
Dengan Subadra di kerajaannya, Burisrawa berubah. Ia membagi-bagikan hartanya. Senang bercengkerama dengan anak-anak. Dan kebaikan-kebaikan yang lain.
(Cinta adalah pemancar kebaikan itu dan inilah yang akan menjadi pemicu tumbuhnya rasa ngeri dan iba).

Adegan 6
Tidak berselang lama. Bima datang, tapi ditolak Subadra. Subadra ingin yang menjemputnya adalah Arjuna.

Adegan 7
Arjuna datang menjemput. Dibawa kembali. Tapi dengan kesangsian Arjuna: Burisrawa sudah menyentuh Subadra. Sebab ini, Subadra diabaikan oleh Arjuna.

Adegan 8
Burisrawa tidak terima atas Arjuna. Ia ingin menculik lagi Subadra. Terjadilah peperangan. Dan Burisrawa hampir membawa Subadra. Tapi Subadra tidak mau. Terjadilah dialog di antara keduanya.

Burisrawa: Mengapa kamu tidak mau? Arjuna sudah mengabaikanmu.
Subadra: Aku tidak mencintaimu. Dan aku hanya mencintai Arjuna.

(Subadra hilang seketika: moksa)

Burisrawa: Aku tidak ada, aku tidak ada.

Burisrawa menangis. Ia menangis. Sebab tidak dicintai dan tidak memiliki.

Selesai.

Alur cerita seperti inilah yang saya tawarkan untuk mewujudkan tragedi Deru Tangis Burisrawa benar-benar terjadi.

4.
Menonton pementasan Deru Tangis Burisrawa (Kamis, 19/12/19) oleh KPT BETA FITK UIN Walisongo Semarang, saya mendapatkan kesan bahwa cinta itu adalah sesuatu yang tidak serius. Cinta adalah hal menye-menye bagi para milenial. Cinta hanya soal "quotable". Saya tidak tahu, milineal yang mana maksudnya. Saya juga milenial, namun bagi saya cinta adalah sesuatu yang serius. Ia sangat dibutuhkan oleh setiap manusiameminjam istilah Kyai Budiselayaknya udara. []

Membaca dengan riang. Menulis dengan gembira. Sila mampir ke rumahnya di raungruangriang.blogspot.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel