Kotak di Menara Hanoi yang Tak Boleh Dibuka

Kotak di Menara Hanoi yang Tak Boleh Dibuka

“Jangan. Jangan pernah sekalipun berusaha membuka kotak itu. Lebih baik lagi, jangan sekali-kali berani berpikir untuk membuka kotak di menara Hanoi itu. Ingat selalu dan patuhi larangan ini.”

Itulah Petuah yang telah kami dengar dari para tetua kami sejak kecil. Seratus persen, tak ada dari kami yang belum pernah mendengar petuah itu. Petuah itu datang ke telinga kanan serta telinga kiri kami, dan merasuk, tertanam dalam kepala.

Para pejabat, seniman, teknisi, ibu rumah tangga, dan seluruh kelompok masyarakat dunia yang lain juga turut mengupayakan agar petuah itu ditaati. Baliho-baliho di seantero dunia dibuat untuk senantiasa mengingatkan kami akan pentingnya menaati larangan membuka kotak di menara Hanoi. Pun juga lagu-lagu gubahan para musisi, film-film arahan para sineas, cerpen-novel-puisi-drama karangan para sastrawan. Bahkan, kuberitahu, para pembuat karya-karya stensilan dan film-film porno pun terkadang berusaha menyisipkan pesan bahwa kami harus menaati petuah itu.

Kami punya semboyan: “Jas Bata Merah, jangan sekali-kali membuka kotak menara Hanoi”.
Sampai saat ini, tak ada dari kami yang pernah melanggar petuah itu. Aku beritahu, dunia kami bukanlah dunia yang seratus persen suci. Penjara-penjara kami tak lengang, selalu saja ada orang-orang yang menjadi penghuni memenuhi jeruji besi. Segala macam kejahatan ada di dunia kami: dari mafia hukum, penebar teror yang menganggap diri mereka pahlawan dengan bungkus agama, politikus jingoisme yang mengaku pembela HAM, pelaku kekerasan seksual, bandar narkoba, penggelap dana kerah putih, dukun penipu penggandaan uang, pelaku curanmor, sampai pelaku peracun kucing yang bermotif hanya karena ingin viral.

Namun para pembangkang hukum dan norma, bila berhadapan dengan petuah, layaknya menjadi orang alim taat aturan yang sehari-hari beribadah di bandarsah. Koruptor tebal muka yang mengencingi hukum dengan mudah yang tak jarang menyuap para penegak hukum, enggan berurusan dengan petuah. Lelaki-lelaki munafik yang mengaku aktivis namun sebenarnya hidung belang bajingan pemerdaya para mahasiswi baru, yang kelaminnya paling bau sekalipun, jujur sesuai perkataan dan perbutatan: tak ingin melangkahi petuah. Para begal sadis yang tak segan menghilangkan nyawa para korbannya, tak berani melanggar petuah. Semua menaati petuah.

Lagipula, kuberitahu. Orang-orang bahkan tidak berani mendekati menara Hanoi. Tak perlu penjagaan khusus, dengan segenap pasukan bersenjata lengkap dan pantauan kamera pengawas. Pemerintah pun membiarkan menara itu begitu saja. Keadaan itu membuatnya memiliki tabir yang begitu kuat: suasana yang sunyi, misterius, asing, dan terasa angker.

Menara itu, terletak di pinggiran tempat kotaku tinggal. Perimeter di sekitar menara Hanoi, masih ditumbuhi pohon-pohon sehingga membentuk hutan kota yang masih terjaga alamitentu saja, siapa orang yang mau tinggal di dekat menara itu? Makhluk hidup selain tumbuhan di sekitar menara Hanoi, hanya hewan-hewan kecil yang hidup berdasarkan insting dan tak punya pikirandan rasa takutseperti manusia.

Menara itu tegak menjulang. Lebih tinggi dari pohon-pohon di sekelilingnya yang telah berusia puluhan-ratusan tahun. Ada enam puluh empat lantai di menara Hanoi, dan tiap lantai berbentuk lingkaran. Lantai terbawah adalah lantai dengan ukuran terbesar, dan ukuran tiap lantai semakin ke atas semakin mengecil. Lantai terbawah ukurannya begitu besar, berdiameter hingga 68,84 meter. Tiap naik satu lantai, diameternya berkurang 1 meter sehingga lantai teratas di Menara Hanoi berdiameter 5,84 meter.

Lagipula, kuberitahu. Seandainya ada orang yang berusaha membuka kotak itu, orang tersebut harus tahu sebuah mantra yang harus ducapkan di depan kotak. Tak ada orang di dunia ini yang tahu apa mantra yang harus dituliskan, dantentu sajatak ada satupun ilmuwan dan peneliti yang berminat dan berani menyelidiki bagaimana cara membuka kotak itu. Kotak yang tersimpan di tingkat tertinggi di menara Hanoi.


***

“Kamu sebenarnya tahu, bukan?” ia bertanya.

Aku diam saja, tak menjawab pertanyaannya. Aku bahkan tak menolehkan kepala menatap wajahnya. Mataku masih kugunakan membaca buku setebal lima-ratus-tujuh-puluhan halaman yang kupangku dengan kedua tangan. Buku berjudul Théorie des nombres, karya seorang matematikawan bernama Edouard Anatole Lucas.

“Jujur saja lah, kamu tahu cara membuka kotak di menara Hanoi itu kan? Mantra itu kamu juga tahu kan?”

Aku masih mengabaikan si penanya. Wusana, nama lelaki yang mengajakku mengobrol. Aku dan ia memiliki kesamaan: kami dibesarkan di panti asuhan yatim piatu yang sama. Orang-orang tak mengetahui siapa kedua orangtuaku, begitupun orangtua Wusana. Menurut pengasuh kami, kami sama-sama ditemukan dalam keranjang bayi di depan pintu panti asuhan pada hari yang sama. Karena itulah, pengasuh kami merayakan ulang tahun kami pada tanggal yang sama. Pada catatan sipil pun kami memiliki tanggal kelahiran yang sama.

Aku dan Wusana, dari TK, SD, sampai SMP masuk di sekolah sama. Namun, berkat otak jeniusnya, sewaktu SMP Wusana mampu mengikuti kelas akselerasi. Saat SMA pun ia masuk kelas percepatania masuk SMA yang secara reputasi lebih bagus dibanding SMA tempatku bersekolah. Karena itulah, saat ini ia menjadi kakak tingkat saat aku kuliah. Kami kuliah di universitas yang sama namun berbeda jurusan, Wusana diterima dari jalur undangan prestasi, sementara aku diterima dari jalur tes tertulis reguler.

“Hei,” aku mendengar suara Wusana kembali, kali ini disertai suara langkah kakinya yang mendekatiku.

Dengan terpaksa aku mengangkat kepalaku lalu menatap, menimpalinya, “Sudahlah,” kataku, “Aku tak tertarik dengan itu.” Reaksiku membuat langkah Wusana terhenti. Aku balik bertanya, “Apa kamu bermaksud melanggar petuah?”

Wusana tersenyum. “Apa kamu tak penasaran?” ia menjawab dengan pertanyaan. “Tak ada orang yang lebih mengenalmu selain aku, kita sudah bertahun-tahun bersama sejak kecil, begitu kan?” Matanya menatapku secara tajam. “Banyak yang menganggapmu orang aneh. Tapi aku tahu kamu punya sesuatu yang berbeda dari orang lain. Yang tak dimiliki orang lain mata dan pikiranmu itu,” ucap Wusana sambil telunjuk kanannya menunjuk dahinya, “mata dan pikiran yang tak disamai orang lain, kecuali denganku, tentunya.”

Aku membatin, Memang, kamu adalah orang yang paling mengenal siapa aku. Begitupun aku adalah orang yang paling mengetahui siapa kamu. Namun aku tak melisankan pikiranku, sementara Wusana tak melanjutkan perkataannya. Maka yang terjadi, hening, untuk beberapa saat. Satu detik dua tiga empat lima enam ….

“Sama sekali aku tak tertarik melanggar petuah, sama sekali aku tak ingin tak menaati larangan,“ aku berkata kembali seraya menutup Théorie des nombres dan berdiri, “Apa kamu sudah memikirkan apa akibatnya bila menuruti rasa penasaranmu itu? Kamu tak memikirkan bagaimana nanti Bu Sri orangtua wali kita? Teman-teman kita? Guru dan dosen-dosen?“

Dua ujung bibir Wusana tertarik ke atas. Tersenyum, ia berkata, “Ya, tentu saja. Kamu berpikir seperti itu. Lalu kenapa? Itu tak jauh beda dengan pertanyaan, apa yang akan terjadi pada Sidurja dan gengnya yang dulu merundung kita hanya karena kita yatim-piatu? Pada jambret bangsat yang telah membuat Bu Sri jatuh dari motor? Pada pejabat yang memotong anggaran waktu aku lomba? Kamu boleh bilang aku nihilis dan

“Sudahlah!” aku memotong kalimat Wusana. Aku membuka pintu kamar kosku, kos yang waktu itu semua penghuninya telah balik kampung kecuali aku. Sebelum aku masuk ke dalam kamar, aku menoleh menatap Wusana, menegaskan, “Aku tak tertarik dengan omonganmu, pergilah, aku tak penasaran.”

***

Aku penasaran dengan apa yang bisa Wusana lakukan.

Tiga hari telah berlalu sejak Wusana datang ke kosku membicarakan kotak di menara Hanoi. Sejak itu, aku sudah tahu: Wusana akan melanggar “Jas Bata Merah”. Aku tahu ia pasti akan mencoba melakukannya, tapi tentu  aku belum melihat segigih apa ia akan mencobadan sejauh mana ia berhasil. Maka sejak itu pula aku selalu mengawasi dan memata-matai Wusana.

Waktu telah memasuki masa senja, langit memerah dihiasi dengan semburat awan-awan hitam. Mataku melihat Wusana yang telah menerobos hutan di sekitar menara Hanoi yang sunyi, misterius, asing, dan terasa angker. Sampai saat ini, aku berhasil membuntutinya, aku tak ketahuan olehnya dan tak juga kehilangan jejaknya.

Wusana masih menjadi fokus mataku, dengan sekejap-sedetik aku mengamati pepohonan, dan menara Hanoi yang semakin terlihat jelas. Sementara telingaku menangkap suara angin yang berhembus perlahan, juga suara kerik para hewan renik. Binatang-binatang itu seolah berkata, “Lihatlah, ada dua orang bodoh, yang satu ingin membuka kotak menara Hanoi, yang satu cuma menonton tidak mencegahnya.”

Ya. Aku hanya menguntit Wusana saja, tak berusaha menghentikannya, bahkan sampai ia masuk ke hutan ini. Seraya kaki berjalan, otakku terus berpikir. Aku membawa ponsel, dan kulihat sinyalnya masih terjangkau. Bukankah bisa saja aku memanggil polisi dan tentara? Melapor bahwa ada orang yang akan melakukan aksi ‘paling besar sepanjang umat manusia’? Bukankah masih ada kesempatan, sebelum Wusana mencapai menara Hanoi?

Sepanjang langkahku mengekor Wusana, pikiran untuk mencegah Wusana terus hadir. Namun, kuberitahu, ada sesuatu yang membuatku tak melakukannya. Terus kubiarkan Wusana, sampai ia tiba di depan Menara Hanoi. Cakram lantai pertama telah menyapa.

***

Tiap lantai dihubungkan dengan tangga dan pintu kayu tebal. Pintu-pintu itu tak berkunci, cukup didorong untuk membukanya. Aku sendiri tak perlu mengeluarkan tenaga karena Wusana membiarkan pintu terbuka setelah mendorongnya. Dari lantai dasar, menaiki ratusan anak tangga, hingga kini tiba di lantai puncak.

Di lantai teratas, terlihatlah Kotak itu. Sebuah kotak berwarna kemerahan, polos tanpa ukiran apapun. Ukurannya, kuberitahu: panjang 3 meter, lebar 0,58 meter, dan tinggi 0,58 meter. Aku mengintip dari balik daun pintu, menyaksikan Wusana hanya diam dan bungkam di depan kotak. Pikirku, Apa ia ragu? Apa ia akan berbalik dan tak jadi membuka kotak?

Saat itulah Wusana menempelkan kedua tangannya ke kotak. Ia mengambil napas, dan dengan sekeras-kerasnya merapal sebuah mantra, “Es! Ɨga! Itel! Amä!”

Kuberitahu, aku tahu itu bahasa Arin. Aku tahu itu mantra yang tepat untuk membuka kotak. Aku tahu kejadian ganjil apa yang akan terjadi setelah kotak terbuka: suara akan terdengar menggelegar tanpa henti dari kotak, ‘Wuushh wuushhwuushh….’ Suara garib yang menebar ke seluruh penjuru.

Kotak akan bertindak berkebalikan dengan kotak Pandora. Kotak akan menjadi lubang hitam, kotak akan menyerap semuanya. Wusana, Bu Sri, Sidurja, para presiden, rakyat, para manusia bajingan, bajing, pepohonan, buku, laptop, mobil, pesawat, kapal induk, satelit, stadion, menara-menara termasuk Menara Hanoi, planet-planet, bintang, galaksi.

Semua terserap, kecuali aku. Semua terserap, hingga yang ada hanya aku dan niskala.

Sejak awal aku tahu itu akan terjadi. Sejak awal aku tahu akan ada orang bernama Wusana yang akan membuka kotak, sesuatu yang membuatku tak menghentikan Wusana: karena aku tahu. Kuberitahu, aku tahu, mengapa? Karena dunia ini adalah ‘cerita pendek. Sebuah dunia yang kubuat, dan aku tahu bagaimana dunia ini akan berakhir. Aku tahu, aku akan melaksanakan tugas terakhirku, menyampaikan pesan:

CERITA PENDEK INI TELAH SELESAI.


Programmer, pembaca, penggambar, juga penulis lepas. Menuangkan karya dan risalahnya di blog pribadinya: rk-awan.blogspot.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel