Marie Luise Kaschnitz — Going to Jerusalem

Marie Luise Kaschnitz — Going to Jerusalem

Mei tahun lalu, sebuah penyakit misterius menyerang penjuru kota. Beberapa bulan berlalu, penyakit itu menjangkiti hampir semua orang di kota. Para dokter tidak tahu-menahu tentang penyebab dan jenis penyakit ini. Mereka menangani gejala-gejala yang muncul—pasien-pasien dengan meriang dan gelisah yang tak biasa—dengan dosis pengobatan tinggi-rendah. Konon mereka menanti kematian seorang penderita agar mereka bisa mengautopsi dan menggunakan hasilnya untuk keberlanjutan riset. Sementara itu, meski sekarang mereka juga sakit, mereka terus meyakinkan para penderita yang tidak layuh. Tapi ternyata, nyaris seluruh penderita datang ke ruang tunggu hampir saban hari, takut terlewat penemuan obat baru atau kemajuan lain. Mereka meyakinkan para penderita, terlepas dari letih luar biasa dan gemetar cemas, bahwa organ vital mereka sehat saja dan tidak perlu risau. Dan selagi para dokter terus memeriksa mereka, para penderita sepenuhnya percaya dirinya baik-baik saja. Keadaan jiwa mereka meningkat, bahkan sampai bisa membuat candaan. Namun, keceriaan itu hanya sesaat. Segera setelah mereka keluar dan melihat wajah-wajah tegang, gelisah ketakutan di jalanan, mereka terbenam kembali kepada kemuraman dan ketakutan.

Hari-hari terakhir musim panas, moral penduduk kota sudah sangat rendah. Selama bulan-bulan di musim panas itu, tak ada yang boleh meninggalkan kota sebab potensi nyata mewabah dan larangan ini membuat kami stres berat. Banyak yang beranggapan bahwa kami hanya perlu berlibur keluar kota supaya keadaan dapat membaik—sama seperti pasien berpenyakit parah yang putus asa ingin bangkit dari pembaringannya karena ia yakin hanya akan terus tersiksa di sana. Kematian pertama, yang diyakini sebagai bentuk akhir keselamatan, belum juga terjadi. Dan kami mulai memandang lekat satu sama lain, mencermati bayangan kematian pada wajah-wajah bahkan pada wajah teman-teman paling tercinta.

Kejadian-kejadian ganjil yang akan kukaitkan dengan wabah ini terjadi pada tiga hari berturut-turut di bulan Oktober, di ruang tunggu dokterku. Ia dikenal luas karena para pasiennya yang parah dan ruang tunggu yang selalu penuh sesak. Pada hari pertama jam sembilan pagi, deretan kursi ruang tunggu telah penuh, dan di antaranya lebih banyak pasien berdiri menunggu. Saat itu dingin dan lembab di luar. Lilin terbakar di ruang depan, yang dibuat sebagai ruang tunggu tambahan; mantel saling bertumpuk satu sama lain di gantungan saat para pemiliknya berjejer menunduk bisu dengan susah hati. Tetiba seorang penderita mulai bercerita. Tiada seorang pun ingin mendengarnya—lagipula, kami tidak sedang berada di Orient— dan bagaimana mungkin orang di situasi seperti ini masih peduli tentang cerita? Orang itu bersandar pada tembok belakang ruangan dan mengabaikan batuk kegusaran kami. Suaranya—yang terdengar datar dan lemah seperti suara kami—bertambah kuat seraya ia berbicara. Kejadian yang memunculkan kekaguman dan amarah. Aku menoleh padanya; ia pucat seperti kami semua, setengah baya dengan tinggi sedang dan pakaian lusuh. Matanya cemerlang, menunjukkan rasa ingin tahu mata seorang anak. Ia bercerita kisah menjijikkan. Kisah itu tentang seseorang yang dimakan hidup-hidup oleh sekumpulan tikus besar di dalam sebuah penjara dan saat itu berlangsung, orang itu berkhayal tentang pengalaman sepadan yang sama mengerikannya. Tapi akhirnya, kegigihan yang ia tunjukkan dengan segenap kengerian itu telah membuat kami mendengar—bukan hanya dengan penuh perhatian, bahkan dengan penuh hasrat.

Hari berikutnya, sejak dokter memutuskan untuk tutup lebih awal. Pada sekitar jam yang sama, orang yang sama seperti hari kemarin berdiam di ruang tunggu. Orang aneh itu, si pencerita, juga di sana dan bersandar di tembok yang sama seperti kemarin. Ketika kelihatannya ia akan mulai bercerita, ia segera mendapat seorang pendengar yang penuh perhatian—orang yang mendesis kesal kepada setiap pendatang baru ruang tunggu seakan-akan sedang berada di teater atau aula konser. Namun, saat itu segera disadari bahwa orang asing itu tak punya hasrat untuk berkisah. Sebab ia terlalu lelah atau terlalu loyo. Ia mengatakan satu kata, lalu berhenti dalam waktu yang lama, berkata lain dan berhenti lagi. Begitu seterusnya. Rangkaian itu tak begitu menghibur. Sejak disadari kata-kata yang keluar tak memiliki keterkaitan satu sama lain dan bahkan bukan kata-kata spesial. Singkatnya, rangkaian kata yang gado-gado. Tak dapat dimengerti mengapa kami mendengarkannya dengan penuh perhatian dan mengapa setiap pasien yang dipanggil dokter beranjak dengan enggan, hampir melawan kehendak diri. Barangkali karena setiap kata yang terucap membangkitkan memori atau harapan tertentu pada diri kami. Entah bagaimana setiap kata seperti bergelantung di sebuah ruang hampa, terasa besar dan berat.

Hari berikutnya suasana ruang tunggu jadi menyenangkan. Seseorang hampir bisa berkata ruang tunggu itu hidup. Orang aneh itu datang dengan sebuah permainan, dan sudah mulai memberi instruksi kepada kami. Dibutuhkan banyak kursi dan beberapa kursi diambil dari ruang makan dokter. Tiba-tiba aku teringat, bukannya harus ada piano juga, dengan seorang memainkan “I’m Going to Jerusalem”; si pemain piano seketika berhenti dan semua orang yang bermain harus duduk di kursi. Tapi kursi tidak cukup untuk seluruh pemain sehingga tersisa seorang berdiri. Sinting, kupikir, bermain seperti ini di ruang tunggu seorang dokter. Memang kami ini apa? Sekumpulan bocah? Tapi aku diam. Aku ikut bermain dan mulai mengitari kursi-kursi seperti yang lain. Tidak ada piano. Orang asing itu bermain irama dengan mendentingkan gong menggunakan jari-jarinya. Gong itu mungkin bagian dari ruang makan dokter. Orang asing itu mengetuk dengan memikat, tapi iramanya juga menakutkan. Kami bergerak maju, terkekeh, berkusu-kusu lalu diam. Jadi lebih cepat, tersandung-sandung, menyeret-nyeret kaki sepanjang permainan, dan selalu mengira dentingan itu berhenti. Saat dentingan berhenti, kami berebut kursi, tidak lagi bergembira. Berubah jadi ketakutan dan kemarahan seolah-olah mendapat kursi dalam permainan ini urusan maha penting—urusan hidup dan mati. Lalu, sekonyong-konyong kami semua sudah mendapat kursi dan tak ada seorang pun berdiri. Tidak ada kekurangan kursi—tapi mengapa? Sebab orang aneh itu telah jatuh, terlentang di lantai di samping pintu, mati.

Hampir setahun berlalu sejak hari ketika kami bermain permainan bocah itu di ruang tunggu dokter. Penyakit yang mewabah telah terkendali. Bahkan kasus paling sulit telah mendapati kemajuan. Barangkali, namun tak ada yang yakin, bahwa kota kami terselamatkan berkat kematian pertama seorang penderita, yang juga si pencerita dan pengucap kata. Mungkin juga bahwa pada waktu itu telah ditemukan obat untuk penyakit misterius itu di suatu tempat, di sebuah negara lain, di Amerika atau Australia—bagaimanapun juga telah diadakan banyak riset. Namun jika itu benar, aku harus tetap merenungi orang asing yang aneh itu untuk waktu yang lama. Aku akan mencoba menulis ulang cerita yang tak menyenangkan itu. Kadang, dengan tidak sadar, jari-jariku memainkan irama yang mengesankan itu di atas meja. Aku akan mencoba mengingat kembali dan menulis seluruh kata yang ia ucapkan dalam keheningan. Beri hitam—semak—hujan—bunga es—tengah malam... Apa mungkin hanya begitu saja? []


*) Marie Luise Kaschnitz, penulis berkebangsaan Jerman. Diterjemahkan dari buku Short Shorts; An Anthology of the Shortest Stories. Cerita berjudul bahasa Inggris Going to Jerusalem ini diterjemahkan dari bahasa Jerman oleh Claudia Stoeffler.

**) Going to Jerusalem merupakan sebuah permainan yang dimainkan anak-anak dengan mengitari sejumlah kursi yang jumlahnya kurang dari jumlah seluruh pemain, dan diiringi dengan musik. Saat musik berhenti, mereka berebut kursi dan pemain yang tak mendapat kursi tereliminasi dan satu kursi disingkirkan. Begitu seterusnya hingga hanya seorang yang duduk.

Pembaca juga sesekali-penulis-dan-penerjemah prosa. Pengampu biskuatsusu.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel