Menulislah!

Menulislah!

Saya termasuk orang yang percaya dengan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, seorang penulis kenamaan yang berpulang 30 April 2006 silam; begini kata beliau, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Kalimat yang begitu kuat untuk mengobarkan semangat menulis! Luar biasa. Pram, sapaan beliau, memiliki karya tulis yang tidak sedikit dan banyak menginspirasi generasi muda. Saya sarankan kalian mesti membaca karyanya.

Dari kata-kata Pram itu saya berpendapat, bahwa untuk diakui di masyarakat dan dikenang sejarah, maka kita harus menulis. Namun, masih saja ada yang bertanya, “Kenapa harus dikenang di masyarakat dan diakui sejarah? Hidup, kok, ribet, hidup ya hidup saja.” Tunggu dulu, tampaknya orang yang bertanya demikian perlu tahu kata-kata yang pernah diutarakan Buya Hamka, “Kalau hidup sekadar hidup babi di hutan juga hidup, kalau kerja sekadar kerja, kera juga bekerja.” Jadi, kalau hanya 'sekadar', maka kita tidak jauh beda dengan hewan; sepertinya itu makna dari kalimat bijak Hamka. 'Hamka' nama penanya, merupakan akronim nama aslinya, Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah, wafat pada 24 Juli 1981. Sama seperti Pram, ia juga penulis yang banyak menulis buku.

Kembali lagi soal maksud kata ‘menulis’ dari Pram, saya begitu yakin menulis yang dimaksud Pram ialah menulis perihal kebaikan. Suatu kebaikan yang berdampak bagi kehidupan manusia, apa pun bentuk tulisannya, entah karya tulis ilmiah, karya tulis nonilmiah, atau karya tulis populer. Seluruhnya bakal menjadi bukti nyata isi kepala kita.

Sebenarnya, diakui masyarakat atau dikenang sejarah juga bukan yang utama dari esensi menulis. Itu semua semata-mata bonus yang diperoleh apabila tulisan kita bermanfaat bagi kehidupan masyarakat. Justru masalah utama bagi orang seperti saya adalah kesulitan untuk memulai menulis. Sungguh, meski gemar membaca, nyatanya saya tidak pandai menulis. Menulis karya ilmiah saja tidak kunjung selesai, makanya, hingga kini, saya belum bergelar Strata-1.

Entah ini nasib atau takdir, tapi dulu sewaktu daftar kuliah, saya takjub sebab memperoleh nomor induk mahasiswa A2A013013. Serius! Dulu saya tergolong orang yang meyakini angka 13 pembawa kesialan. Selain takhayul tentang kesialan, ternyata angka 13 juga bermakna kepemimpinan—Loh, kok, jadi membahas angka 13, mohon maaf. Apa pun itu, kepercayaan kita tetap kepada Tuhan semata, pemilik kesempurnaan, dan rencana dariNya niscaya indah. Nah, kalau kita ada salah, ya memang kitanya saja yang enggak bener, he-he.

Jadi teringat Chairil Anwar, penyair itu berucap, “Bukan maksudku berbagi nasib, tapi nasib adalah kesunyian masing-masing.” Ini benar, tiap orang punya nasibnya sendiri. Terkadang terasa sangat sunyi, hamba tak karuan. Setiap dari kita melihat masalah dari kacamata masing-masing. Kita hidup di antara benar dan salah, ditugaskan melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.

Chairil dijuluki "Si Binatang Jalang" (dari puisinya yang berjudul Aku). Ia tutup usia di umur yang terbilang cukup muda yaitu 26 tahun, pada 28 April 1949. Andai bernasib panjang umur, tentu perjalanan karyanya jauh lebih panjang pula.

Namun, wafatnya Chairil di usia muda tidak membuat orang lupa akan namanya. Sampai saat ini ia masih terkenang di masyarakat dan diakui sejarah. Sekali lagi benar kata Pram, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian,” meski raga tak lagi bernyawa, namun seorang penulis akan tetap hidup hingga masa entah.

Para penulis terdahulu telah memberi teladan. Mereka mempunyai karya yang apik, dan mampu menggerakkan generasi selanjutnya untuk terus menulis. Dari pemikiran itulah tulisan ini terlahir sebagai hasil dari muhasabah dan ikhtiar untuk terus belajar menulis. Peradaban manusia akan tetap hidup bila masih ada para penulis di setiap masanya. []


Aku yang nulis, kamu yang baca, kita serasi. Lebih dekat dengannya di Instagram @riswanto.gemilang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel