Lentera di Kisik Itu

Lentera di Kisik Itu

Siang itu Son Aji tak menyangka: saya menyamperi kediamannya di kampung Plawangan di Rembang tanpa berkabar sama sekali. Sebab hari itu pula saya hendak menuntaskan rasa penasaran pada suatu perpustakaan di pesisir pantai Plawangandan dialah pendirinya.

Ia menemui saya di teras rumah sambil mengucak mata, tampak agak sembap. Barangkali ia terbangun oleh kedatangan saya. Usai saya jelaskan maksud hati, ia membuat sela di pintu, kemudian mempersilakan saya masuk. Lelaki tiga-puluhan tahun itu amat meladeni saya dan  nyaris tersenyum setiap saat. Rambutnya sebahu dan ikal, membuatnya tampak seperti kebanyakan teman berambut gondrong saya yang karib. Atau, persisnya ia seperti penulis A.S. Laksana, hanya saja warna rambutnya belum malih kelabu.

Kami melungguh, lalu ia menjelaskan dengan sahaja apa yang ia tekuni: gubuk baca yang ia namai Lentera Kisik. Di tempat kami, “kisik” berarti pantai. Sebab gubuk itu berada di tepi pantai, maka ia dinamai demikian. Tak luas, kalau ditaksir paling-paling tiga kali empat meter, dan ia berdiri memunggungi pantai. Sejumlah lukisan bermotif bunga terpacak di dindingnya. Juga beberapa bangku besar-kecil dan alas duduk berserakan di sekeliling.

Meskipun cilik dan agak berantakan, tempat itu enak dipandang. Bayangkan saja: kau duduk dan membaca suatu buku, kalau matamu mulai lelah, kau bisa berpaling pada pasir pantai atau naik-turun perahu oleh ombak; juga kelepak burung camar, kalau tampak. Atau panorama menjelang magrib: langit lembayung, juga desir ombak, juga pohon cemara yang jarang-jarang.

Bagi saya tempat itu menawan, tapi tidak bagi Son Aji. Bagi seorang nelayan, tempatnya biasa saja, begitu pula orang-orangnya. Namun, yang pasti, hal biasa itulah yang membuatnya mendirikan Lentera Kisik; untuk merawat tempat biasa itu, juga orang-orang biasa itu.

Keinginannya sederhana saja: mengasih ruang bagi ibu-ibu yang tengah momong anak. Selain itu, bapak-bapak dapat bercengkerama, barangkali soal ikan, soal si janda manis; atau mereka sekadar saling cicip rokok; atau memalingkan anak-anak dari keriuhan gawai; atau mengajak pemuda-pemuda seumurannya saling sengkuyung.

Ikhtiar mendirikan Lentera Kisik,” tutur Son Aji, “sebetulnya untuk memanfaatkan tanah luang di pantai saja. Agar tak cuma buat wisata.

Namun, alasan sederhana itu berdampak besar. Orang-orang mulai sungkan membuang sampah ke pantai, yang mana kelakuan itu telah jadi penyakit menahun. Saya juga pernah mendapati rasa sungkan semacam itu di Demak, sewaktu mengamati burung hantu bersama seorang kawan. Pemilik penangkaran burung hantu memberi tahu kami, semenjak orang-orang berdatangan untuk menetap, tetangganya menjadi segan membuang sampah di kali atau di belakang rumah; mereka memilih membakarnya. Barangkali perasaan itu pula yang ditunjukkan orang-orang di sekitar Son Aji.

“Jadi, setelah adanya gubuk ini, masyarakat jadi sungkan membuang sampah sembarangan,” Son Aji menambahkan. “Kini mereka lebih memilih membakarnya di depan rumah sendiri. Tentu saja otomatis pantai jadi bersih dan nyaman.” Ia mungkin merasa agak lega; ia tak perlu membuat woro-woro pada plang dengan tulisan macam-macam. Alih-alih mengingatkan kebersihan, justru sebaliknya.

Son Aji berpikiran jauh ke depan. Ia sadar kalau mengandalkan rasa sungkan tentu saja tak cukup. Apabila sewaktu-waktu perpustakaan kecil itu tak ada lagi atau menjadi terbengkalai, tetangganya barangkali akan kembali membuang sampah di sana. Itulah sebabnya ia melirik peluang pada anak-anak, dengan menyediakan buku-buku bertema lingkungan.

“Anak-anak lebih pintar, Mas,” katanya pada saya. “Kadang dari membaca mereka berani menegur ibuk-bapaknya. Ya, pada akhirya kembali lagi, kan. Mereka kisinan. Sebab itulah di sekitar perpustakaan banyak anak kecil. Mereka datang kira-kira pukul delapan pagi, dan baru pulang kalau sudah siang, atau telah pukul tiga sore.

Kini sesudah tiga bulanterhitung sejak April lalu—beroperasi, gubuk Lentera Kisik telah memiliki tujuh ratus koleksi buku dari beragam genre. Dua ratus buku dari pemerintah desa dan sisanya diperoleh dari uang patungan. Macam buku-buku itu mulai dari buku biografi, resep masakan kesukaan ibu-ibu, sampai tentang kewarganegaraan. Dan banyak buku lain, yang penting dapat dibaca, dan orang-orang kisik Plawangan bisa tetap biasa-biasa saja.

Lentera Kisik telah banyak menebar kemanfaatan di sekelilingnya. Laksana lentera sungguhan, geliat api kecil perpustakaan itu bakal terus benderang di sana, seterusnya. []


Pengrajin puisi, prosa, juga esai. Buku puisi debutnya, Sepotong Ikan Kerinduan Ibu (Pustaka Bacabukumu, 2020), terbit Februari. Pengurus azizafifi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel