Pak Tua Malang yang Kesepian

Pak Tua Malang yang Kesepian

Usai mengkhatamkan novel ini, saya teringat Sapi, Babi, Perang, dan Tukang Sihir anggitan Marvin Harris—buku terbitan Marjin Kiri pula. Buku itu memperbincangkan misteri: hal yang kerap kali kita abaikan—seperti halnya belantara Amazon yang misterius, yang begitu fasih dikenal oleh orang-orang Indian Shuar, tapi tidak oleh para kolonialis—sekumpulan pemukim baru, manusia modern—yang berbondong-bondong datang dengan lidah menjulur dan liur menetes; sekumpulan manusia pendamba emas dan hal-hal eksotik di sana. Mereka menggilas pepohonan, rawa-rawa, atau padang rumput untuk dijadikan perkebunan, tambang emas, atau pemukiman baru. Satwa-satwa dijerat demi sekadar dikuliti, atau dijual hidup-hidup untuk peliharaan di kebun-kebun binatang dunia Barat yang putih. Mereka pun pernah melakukan hal yang sama pada sejumlah orang berkulit hitam, berabad-abad silam.

Ialah Luis Sepúlveda, pak tua yang memandu kita melalui Un viejo que leía novelas de amorPak Tua yang Membaca Kisah Cinta—untuk mengetahui seberapa jauh manusia mampu merusak, menumbuhkan kemalangan bagi siapa saja yang bahkan tak mengerti apa-apa. Bagi saya, novel ini mempertontonkan kolonialisme sebagai muasal segenap rentetan kemalangan manusia sekarang.
Novel yang mengambil waktu ketika kolonialis baru saja berdatangan dan Amazon masih tak serusak sekarang, Sepúlveda berkisah tentang Antonio José Bolívar Proaño, si pak tua yang mengalami tiga kemalangan yang membuatnya sepi sendiri. Pertama, ia kehilangan istrinya, Dolores Encarnacion del Santisimo Sacramento Estupinan Otavalo, di tahun kedua tatkala tinggal di sebuah bukaan pemukiman baru bernama El Idilio. Kepergian mereka dari San Luis, kampung halamannya, tak lepas dari bacotan para tetangga nista. Di pemukiman baru itu, Dolores mati disergap malaria. Seperti pemukim baru lainnya, Antonio Bolivar dan istrinya sungguh kesulitan untuk bertahan hidup, dan kematian Dolores membikin tambah runyam keadaan Antonio Bolivar.

Antonio Bolivar menanam dendam kesumat pada neraka hijau bernama Amazon itu. Namun, hidup mesti terus berjalan. Orang-orang Indian Shuar membantu para pemukim baru untuk bertahan hidup—mengajari cara berburu, memberitahu cara mengenali buah yang dapat dimakan, membangun gubuk tahan banjir, dan sebagainya. Dendam kesumat Antonio berubah jadi asap yang sirna berkat air hujan. Ia memutuskan belajar cara hidup orang Indian Shuar, yang bebas dan mengerti alam. Akhirnya ia menjadi seperti mereka, namun bukan bagian dari mereka.

Lalu, ia bertemu Nushino, seorang Indian Shuar lain dari pedalaman Amazon yang penuh rahasia. Mereka bersahabat, berburu bersama, dan menukar buruan dengan secukupnya keperluan kepada para pemukim El Idilio. Sampai suatu ketika Antonio Bolivar kehilangan Nushino, yang mati ditembak orang-orang kulit putih. Kehilangan itu tambah menyakitkan sebab ia diusir selamanya dari perkemahan Indian Shuar. Begitulah kemalangan kedua menimpanya.

Antonio Bolivar yang malang dan kesepian tinggal sendiri di sepetak gubuk di El Idilio. Di sana, menjalani masa tua sendirian, ia membaca dan mengenal kisah-kisah cinta yang jauh dari novel-novel yang diperolehnya dari dokter gigi Rubicundo. Baginya, membaca merupakan sebuah penemuan mutakhir. Lebih dari itu, membaca merupakan obat dari masa tua yang mengerikan, sebuah masa yang penuh dengan sepi dan sendiri. Kalau sebuah novel wajib dipungut amanatnya, kita bisa memperolehnya dari situ. Ia pun memutuskan menggandrungi aktivitas membaca kisah cinta. Bukan yang penuh bahagia, melainkan yang penuh penderitaan luar biasa. Ia pak tua yang amat menyukai kemalangan, rupanya.

Seturut usianya yang makin renta, Amazon yang lebih tua dari mesin-mesin besar yang menjarahnya pun makin rusak. Seturut penjarahan itu pula, hak hidup makhluk lain semakin terusik. Novel ini mengisahkan pula kebiadaban manusia lewat kolonialisme yang dilakukannya kepada alam; itu membuat para penduduk asli dan satwa tertekan dan memutuskan masuk ke belantara Amazon paling dalam. Hal yang dianggap orang kulit putih sebagai ‘kemajuan peradaban’ membuat hutan jadi gundul, dan hewan menjadi susut jumlahnya dan lebih buas perangainya.

Kebuasan itu menelan korban. Seorang kulit putih, dengan hasil buruan tiga lembar kulit anak macan kumbang, tewas mengenaskan oleh induk mereka. Walikota tambun yang amat pandir menuding Indian Shuar, tetapi Antonio Bolivar membuat kebodohannya disaksikan pemukim El Idilio. Di sini, tampak jelas bagaimana kepongahan khas orang-orang terpelajar.

Saya dibuat tersenyum riang oleh Yang Mulia Walikota terpelajar. Pak walikota memerintahkan perburuan yang dipimpinnya sendiri, dan tampak lebih jelaslah kepongahan serta kedunguannya yang amat sangat. Mulai dari mengenakan bot karet di tanah berlumpur, hingga memberondong semak-semak. Di hadapan orang-orang yang dipimpinnya—termasuk si pak tua—wibawanya betul-betul terinjak jadi setipis kulit lumpia berkualitas paling buruk. Lantaran merasa tertekan dan bakal habis sehabis-habisnya, ia memerintahkan pak tua seorang diri memburu si macan kumbang betina.

Kolonialisme adalah ke-sok-tahu-an orang-orang Barat kulit putih. Sejak masa itu dimulai, banyak sekali bangsa yang terbantai, terhapus budayanya, dan tercerabut dari pangkal. Mereka terpaksa tunduk di bawah moncong senapan para kolonialis, mengubah keyakinan, dan berpindah rumah demi ‘peradaban umat manusia’. Sejarah memperlihatkan bagaimana Indian Amerika Utara dicap sebagai orang-orang liar, kemudian dibantai. Kini, yang tersisa mendiami kamp-kamp suaka. Sama halnya bangsa Aztek di Meksiko maupun Inca di Amerika Selatan. Begitu juga dengan seluruh bangsa terjajah yang masih menanggung derita kolonialisme sampai sekarang, mungkin selamanya.

Kolonialisme juga menjangkiti bangsa terjajah. Lihatlah Indonesia. Sekejap kita akan menoleh ke timur, atau Senayan, atau kantor-kantor kelurahan tempat kita mengurus KTP-el. Oh, tak perlu jauh-jauh, batok kepala kita sesak olehnya.

Novel ini seolah-olah menertawakan gagasan kemajuan manusia selama ini. Kita, yang silau akan pencapaian orang Barat pun dibuat meringis. Dengan segala derita lingkungan yang lambat laun ditanggung manusia, sambil memandangi resor mewah pinggir teluk yang disakralkan suku setempat, di mana keduanya saling menjaga dan bergantung, kita berujar: Hei, lihat apa yang kita bangun! Cantik, bukan?

(Kalau telah demikian, sesungguhnya kita hanya tidak sadar oleh majunya orang-orang yang kita anggap tak berpendidikan itu, yang primitif, dan arogan. Siapa, sih, yang bebal lagi pandir: kita atau mereka?)

Antonio Bolivar menyanggupi Yang Mulia Walikota terpelajar. Kemalangan ketiga akhirnya tiba. Ia berhasil membunuh macan kumbang betina itu, salah satu anak asuh alam, seperti dirinya. Dengan penuh kesedihan, sambil menangis ia mendorong tubuh macan itu ke sungai.

Usai menyumpahi seluruh manusia yang menjarah Amazon, pak tua itu menuju gubuknya, dan merengkuh novel-novel cintanya. Sepi sendiri, tak acuh pada kebiadaban umat manusia. []


Judul
Pak Tua yang Membaca Kisah Cinta
Penulis
Luis Sepúlveda
Penerjemah
Ronny Agustinus
Penerbit
Marjin Kiri
Tebal
133 halaman
Tahun Terbit
2017

Penulis dan penerjemah prosa. Pengampu biskuatsusu.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel