Sepasang Mata yang Ia Cari

Sepasang Mata yang Ia Cari

Aku memperoleh kisah ini dari seorang pendatang yang kini meninggali kota yang sama denganku. Aku mengenalinya sebagai seorang tua yang masih dan terus menjajakan koran ke tiap penjuru kompleks-kompleks perumahan. Padahal, ia hanya seorang diri.

Tiap sore ia duduk bersandar kursi berpunggung rajut rotan yang telah keriting. Kacamata agak kusam tersampir di ujung hidungnya, namun ia amat jeli melihatku saat kebetulan lewat depan rumahnya sehabis membeli rokok ketengan. Usai menyadari kehadiranku, pasti ia akan mempersilakanku duduk di kursi lain di sebelahnya. Dan aku tak enak hati apabila mesti menolaknya.

"Ini,” katanya sembari mengulurkan kotak rokok beserta geretan, “mari rokokan dulu. Anak muda kok gak merokok," guraunya kemudian.

Sebenarnya aku telah mengantongi rokokku sendiri. Aku hanya mengambil geretan di atas bungkus Sukun Merah kesukaannya dan mulai berebut oksigen untuk menimbulkan bara di ujung rokok kami.

Ia menutup korannya; terdiam memandangi plafonnya yang bolong-bolong. Tentu saja sambil mengembuskan sisa-sisa asap dari mulutnya.

"Aku jadi teringat,” tuturnya khusyuk, “seorang pengembara muda sepantaranmu."

Sebagaimana mendengar petuah, aku mempersiapkan telinga baik-baik untuk kisah itu. Dan beginilah kisah itu:

Ia selalu pergi ke mana pun ia bermimpi dan ia bertemu banyak orang. Ia selalu menanyakan satu pertanyaan yang sama dan ia selalu cemas saat menanyakan hal itu.

Pada suatu siang menjelang sore, di toko pojokan, ia berjumpa dengan Kakek. Ia menanyakan, di mana keberadaan mata pelengkap penglihatannya. Kakek sedikit gusar dan balik bertanya, "Sepasang mata yang mana?"

Ia bercerita: semenjak Parjo meninggal, ia seorang diri harus mencari sepasang mata untuk melengkapi penglihatannya. Pandangannya tak begitu jelas melihat seisi dunia dan kerap berhenti di tengah jalan; bersandar pada tiang listrik, sebab kepalanya akan pening terbayang sepasang mata itu.

Parjo pernah bilang, Aku tak sendiri, dan tugasku adalah mencari.” Sialnya, aku telah mencoba mencari dengan susah payah, dan aku tetap berputar-putar dalam kepayahan. Dengan terlunta-lunta, aku bertolak dari makam Parjo, hingga sejauh ini. Namun, tak beroleh apa pun jua.

"Lalu,” Kakek menyela, “kini kau telah menemukannya?"

"Aku menemukannya, sekaligus kehilangannya."

***

Aku pernah melihat bola mata yang terus membayangiku itu. Ia milik seorang perempuan. Kulihat dari dekat, tetapi setelah kuamati lekat-lekat, tampak sedikit berbeda, dan aku mulai meragu.

Dua-tiga hari telah lewat, namun aku semakin kepikiran oleh sepasang mata yang agak berbeda itu. Selalu kuselipkan sepucuk surat di antara lipatan koran yang kuantar setiap pagi hari. Senyumnya semakin hari semakin berbeda saja. Dan aku semakin yakin, itulah bola mata yang selama ini kucari.

***

Koran yang direngkuhnya terjatuh dan tercecer. Pak tua dengan sigap segera mengumpulkannya, dan kembali membaca. Ia menyudahi apa yang ia ceritakan kepadaku. Lalu ia melolos sebatang lagi kretek dari wadahnya dan menyalakannya.

Lalu-lalang kendaraan di jalan di depan rumah lumayan sepi, sebab saat itu hari libur. Kompeks perkampungan itu memang banyak dihuni oleh buruh pabrik, yang pastinya amat menikmati hari libur.

Kulolos lagi sebatang rokok dari saku kiriku, kunyalakan, lalu kuembuskan pelan-pelan; melegakan dada yang sedari tadi berdebar oleh kisah pak tua itu.

***

Kisah cinta Bejo tak seberuntung namanya. Setelah hari ketujuh ia mengantar surat kabar ke rumah Laras, ia tak akan bisa bertemu dengan kekasihnya lagi. Laras tidak lagi meninggali rumah itu. Ia tak begitu menerima keadaan Bejo, yang hanya bermodal sandal yang kebesaran dan kaus oblong yang menyedihkan. Dan Bejo tak sempat menanyakan perihal mata Laras yang sedari dulu dicarinya.

Bejo kembali melanjutkan pencariannya dengan hampa, dan terus mengingat surat ketujuh yang Laras buang ke mukanya. Ia mengembara dengan sesal setelah itu.

***

Pandangan kami kosong usai kalimat terakhir si Kakek. Jalanan kian sepi dan langit mulai redup.

Aku menyesal tak sempat bercerita soal Parjo dan Laras kepada Bejo. Tak sampai aku mengawali cerita itu, ia telah berlari mencari sepasang mata yang ia cari. Berlari seperti kuda; berlompatan layaknya kodok.

Ia mencari Parjo, yang selama ini menancapkan keyakinan di kepalanya, bahwa ia tak sendiri.

Pati, 7 Juli 2020

Menulis cerpen dan puisi, juga membuat desain grafis.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel