Kematian Kecil Sekolah

Kematian Kecil Sekolah

Dzihan, adik saya paling kecil, yang kini tengah duduk di kelas tiga sekolah dasar selalu punya beragam alasan untuk tidak menggarap setiap tugas pemberian gurunya; ia bisa tiba-tiba sakit perut, kakinya pegal, punya janji bertemu kawan, dan masih banyak lagi. Pagi ini, tak hanya berdalih janji bertemu kawan, bahkan baru rampung satu nomor soal, air matanya telah menjadi mata air. Tentu saja itu senjata ampuh betul: tak seorang pun akan memaksanya lagi.

Semenjak pandemi, telah berbulan-bulan sekolahnya diliburkan dan beralih "belajar di rumah". Daring dipilih sebagai alternatif belajar. Namun, negara ini begitu pelit (atau miskin?); tak satu pun bantuan teknologi penunjang belajar daring diberikan.

Dzihan masih kelas dua ketika itu, dan selama ujian kenaikan kelas, setiap orang di rumah adalah pengingat: "Besok ujian, kau mesti bangun pagi." Tapi itu hanya pengingat bernasib sama seperti dering alarm yang sengaja tak diacuhkan. Esoknya ia masih molor hingga pukul sepuluh pagi. Barulah, selepas ribut-ribut kecil, ia mulai menggarap pekerjaannya—tepatnya menuliskan jawaban yang didikte mbakyunya. Tapi ia mendingan, masih mau menulis sendiri; tugas-tugas salah satu temannya malah dikerjakan dan dituliskan sekaligus oleh orang lain.

Meski semasa ujian kenaikan kelas terjadi sedikit “drama”, Dzihan tetap naik ke kelas tiga dengan mudah, semacam beroleh giveaway—semua berkat Covid-19.

Di kelas tiga—lewat daring—ini, ia dijejali tugas terus-menerus oleh gurunya. Slogan guru itu barangkali seperti ini: "Tidak diberi tugas, maka murid tidak belajar."

Namun, belajar daring tak semulus yang dibayangkan.

Dzihan cukup beruntung, ada tiga ponsel pintar di rumah, jadi ia tak kesulitan beroleh info tugas-tugas dari sekolah. Berbeda dengan murid lain yang betul-betul tak punya ponsel pintar di rumah; tentu saja ia bakal kesulitan, ditambah solusi sang guru yang tak membantu, "Bila tak punya ponsel pintar bisa pinjam milik teman." Aneh betul kata-kata itu. Ia serta-merta lepas tangan, seperti pemerintah.

Di rumah Dzihan, setiap orang ialah lulusan sekolah—minimal sekolah menengah atas. Itu keberuntungannya yang lain dan sedikit-banyak membantunya memahami setiap apa yang ditugaskan. Namun, bagaimana dengan murid lain, yang orangtua atau kerabatnya tak sekolah sama sekali? Tentu saja urusannya bakal pelik.

Sementara di daerah lain, tak jauh dari rumah saya, ada Dimas, seorang siswa sekolah menengah pertama yang lebih tidak beruntung. Ihwal persoalannya, orangtuanya tak mampu membeli kuota internet—mereka tentu lebih memilih membeli kebutuhan pokok sehari-hari. Walhasil, ia mesti berangkat ke sekolah untuk belajar tatap muka, seorang diri, tanpa teman-temannya.

Telah memiliki ponsel beserta kuota internet, tetapi tak ada sinyal, merupakan masalah lain yang dialami banyak murid di belahan pulau lain—sesuatu yang tampaknya tak diketahui oleh Nadiem Makarim.

Barangkali Dzihan, Dimas, dan banyak murid lain tak seberuntung orang-orang kaya—pastilah masalah-masalah di atas tak dirasakan sama sekali—yang enteng saja membeli segala penunjang belajar.

Kesenjangan di sekolah amat nyata. Dan kekerasan simbolik—sebuah pemikiran Pierre Bourdieu—itu memang nyata adanya. Meski demikian, sekolah telah kadung digadang-gadang menjadi penjamin belajar manusia. Dan pada hari ini, setiap orang takut tidak sekolah.

Peliknya lagi, orang-orang kini tidak bisa membedakan antara pendidikan, belajar, dan pengajaran. Orang-orang menyamakan ihwal: pendidikan adalah sekolah, belajar adalah pengajaran, dan ilmu adalah tugas-tugas tak ada habisnya.

Sekolah nyatanya tergagap-gagap pada masa pandemi ini. Pelaku dan pemangku kebijakan pendidikan kelimpungan.

Selain masalah di atas, pangkalnya menurut saya adalah sekolah tak mampu menjadikan manusia sebagai subjek belajar. Sekolah masih mendudukkan manusia sebagai objek belajar, dan ketakmampuan berpikir mandiri adalah imbasnya.

Ketika sampai sekarang sekolah tak mampu memerdekakan manusia menjadi subjek belajar, mestinya ia telah ditinggalkan sejak lama. Ia seharusnya umpama barang-barang antik yang layak dimuseumkan. Setiap orang lantas menjadikannya kenangan masa lalu yang dapat sesekali diingat kembali dan diziarahi.

Namun, kenyataan berbicara lain.

Sekolah hari ini masih saja dianggap penentu belajar atau tidak belajarnya seorang manusia. Roem Topatimasang tak berlebihan mengatakan, "Sekolah itu candu," seolah-olah orang-orang demikian bergantung dengan sekolah. Dengan begini sekolah sama persis dengan nasi bagi orang Jawa: tidak makan nasi berarti tidak makan. Sekolah menjelma dewa. Dengan adanya pandemi, semua itu terlihat seperti gajah di pelupuk mata; jelas sekali.

Ivan Illich, pemikir pendidikan, berpuluh tahun lalu telah menuliskan pemikirannya dalam sebuah buku Deschooling Society—kini telah tersedia terjemahan dalam bahasa Indonesia berjudul Bebaskan Masyarakat dari Belenggu Sekolah. Dalam bukunya, ia ingin melucuti sekolah dari kemapanannya. Hari-hari ini mungkin pandemi tengah membantu gagasan itu dengan memperlihatkan kegagapan-kegagapan sekolah.

Bila sekolah telah dilucuti dari kemapanannya, Illich menawarkan alternatif lain yang dirangkum dalam terma “empat jaringan”: pertama, jasa referensi pada objek-objek pendidikan; kedua, pertukaran keterampilan; ketiga, mencari teman sebaya yang cocok; dan keempat, jasa referensi pada pendidik pada umumnya. 

Penjelasan sederhana terma itu begini: Dzihan hanya perlu bertemu dengan teman sebaya yang memiliki minat yang sama dengannya. Misalnya, ia berkeinginan menjadi pelukis; ia cukup bertemu dengan teman-teman yang sama-sama belajar melukis seraya saling berbagi keterampilan. Bila dirasa perlu, ia bisa menemui orang-orang yang kemampuan melukisnya telah masyhur. Begitu pula Dzihan, dibebaskan seluas-luasnya mengakses referensi berkaitan dengan melukis.

Lalu, di masa pandemi ini, Dzihan tak perlu lagi menggarap tugas-tugas "aneh" itu dan memaksa diri membeli perangkat teknologi (sebuah paksaan dari sekolah) yang tak mampu dibeli—Satu contoh kekerasan simbolik disebabkan oleh sekolah. Ia bisa belajar di mana, kapan, dan dengan siapa saja, tak harus lewat "sekolah".

Akhirnya belajar menjadi kata umum yang bisa dirasakan seluruh manusia, sebab tak lagi dimonopoli sekolah. Begitu pula tak bakal lagi ada kesenjangan ekonomi dan kekerasan simbolik yang disebabkan oleh sekolah.

Dengan demikian, sekolah lebih baik dibubarkan saja. Dan bubarnya sekolah semestinya hanya menjadi kematian kecil yang tak perlu ditangisi sepanjang masa. []

Rembang, 24 Juli 2020


Membaca dengan riang. Menulis dengan gembira. Sila mampir ke rumahnya di raungruangriang.blogspot.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel