Lelaki Mati Sebelum Bahagia

Lelaki Mati Sebelum Bahagia

Sebelum kematiannya, di dapur Sarine tengah merebus mi instan untuk makan siangnya; tentu tak lupa bubuhan irisan cabai, sawi, dan kol. Sementara menunggu mi untuknya matang, lelaki itu hanya duduk memandang jajaran buku di rak gantung; memandang pantulan wajahnya di kaca hitam jendela. Di situ hanya ia lihat putih giginya; hanya ia lihat putih matanya, dengan samar-samar.

Lalu punggung buku-buku itu memunculkan ingatan masa lalu di setiap sisi kepalanya, tentang saat-saat menjelajah dengan mobil Gaz 51 di jalan berdebu; melindas ayam dengan ban mobil baru; atau melintasi hutan dengan bus bersama ayah yang berkisah tentang kenangan lama: Di bawah rerimbun pinus dulu ayah bercinta, dengan tetangga.

Memang cerita-cerita selalu memiliki bagian yang rumpang. Lelaki itu tak menemukan kebahagian di punggung buku atau warna sampul, cerita masa lalu, basah hujan, atau keluarga bahagia dengan anak-anak tolol mereka. Tak ada yang bisa membantu menemukan sosok kecilnya: ia yang berdiri tersenyum di sebuah foto keluarga.

Sebelum kematiannya, Sarine menghidangkan mi rebus yang ia buat untuk lelaki itu; tak lupa dengan irisan cabai, sawi, dan kol.

Lelaki itu hanya duduk, menoleh ke kanan-kiri. Di kaca hitam tulang pipiya tampak samar-samar. Sepintas, matanya terlihat putih penuh. Lalu pandangnya jatuh pada punggung buku-buku itu. Pada buku Bus dan Ikan Julung-Julung romannya dibuat terkesiap. Buku itu telah mengungkit masa lalunya ketika menjadi kutu buku: membaca buku puisi dan tertabrak mobil di tikungan jalan hingga kepala pecah, dada nyeri, dan ingatannya seketika buram.

“Ini,” kata Sarine sembari menyodorkan botol saus yang segera ia susulkan selepas mi instan terhidang, “barangkali kau perlu. Walaupun itu sudah pedas, dengan lima cabai,” ucapnya gemetar.

Lalu mata Sarine melirik ke arah foto hitam-putih di dinding, di barisan pajangan foto pelanggan top yang pernah datang. Samar-samar ia melihat lelaki itu; samar-samar ia tahu memang lelaki itu sesaat sebelum kematiannya pernah memesan mi instan kepadanya. Ialah seseorang yang tertabrak mobil di tikungan jalan.

“Ah ya, lama sekali aku tak makan. Saat sebelum mati pun aku belum makan sama sekali; ah ya, kecuali mi instan. Kupikir akan lebih bahagia jika bisa makan mi instan sekali lagi,” oceh lelaki itu. “Tapi di kubur sukar cari warung makan, apalagi merebus mi sendiri.”

Samar-samar, Sarine berucap: Andai saja kau rajin salat, mungkin Tuhan akan menolongmu. Lelaki korban tabrak lari itu melanjutkan makan mi dengan lahap. Ia santap keriting mi berselang-seling seruputan kuah, suapan mi lagi, seruputan kuah lagi, seolah melewati tahun-tahun panjang tanpa makanan. Hingga akhirnya ia berhenti, menyadari meja makan tempat ia bersantap ria bertebaran percikan kuah kuning; tercecer, di tepi piring, di tepi meja.

Samar-samar terngiang bercak darah di ingatannya, tergenang di kepala lelaki kurang bahagia itu; tentang sirine ambulans dan kerumunan orang yang susul-menyusul, tampak samar-samar merembesi ingatannya.

Sarine mendekat. Ada tisu yang ia sodorkan dengan gemetar tangan. Piring-garpu ia kemas. Ia jauhkan itu dengan tanda tanya yang samar-samar.

Lelaki pemakan mi merasakan pening di kepala. Ia pijat-pijat pelipisnya, seolah ada yang ia padatkan, ia jejalkan masuk lagi, dan tak ia biarkan pergi; seperti hari kelam, di mana taman-taman bunga berangin, jalan-jalan dingin, saat ia membaca Bus dan Ikan Julung-Julung.

Sarine masih bertanya-tanya. Wajah lelaki itu masih samar-samar di memorinya. “Dia? Apa ya? apa bukan? Lelaki pemakan mi dan peminjam buku Bus dan Ikan Julung-Julung tempo hari.” Sarine hanya berpikir sederhana soal kematian: lubang hitam yang tak akan membuat orang kembali lagi ke dunia.

Namun, lelaki itu betul-betul seseorang yang pernah memesan mi instan, meminjam buku di warungnya lantas membacanya dengan antusias, lalu mati seperti bangkai binatang di sebuah tikungan jalan. Sarine mencubit pipinya, terasa sakit, tetapi ia belum puas; ia cubit lagi lengannya, rasanya sama, tetapi ia tak cukup yakin.

Sarine memberanikan diri bertanya ke lelaki itu. Dengan gugup ia bertanya: Apakah kau yang mati kemarin? Bersama buku Bus dan Ikan Julung-Julung yang kau genggam?

“Ya,” kata lelaki itu samar-samar oleh sebab lubang bekas luka di pipinya. “Kemarin aku sempat meminjam buku itu, tapi  belum sempat kukembalikan.”

“Tak apa. Saat kau mati, kupungut buku itu dalam keadaan utuh. Untung kematianmu tak sampai merusak buku itu.”

“Baguslah. Bagaimana kematianku?”

“Kau terkapar seperti bangkai hewan buruan. Tapi aku cukup penasaran, kenapa kau kembali lagi ke dunia ini?”

“Rasa-rasanya aku mati dalam keadaan kurang bahagia, jadi aku kembali.”

“Apa yang membuatmu bahagia?”

“Mi rebus masakan Ibu.”

“Sekarang kau bahagia?”

Lelaki itu mengangguk, dan seketika itu pula ia kembali mati, di tempat duduk, di meja tempat ia makan mi instan itu. Sarine berdiri di depan kompornya dengan haru, menyaksikan kejadian itu. []


Pengrajin puisi, prosa, juga esai. Buku puisi debutnya: Sepotong Ikan Kerinduan Ibu (Pustaka Bacabukumu, 2020). Pengelola azizafifi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel