Membaca itu Biasa-Biasa Saja

Membaca itu Biasa-Biasa Saja

Bagi saya, membaca adalah aktivitas yang biasa-biasa saja. Tafsir yang beredar tentangnya yang kerap kali terdengar luar biasa. Membaca dapat menambah wawasan, membaca itu bercermin untuk mengenali diri, membaca itu berpetualang menyusuri gagasan-gagasan besar. Ada banyak tafsir soal membaca, yang biasanya akan dinyatakan ketika merayakan aktivitas membaca, atau ketika berdakwah mengajak orang-orang untuk membaca. Padahal, ada kalanya membaca itu sesederhana membaca; seseorang berhadap-hadapan langsung dengan teks, berusaha menangkap makna-makna yang mungkin muncul darinya. Sesederhana dan serumit itu.

Tafsir-tafsir soal apa itu membaca mungkin sepanjang sejarah peradaban manusia. Sebelum buku diciptakan, orang-orang membaca gerak awan, untuk mencoba menerka cuaca; orang membaca bintang, sebagai upaya menentukan arah; orang membaca mata liyan, ingin mengenali siapa yang sedang ia hadapi. Membaca, pada dasarnya, hanyalah perkara praktis dalam keseharian.

Lalu terciptalah buku. Dan muncullah tafsir atau pembacaan bahwa membaca buku itu penting. Tapi, penting bagi siapa? Mengapa ia penting? Lalu datanglah modernisme. Dan hadirlah pandangan bahwa membaca itu keren, sesuatu yang seksi. Membaca seolah-olah menjanjikan gerbang ke dalam struktur sosial tertentu, orang yang membaca jadi bagian dari mereka yang dianggap pintar, dianggap mengerti, dianggap beradab.

Bahkan, seseorang bernama Tim Parks menulis buku tentang membaca, judulnya The Novel: A Survival Skill. Dari judulnya, dapat terbaca seolah-olah membaca novel akan meningkatkan kemampuan manusia dalam bertahan hidup. Atau, ada lagi manusia bernama Thomas C. Forster, ia membayangkan dirinya dapat memandu para pembaca sastra, dengan menulis buku berjudul How To Read Literature Like A Professor. Di sini, saya tidak ingin mengulas buku-buku tersebut. Dan peganglah kata-kata bijak yang ilahiah itu, jangan baca buku dari judulnya. Bijaknya, jika memang ingin tahu, sila cari bukunya, dan dibaca sendiri. Saya akan senang hati diajak berbincang tentang kedua buku itu.

Pengalaman membaca, bagi saya, selalu menjadi pengalaman yang personal.

Saya lupa kapan dan di mana saya membaca analogi tentang membaca ini. Tapi saya suka dengan pengandaiannya. Buku-buku itu bunga, dan pembaca itu kupu-kupu. Hanya kupu-kupu yang menghinggapi bunga yang akan mendapati kakinya dipenuhi putik dan benang sari. Dan kupu-kupu tak tahu seberapa banyak atau sedikit putik dan benang sari yang nantinya menempel di kakinya setelah ia hinggap di sekumtum bunga.

Analogi di atas boleh jadi terkesan klise bagi beberapa orang, dan tidak sepenuhnya pas. Misal, membaca buku untuk mencari referensi karya tulis tentu saja tidak bisa bergantung pada kebetulan seperti putik dan benang sari yang menempel di kaki kupu-kupu. Seseorang yang membaca sebagai seorang akademisi mestinya membuat metode membacanya sendiri untuk dapat mengumpulkan putik dan benang sari yang ia harapkan. Misal, setelah membaca ia mencatatkan tafsirannya atas bacaan itu. Ia tak pernah tahu kapan ia akan lupa dengan apa yang baru saja dia baca.

Atau, misal lain, seseorang yang membaca untuk mencari pembenaran atas yang ia yakini sebelumnya. Ketika ia masuk ke dalam buku, dan mendapati yang menempel padanya adanya adalah hal-hal yang tidak ia harapkan. Kerap kali ia akan mengembangkan metode membaca tersendiri untuk membersihkan kakinya dari putik dan benang sari yang tidak ia inginkan. Ia, barangkali, akan menuliskan sebuah catatan berisi kritikan atau sanggahan, yang pasti untuk mempertanyakan keabsahan hal-hal yang baru saja ia baca.

Apapun itu, membaca akan menjadi suatu pengalaman personal dan praktikal. Orang membaca apa yang ingin ia baca. Dan tiap orang akan merespons bacaannya dengan caranya masing-masing. Bahkan ketika orang-orang itu membaca sebuah buku yang sama. Justru karena tiap orang akan menciptakan pembacaan tersendiri atas sebuah buku, relasi antarpembaca selalu jadi hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Bertemu dengan orang yang memilih bacaan yang sama adalah kenikmatan tersendiri. Berinteraksi dengan pembaca lain, seorang pembaca akan mendapati dirinya mungkin menemukan lawan debat, teman diskusi, atau kawan sepemikiran.

Saya tidak percaya pada keabsolutan teks, bahwa suatu teks punya cara tersendiri untuk dibaca, punya makna tertentu yang sedang diusung. Teks tak ubahnya sebuah sabana yang asing untuk ditualangi, dan tiap pembaca akan menjadi si petualang untuk dirinya sendiri. Bahkan dalam pembacaan ulang. Ketika seorang pembaca membaca sebuah buku yang sama kedua kalinya, ia akan mendapati dirinya mengalami pembacaan yang berbeda dari sebelumnya. Di sini, ia boleh dibilang sedang bertemu dengan pembaca lain. Dirinya yang dulu bertemu dirinya yang sekarang di hadapan teks yang sama. Ingatannya tentang apa yang dia rasakan ketika membacanya untuk pertama kali dan kesan-kesan yang dia tangkap ketika membaca ulang akan jadi semacam perbincangan di dalam kepalanya.

Apabila hal pertama yang diajarkan membaca ialah bagaimana menjadi sendirian, berbagi cerita tentang bacaan adalah ruang istirahat dari kesendirian itu. Tentu saja, hal ini dapat dibaca sebagai tafsir atas membaca yang sedang saya usung, yang masih sangat mungkin ditafsirkan ulang, entah itu didukung atau disanggah atau dilengkapi atau dinafikan. Dan tentu saja, hal itu tak akan menjadi soal.

Tak ada yang agung perihal membaca. Aktivitas membaca buku itu setara dengan aktivitas keseharian lainnya. Jikapun pada akhirnya para pembaca berkumpul untuk merayakan aktivitas membaca, itu sama halnya dengan para kolektor perangko yang berkumpul, atau para pengendara Vespa yang berkumpul. Di antara mereka, pastinya akan muncul obrolan-obrolan yang mereka anggap sebagai keseruan. Dan seiring berjalannya waktu, barangkali akan muncul tafsir-tafsir yang terkesan luar biasa tentang mengoleksi perangko atau mengendarai Vespa, yang barangkali melampaui aktivitas mengoleksi perangko atau mengendarai Vespa itu sendiri. Dan membuat mereka lupa untuk terus mengoleksi dan berkendara.

Catatan:
Tulisan sebagai pemantik acara Diskusi RBA #1 yang diadakan Ruang Baca Abdussalam, 18 Agustus 2020.

Penulis dan penerjemah lepas; tinggal di Cepu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel