Sejarah Singkat Saya dan Buku

Sejarah Singkat Saya dan Buku

Barangkali ketika sekolah dasar, bagi saya: buku adalah monster mengerikan dan membaca adalah aktivitas menjemukan. Sejak kecil saya tak pernah menemukan kesenangan dari buku. Buku hanya berisikan ketikan kecil-kecil—dan isinya itu-itu saja. Waktu itu saya hanya mengenal dua jenis buku: buku paket milik pemerintah dan buku lembar kerja siswa (LKS) yang kertasnya buram dan membikin mata sepet. Buku-buku itu tak ada yang menarik, tak banyak gambar, teksnya membosankan, dan penuh oleh soal-soal yang membikin enek seisi perut. Bazar buku semasa sekolah dasar  juga melulu menawarkan buku-buku mungil Tuntunan Sholat Lengkap, Do'a Sehari-hari, atau Kamus Lengkap.

Pada usia yang menginjak kepala dua, ketika tengah mengunjungi salah satu toko buku bergengsi di kota, saya baru menyadari adanya buku anak yang menyenangkan selain buku gambar dan buku mewarnai. Mereka adalah buku dongeng, ensiklopedia, serta majalah—tentu saja harganya tak semurah buku-buku di bazar buku sekolah dasar. Tata bahasa di sana telah diatur dan disesuaikan dengan tingkat kemampuan berbahasa anak. Tempat tinggal yang jauh dari perkotaan barangkali menjadi sebab absennya buku anak yang menyenangkan pada masa kecil saya. Biarpun ada, tak semua orang tua mau dan mampu membelinya. Mungkin menurutnya, sekolah dan buku-buku sekolah sudah sangat cukup untuk anak-anak mereka.

Jika diingat-ingat kembali, ketertarikan terhadap buku dimulai ketika saya berada di pesantren dan sekolah menengah pertama sebagai usaha untuk menghibur diri dari kejenuhan. Saat itu saya pernah membeli sejumlah novel, meski tahu di sana dilarang menyimpan, membawa, serta membaca novel. Barangkali saat itu novel dianggap barang haram, yang apabila ditemukan di lemari santri, wajib dimusnahkan. Saya jadi ekstra hati-hati dan mesti pintar-pintar menyembunyikan novel. Sebab jika tidak, pastilah kena razia seksi keamanan pesantren atau guru bimbingan konseling (BK) di sekolah. Sialnya, saya tak benar-benar pintar menyembunyikan 'barang terlarang' itu. Saat tengah asyik membaca di bangku depan kelas, saya tak menyadari guru BK sedang lewat dan mengintai saya. Ia lalu menarik novel dari tangan saya—tanpa pernah mengembalikannya. Selepas itu, predikat saya sebagai 'siswa baik' mesti beroleh catatan kuning dan masuk kantor BK hanya karena membaca novel. Sampai kini, saya masih tak mengerti alasan dilarang membawa buku selain buku pelajaran. Saya pikir, novel juga bagian dari pelajaran bahasa, bukan?

Usai kejadian itu, saya tak lagi membaca buku dengan keyakinan tak ingin zalim dan tidak takzim dengan peraturan. Tak ada yang menyenangkan lagi dari buku-buku. Hanya ada buku pelajaran yang menjelma bantal dan selalu merayu setiap lewat jam dua belas siang. Buku menjadi jauh lebih membosankan ketimbang semasa sekolah dasar. Sebab, kini buku hanya berisi rumus-rumus untuk meracik obat. Selebihnya berupa kamus-kamus farmakope atau informasi spesialite obat (ISO). Saya tak mengenal buku lain selain buku-buku itu; kecuali saat kelas sebelas, atas rekomendasi teman, saya sempat mengunduh aplikasi Wattpad dan membaca cerita-cerita di sana. Sebab merasa lama-lama otak menjadi keracunan novel-novel 'hijrah' atau penantian jodoh, akhirnya saya memutuskan untuk mencopot aplikasi itu.

Barulah setelah masuk kuliah saya berjumpa Cantik itu Luka, Dunia Kali, Orang-Orang Oetimu, Cinta yang Berpikir, Aleppo, dan lainnya. Saya bisa membaca sesuka hati tanpa perlu risau bakal ada razia atau penyitaan. Lebih dari itu, saya seolah dibuat terkesima oleh kisah dan cara bertutur yang amat berbeda dengan buku-buku yang selama ini saya tahu. Sejak halaman pertama hingga terakhir saya tak menemui kebosanan. Setiap kalimat seolah-olah memiliki nyawa untuk mengajak pembacanya berpikir, tak seperti buku pelajaran sekolah yang dijejali soal-soal.

Jika sedari kecil saya dapat menemukan dan diperbolehkan membaca buku-buku seperti itu  tadi, pastilah menyenangkan. Sayang sekali privilese terhadap buku-buku seperti yang diperoleh Abinaya Ghina Jamela—penulis cilik yang ketika sekolah dasar telah banyak melahap buku; termasuk buku 'serius'—tak dapat saya miliki. Oleh sebab peminatan studi saya ialah menjadi guru madrasah ibtidaiah, barangkali ketidaktuntasan masa kecil terhadap buku menjadikan saya mulai membaca buku anak dan buku untuk anak, kini dan nanti. []


Penikmat bacaan kanak-kanak.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel