Tempat Terbaik di Semarang

Tempat Terbaik di Semarang

Ketika bosan sekonyong-konyong datang lewat jalan tak tentu sewaktu membuka mata saat siang hari dalam pengap kamar indekos serta dibarengi ketidaktahuan akan sesuatu yang mesti diperbuat atau barangkali memang sedang tak ingin berbuat apa-apa, aku akan menimbang-nimbang dan mengingat-ingat sisa uang di dompet; bila cuma sepuluh ribu, aku akan tetap berdiam diri, namun ketika lebih dari itu, aku akan pergi ke suatu tempat.

Atau ketika dompet penuh oleh uang—barusan memperoleh kiriman, misalnya, sedang berharap suatu penghiburan, sedang ingin bersenang-senang tapi seorang diri saja, aku akan pergi ke suatu tempat.

Atau ketika dunia seolah-olah tengah mengejek, menyumpah-serapahi, mengutuk, mengalahkanku, dan tidur tak mampu melawannya, aku akan mencari tempat pelarian: suatu tempat yang tak perlu biaya banyak tetapi menyembuhkan banyak.

Atau ketika rindu memenuhi kalbu, menuntut jumpa tapi tak keturutan, aku akan memilih pergi ke suatu tempat.

Perlu uang tujuh ribu untuk pulang-pergi—sebetulmya bisa dengan dua ribu saja, tapi saat itu kepraktisan sedang tak bisa ditebus dengan selembar kartu pelajar. Dengan menaiki bus Trans Semarang, aku akan dibawanya ke suatu tempat itu.

Biasanya, menit-menit kosong akan berakhir seperti ini: menunggu bus di halte, baik sendiri maupun bersama orang asing yang tak saling bicara. Kala bus tampak di ujung jalan: berwarna merah atau biru; aku mulai berdiri mendekat pintu, menunggu kondektur mempersilakan—jika ada penumpang yang hendak turun, aku menungguinya; selepas itu aku akan melangkah masuk bus.

Berdiri semisal sesak atau duduk sewaktu longgar, tak masalah bagiku. Ketika mesti berdiri berdesakan, aku akan memilih melakukannya di dekat kaca jendela. Sebab di dekat kaca jendela, aku bisa melihat jalanan, motor, mobil, dan lalu-lalang benda-benda lain. Atau sesekali aku akan mengedarkan mata ke seluruh penumpang bus: orang tua, pelajar, ibu-ibu, gadis-gadis, dan orang lain lagi.

Sementara bila longgar, aku akan duduk di deretan kanan atau kiri, lalu menyerong menghadap kaca depan bus, melihat kota Semarang bekerja, atau sesekali berpaling ke arah pintu masuk, melihat penumpang hilir-mudik dari berbagai halte.

Kadang kala ada seseorang bertanya suatu tempat—sebenarnya dalam keadaan demikian aku malas mengobrol, maka aku timpali seperlunya. Kadang aku bisa saja memulai obrolan—ini amat jarang kulakukan. Aku lebih memilih berdiam diri seraya mengamati jalanan, bangunan-bangunan, penumpang-penumpang, atau sesekali menguping pembicaraan supir dan kondektur.

Aku menikmati setiap perjalanan dengan bus ke suatu tempat itu, sebab kepalaku pelan-pelan melepaskan diri dari beban dan darah di tubuhku seolah dicuci dan berganti dengan darah baru.

Dan suatu tempat itu bukan Kota Lama peninggalan Belanda yang sering dielu-elukan itu, melainkan perpustakaan daerah (Perpusda) dan kios-kios buku di belakang stadion Diponegoro.

Demi ke situlah perjalanan ini sering kulakukan.

Sering kali ketika masih di indekos, aku belum memutuskan hendak ke mana. Sewaktu di bus aku mulai membuat keputusan. Alasan kadang datang dengan tiba-tiba, misalnya ketika ada penumpang yang ingin aku ikuti: aku akan berdiam diri di bus itu (aku memberi batasnya sendiri: batas paling jauh adalah stadion), bila ia singgah ke lain halte aku akan mengikutinya—selama masih sejalur dengan Perpusda atau stadion Diponegoro. Bila masih tetap di bus, aku akan mengikutinya, hingga batas akhir di halte dekat stadion.

Di Balik Stadion Diponegoro
Turun di halte terdekat, aku lanjutkan dengan jalan kaki, menerobos keriuhan mobil, motor, orang-orang di trotoar jalan, penjaja penganan, dan terkadang murid sekolahan.

Sekali waktu, aku akan memperlambat langkah kaki, berhenti untuk memandangi gedung-gedung pemerintah, hotel, dan bangunan-bangunan tinggi lainnya. Di jalanan ini, suasananya sedikit adem: masih ada pohon-pohon di kanan-kiri jalan.

Bila ingin, aku akan membaca koran dinding di pertigaan, mencari sesuatu atau sekadar melihat orang-orang membaca. Namun, aku akan malas berhenti bila tak ada orang lain sama sekali.

Kakiku terus berayun.

Bau sampah seperti pengawal kerajaan yang menyambut kedatangan tamu, dan ini berarti sudah dekat dengan kios-kios buku yang berderet sepanjang jalan; satu-dua diselingi kios bengkel motor. "Benar, ini tempatnya," gumamku biasanya, karena aku gampang sekali tersesat dan lupa jalan. Sekali waktu pernah tak menemukan tempat ini, aku putar balik.

Setelah tempat pembuangan sampah, langkah kelima akan membawa kita ke toko buku pertama; aku akan mendekat dan melihat-lihat.

Mulanya, aku risih dengan pertanyaan, "Cari buku apa?" tapi waktu demi waktu kunjungan, aku mulai terbiasa dengan pertanyaan itu. Sesekali aku menjawab dengan judul buku yang aku tahu tak ada di kios-kios itu. Sesekali aku juga beranikan diri bertanya harga-harga buku yang telah dipajang; setelah dijawab, aku mengangguk seolah memikirkannya tetapi kemudian bilang, "Terima kasih. Maaf tidak jadi, mungkin lain kali." Semua itu kulakukan demi melipur rasa bersalahku sebab tak jadi membeli buku. Pikirku, mereka bakal sedikit senang beroleh pertanyaan dan jawaban seorang pembeli, meski ia tak membeli.

Ada beragam buku yang dijual, dari bahan ajar sekolah dasar hingga kuliah, dari buku soal ujian nasional hingga tes CPNS, dari memasak hingga memancing, dari buku fiksi hingga nonfiksi, dari buku baru hingga lawas, dari buku original hingga bajakan. Di akhir-akhir kunjungan, aku sedikit risau dengan buku-buku bajakan. Entah sebab apa, tapi sebetulnya kuakui, dari buku bajakan itulah aku mulai mengenal lebih banyak penulis, mulai Pramoedya Ananta Toer hingga Tere Liye.

Tak puas hanya melihat-lihat dari luar, kadang aku mohon izin untuk masuk ke dalam toko, mengubek-ubek tumpukan-tumpukan buku, yang baru datang maupun yang sepertinya mampat saja di toko itu bertahun-tahun. Aku bakal melihat-lihat semua koleksi buku yang ada di setiap toko.

Aku akan menjelajah dari ujung ke ujung. Meski tak memperoleh buku, setidaknya aku melihat buku-buku lawas dan mengobrol dengan penjual buku. Ini semacam penyembuh paling ampuh selama aku di Semarang.

Matahari mulai tenggelam dan toko-toko sudah tuntas kujelajahi. Lalu aku akan menghabiskan waktu tersisa di warung pinggir jalan di sana: memesan nasi rames, gorengan, es teh, dan sebatang kretek. Pada sebatang kretek yang kusulut dan kuhisap pelan-pelan, aku akan mengembuskannya seraya bergumam lirih, "Betapa nikmat hidup ini."

Di Perpustakaan Daerah
Aku benci perpustakaan kampus yang disakralkan selayaknya agama: harus begini-harus begitu, dilarang begini-dilarang begitu. Dan Perpusda tidak begitu.

Aku akan turun di halte, menyeberangi jalan, menyambut sambutan gerbang, memandang apa saja yang baru dipampang—sering kali pengumuman pementasan. Berjalan pelan dan mencari-cari penjual mi ayam—yang selalu kujanjikan dalam diri sendiri bakal mampir untuk makan siang, tapi tak pernah kesampaian. Bila tak kutemukan, aku akan membuat keputusan lain: makan di kantin pojok belakang gedung Perpusda. Namun bila kutemukan penjual mi ayam, aku sering meragu; sejak pagi belum sarapan, apa perutku tak akan melilit bila makan mi ayam? tanyaku pada diri sendiri—inilah sebab tak pernah sama sekali kucicip mi ayam itu.

Di gedung Perpusda aku disambut alat pendeteksi yang entah berfungsi atau tidak, selalu membuatku  gelisah, seolah-seolah aku mencuri buku di sana. Tak seperti di perpustakaan kampus—aku akan sangat gembira bila berhasil mencuri buku, di Perpusda aku tak ingin mencuri buku. Sebabnya mungkin karena aku nyaman dan kerasan, dilayani dengan sangat baik, dan aku tak pernah adu mulut dengan pegawai.

Selain kenyamanan, buku yang disediakan banyak, dan lumayan tertata, meski tak berurutan. Dulu, ruangan fiksi dan sejarah disendirikan, tapi kini ruangan itu telah menyatu dengan ruang buku lainnya. Dulu aku akan memilih duduk di ruangan fiksi dan sejarah, tapi setelah berubah, aku duduk tak menentu, kadang di dekat rak fiksi dan sejarah dan kadang di dekat rak jenis buku lain.

Ketika bosan, aku hanya akan mengambil banyak buku, menumpuknya, lalu membacanya sekilas hingga empat jam kuhabiskan. Setelahnya, aku akan pergi ke kantin dan makan siang. Di pukul tiga sore, aku sudah berdiri di halte menanti bus untuk kembali ke indekos.

***

Setiap dari kita punya tempat yang sering dikunjungi ketika senang, bersedih, atau ketika merasa benar-benar ingin sendiri. Sewaktu menulis ini, aku merasakan itu dan aku sedang merindukan suatu tempat itu, tempat terbaik di Semarang yang sering kukunjungi. []

Rembang, 11 Agustus 2020

Membaca dengan riang. Menulis dengan gembira.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel