Jose Eduardo Agualusa — Antara Hidup dan Buku-Buku

Jose Eduardo Agualusa — Antara Hidup dan Buku-Buku

Sebagai seorang bocah, sebelum betul-betul belajar membaca, senantiasa kuhabiskan sepanjang hari di perpustakaan rumah, duduk di lantai, membolak-balik ensiklopedia besar yang penuh gambar, tatkala ayahku menyusun bait-bait sukar yang setelahnya—amat pantas—ia musnahkan. Lalu, ketika bersekolah, aku akan sembunyi di perpustakaan untuk menghindari bermain permainan-permainan kelewat kasar yang mana para bocah lelaki sebayaku biasa mainkan. Aku seorang bocah laki-laki pemalu, kurus, sasaran empuk bagi bocah lain mencela. Aku tumbuh—sedikit lebih tumbuh dari yang lain, sebetulnya—tubuhku terbentuk, namun aku tetap menarik diri, enggan berjelajah. Bertahun-tahun lamanya, aku bekerja sebagai pustakawan, dan kurasakan bahagia pada saat-saat itu. Aku telah bahagia, bahkan saat ini, sejak berada di tubuh kecil yang kukutuk, seolah melintasi romansa picisan atau membuntuti kebahagiaan orang lain dari jauh. Kisah-kisah cinta bahagia itu aneh di dalam sastra yang masyhur. Dan ya, masih kubaca buku-buku Felix yang ditinggalkannya terbuka, terlupa di atas meja tidur. Atas beberapa alasan—aku tak yakin mengapa—aku rindu Kisah Seribu Satu Malam, versi Inggris terjemahan Richard Burton. Aku pasti berumur delapan atau sembilan saat membacanya untuk pertama kali, sembunyi-sembunyi dari ayahku, setelah karya itu dianggap cabul. Aku tak bisa kembali pada Kisah Seribu Satu Malam, namun untuk menggantinya aku menemukan penulis-penulis baru. Aku menyukai Coetzee si penulis Boer, misalnya, atas ketepatan dan kekerasannya, keputusasaan yang sama sekali bebas dari kepuasan diri. Aku terkejut mendapati orang-orang Swedia itu mengenal sedemikian karya bagus.

Aku ingat sepetak halaman sempit, sumur, dan seekor kura-kura yang tidur di lumpur. Dulu hiruk-pikuk orang berjalan di sisi lain pagar. Aku masih ingat rumah-rumah itu, teratur rendah dalam cahaya senja berpasir. Ibu selalu di sisiku—seorang perempuan yang rentan dan galak—mengajariku supaya takut pada dunia dan bahayanya yang ananta.

“Kenyataan itu menyakitkan dan cacat,” ucapnya. “Begitulah adanya, begitulah cara kita memisahkannya dari mimpi-mimpi. Ketika sesuatu terlihat sepenuhnya indah, kita berpikir itu hanya sebuah mimpi, dan kita mencubit diri sendiri agar yakin kita memang tidak sedang bermimpi—terasa sakit sebab kita tidak sedang bermimpi. Kenyataan mampu melukai kita, bahkan pada momen-momen ketika itu seperti mimpi. Kau bisa menemukan segala-yang-ada di dalam dunia buku-buku—sesekali dalam warna paling sejati, dan tanpa rasa sakit sungguhan akan segala yang benar-benar ada. Jika diberi pilihan antara hidup dan buku-buku, putraku, kau harus memilih buku!”

Ibuku! Mulai sekarang, cukup kupanggil Ibu.

Bayangkan seorang lelaki muda membalap dengan motornya, di atas seruas jalan kecil. Angin sedang menerpa wajahnya. Lelaki muda itu memejamkan mata, dan merentangkan tangan lebar-lebar, seperti yang dilakukan di film-film, merasakan dirinya sendiri hidup seutuhnya dalam persekutuan dengan semesta. Ia tak melihat lori melintas keluar dari persimpangan. Ia mati bahagia. Kebahagiaan hampir selalu tak bertanggungjawab. Kita bahagia untuk saat-saat singkat tatkala memejamkan mata. []

Catatan:
Ini merupakan salah satu bab dalam The Book of Chameleons karya Jose Eduardo Agualusa, penulis Angola. Bab berjudul bahasa Inggris Between Life and Books ini, dan seluruh isi buku, diterjemahkan oleh Daniel Hahn dari bahasa Portugis. Buku ini diterbitkan oleh Arcadia Books, London. Penerjemahan dari bahasa Inggris dilakukan oleh Achmad Agung Prayoga.

Penulis dan penerjemah prosa. Pengampu biskuatsusu.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel