Bujuk Rayu Satu ke Bujuk Rayu Lain

Bujuk Rayu Satu ke Bujuk Rayu Lain

“Datang saja ke warung seblak Kang Karim,” katanya ketika memberi arah mesti ke mana kepada saya. Sebelum Selasa (4/8), saya telah jauh-jauh membuat janji dengannya. Saya ingin mengobrol dengan pribadi Abdul Karim sekaligus komunitas bacanya di Rembang.

Ia sendiri bermukim di Desa Warugunung, sebelah timur kota tua Lasem; desa yang tersembunyi di balik tembok menjulang rumah Cina tempo dulu; wilayah dengan jarak tempuh 15 hingga 30 menit dari pusat kota Rembang.

Saya tiba pada pukul setengah sebelas, saat terik matahari cukup membuat nyeri di kepala. Dan Kang Karim tahu betul saya tengah kepanasan, segera segelas es teh terjamu di muka. Bermula es teh, lalu cerita Gerobak Baca yang ia rintis tiga bulan belakangan dimulai.

Ia bangga menyebutnya Gebekaka—yang sekaligus menjadi nama akun Instragram khusus untuknya; perpustakan cilik yang ia kemas dalam gerobak jualan; berimpit dan berbagi tempat dengan gerobak seblak. “Awalnya pengin bikin [perpustakaan] besar, bahkan sudah usul ke karang taruna, tapi tanahnya tidak ada,terang Kang Karim pada saya. “Ya jadinya pakai gerobak saya yang enggak dipakai berjualan.

Memang Lasem tak lagi punya lahan lebar lagi luas, layaknya kebanyakan rumah lain di wilayah Rembang pada umumnya. Hanya ada rumah-rumah tua yang berdempetan beserta pekarangan sempit. Ia seperti kota besar lainnya di Indonesia.

Lahan-lahan luas hanya milik mereka para saudagar, itu pun peninggalan nenek moyang dari berabad silam. Salah satunya rumah dengan tembok-tembok menjulang dan memanjang milik para kelompok etnis Tionghoa yang sudah mendiami wilayah itu sejak zaman Majapahit. Mereka datang untuk berniaga, menyelundupkan candu serta senjata perang melalui sungai Bagan. Untuk kepentingan itu pula, dibangun terowongan bawah tanah ke arah sungai.

Kejayaan keturunan tionghoa di Lasem pada puncaknya terjadi saat seorang putra keturunan Tionghoa mampu menjadi adipati Lasem. Oei Ing Kiat namanya; saudagar kaya yang memperoleh tahta ketika seorang pangeran pewaris Lasem lebih memilih menjadi petani tulen pada tahun 1727.

Pada periode kolonial Lasem, sejarah yang tak kalah penting ialah tercatatnya sebagai kota perlawanan terhadap Belanda, yang berkobar diungguni kesewenang-wenangan Belanda dalam mengatur izin tinggal sampai menghentikan kedatangan mereka dari Cina. Dan akhirnya tercetuslah perang Kuning.

Namun perlawanan tersebut akhirnya berbuntut panjang pada sejarah kota Lasem nantinya. Mengubur Lasem menjadi hanya peradaban rumah tua, penuh lumut, dan usang. Sebab atas kekalahan perlawanan Lasem, buku-buku penting disita oleh Belanda, dan dibakar habis; senasib dengan kota-kota di belahan dunia lain yang hancur oleh buku. Sejarah itulah yang diabadikan dan tertulis di sebuah rumah Oei Ing Kiat, yang kini menjadi kedai kopi.

Lalu bagi saya, gerobak Kang Karim muncul di tengah ingatan itu; atas hilangnya catatan Lasem, atas ketidakhadiran pemerintah Rembang memberi akses pada dokumen penting Lasem. Tetapi gerobak Kang Karim seolah memantik harapan. Seolah seperti ungkapan Pramoedya Ananta Toer yang terpuaskan oleh perpustakaan kecil ayahnya, di dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels: “Cukup banyak peninggalan sejarah pada ruas jalan raya pos Rembang-Lasem. Keheranan tidak ada yang bercerita tentangnya dan keheranan itu sedikit demi sedikit terpadamkan oleh bacaan yang ada di perpustakaan ayahku.”

Dan Kang Karim bagi saya berdiri sebagai perpustakaan itu. Melalui dirinya, saya membaca dua buku tentang Lasem: Kisah Perang Perjuangan Lasem dan Menyibak Sejarah Kopi Lelet Khas Lasem anggitan Mohammad Al Mahdi. Memang tidak sebagai pendongeng secara langsung, namun ia kembali membujuk seseorang membaca Lasem kembali dengan menyediakan beberapa buku di gerobak baca yang ia gagas.

Gerobak bukan upaya pertama Karim. Sebelumnya, ia sempat menjemur beberapa buku di dinding warungnya, yang mengingatkan saya akan ulah penerjemah Franz Kafka asal Boja, Sigit Susanto, saat jemuran puisi di Guyub miliknya. Hanya saja berbeda nasib, milik Karim tak diminati orang-orang, tak ada yang datang membaca. “Karena enggak ada yang minat, saya taruh di gerobak saja,” imbuhnya

Setelah itu Karim bercerita lebih jauh, bagaimana ia tergerak dan membuat buku-buku tampak lebih penting hari ini, di tengah bujuk rayu gawai dan gim yang menjangkiti anak-anak Rembang, di tengah-tengah tak banyak lagi anak-anak yang bertanya tentang hutan kebakaran, apalagi tentang tembok-tembok tinggi di Lasem yang sering mereka lewati. “Pengin bikin hobi baca pada anak desa. Apalagi anak desa sekarang sukanya main gim. Jadi pengen memperkenalkan buku kembali. Kan, mereka generasi berikutnya,” katanya.

Namun ia juga sadar, di tengah bujuk rayu gawai, jika hanya pepustakaan, tidak cukup untuk mengundang mereka membaca. Karim paham betul, sederetan buku dan debu-debu yang melekat di setiap rak, serta kebosanan di sana-sini adalah kata lain untuk perpustakaan, tempat yang tak mungkin akan dijamah anak-anak. “Dulu pernah, kan, kalau waktu sekolah ke perpustakaan itu monoton sekali, hanya ada buku yang berantakan, penjaga perpus yang sendirian. Jadi rasanya sepi banget.”

Melalui kesadaran itu Karim membujuk dengan mengundang anak untuk bermain; merenggut kembali ingatan mereka akan gelang karet, lompat tali, sampai pada ular tangga yang kian terkikis dan lenyap.

Atau menggunakan bujuk rayu lain dengan cara menyelami bahasa yang jauh, hingga mengadakan sekolah darurat di tengah pandemi, ketika orang tua tak bisa memenuhi tuntutan menteri pendidikan yang dibesarkan dengan serba berkecukupan itu. “Saya sengaja ambil momen itu biar anak-anak kerasan. Apalagi saat ini belajar mereka keteteran. Enggak ada kuota internet, dan beberapa orang tua mereka belum tentu bisa membantu belajar, belum lagi orang tua mereka yang tidak bisa menggunakan ponsel pintar,” tuturnya.

Selain permainan, Karim punya akal-akalan lain dalam membujuk. Dalam istilah Karim: dengan cara membujuk para pimpinan geng bocah. Layaknya para gangster di dalam film-film, menurutnya anak-anak juga melakukan hal yang sama: suka bergerombol; satu anak dapat mempengarui anak lain. “Anak-anak itu kan ngegeng, mas. Saya pegang ketua gengnya, ternyata berhasil dan beres. Mereka kemudian menarik teman-teman sepermainannya itu. Akhirnya, kan, jadi banyak. Sampai saat ini, di sini kira-kira ada tiga geng, lah,” ucapnya sambil tersenyum.

Perpustakaan yang Karim dirikan masih kecil dan akan selalu kecil, memang, hanya sebatas gerobak sederhana. Namun dengan kehadiran anak-anak, tempat itu akan menjelma rimba, laut luas, pertarungan antara bajak laut dan Negara, atau menjadi semesta luas; tempat di mana para gangster berkumpul, berpetualang, dan terdampar di sebuah pulau bernama Warung Seblak Kang Karim, di sebalik tembok-tembok tuasejarah Lasem. []


Pengrajin puisi, prosa, juga esai. Buku puisi debutnya: Sepotong Ikan Kerinduan Ibu (Pustaka Bacabukumu, 2020). Pengelola azizafifi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel