Mendaur Ulang Hidup dari Tumpukan Sampah

Mendaur Ulang Hidup dari Tumpukan Sampah


Langit sore lingsir di balik perbukitan indah kota Semarang dan gemunung sampah menjulang di tengah langit sore dan perbukitan. Tempat pembuangan akhir (TPA) Jatibarang namanya; pusat pembuangan sampah kota Semarang: tempat wadah pasta gigi, bungkus permen, dan sampah lainnya singgah. Nyaris setiap hari 800 ton sampah ambruk ke sana.

Pada Rabu (9/9) gunungan sampah itu memberi kesan tersendiri bagi saya, sebab itulah kali pertama saya dan seorang kawan mendatangi kawasan itu. Hari itu, sebetulnya kami tak berniat berkunjung. Namun rasa penasaran telah mendorong kami lebih kuat ketimbang daya tarik apa pun, dan tepat pada salah satu gubuk yang sebenarnya sudah tak layak untuk berteduh, kami merapatkan motor.

Saya sebenarnya tak banyak punya tujuan, hanya penasaran dan melihat-lihat saja, tak ingin mengobrol ataupun menulis apa pun. Lalu kebetulan saja seorang ibu tengah memikul keranjang dan gancu di antara tumpukan sampah.

“Ibu tinggal di sini?” tanyaku penasaran. Sambil menjawab si ibu terus mengorek sampah, barangkali bisa memperoleh sesuatu yang bisa dijualnya kembali. “Iya, Mbak, saya punya gubuk di sini, tapi saya juga punya rumah di perkampungan di bawah sana,” jelasnya.

Kupikir pemulung di sini ialah orang daerah lain yang menambang rupiah di bukit sampah Semarang. Tetapi yang kutemui sebagian besar merupakan warga kampung sekitar TPA; mencari barang-barang yang bisa mereka tukar dengan uang, demi mendaur ulang hidup esok hari. “Seperti kardus, botol plastik, ya pokoknya yang masih bisa dijual; yang penting cukup buat makan sehari-hari.”

Tak hanya ada saya, seorang kawan, dan si ibu, banyak pula kambing dan bebek mondar-mandir mengais makanan. Bahkan sebagian memiliki kandang di ujung bukit. Orang-orang sibuk memilah sampah dengan binatang ternak yang turut mengais sampah; supaya sama-sama bisa tetap makan, supaya sama-sama bisa tetap hidup. Potret kebahagiaan itulah yang kemudian saya abadikan. Namun sayang, saya lupa menanyakan nama si ibu. []


Kambing di Atas Bukit

Kais (I)

Memikul Hidup

Belajar Mencintai Kambing

Kais (II)

Sepikul Harapan

Celah Langit

Kais (III)

Lautan Mainan

Penjepret foto partikelir.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel