Melihat Lebih Dekat Kekerasan dalam Pacaran

Melihat Lebih Dekat Kekerasan dalam Pacaran

“Kita hidup di dunia di mana kita harus sembunyi-sembunyi untuk bercinta, sedangkan kekerasan dipertontonkan di tengah terik hari.
- John Lennon -

Siapa yang tak kenal musisi kelahiran Liverpool dan pencipta lagu Imagine yang telah didengar oleh jutaan telinga manusia? Mayoritas manusia pasti mengenal John Lennon; penyanyi papan atas yang memiliki kekasih bernama Yoko Ono, seorang seniman dari Jepang. Kisah mereka cukup disorot oleh media sebagai pasangan yang ideal, penuh kasih sayang dan saling menjaga kesetiaan. Mereka sangat beruntung karena memiliki hubungan yang harmonis. Namun, apakah semua perempuan memiliki kisah dan kesempatan yang sama seperti hubungan Yoko Ono dan John Lennon?

Faktanya, tidak semua manusia menjalani hubungan yang membahagiakan layaknya John Lennon dan Yoko Ono. Di Indonesia saja, kekerasaan dalam hubungan laki-laki dan perempuan secara statistik masih di angka yang tinggi. Melihat data Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan di bulan Maret 2020, menyatakan bahwa terdapat 431.471 kasus kekerasan yang dilaporkan dan mendapatkan penanganan sepanjang tahun 2019. Ini baru sebagian kasus saja, karena saya yakin masih banyak kasus yang tidak dilaporkan dan belum mendapatkan penanganan. Padahal menurut MDGs (Millenium Development Goals), kesetaraan gender merupakan masalah prioritas yang harus segera ditangani dan diselesaikan.

Kesetaraan gender di sini berarti kesamaan peran antara laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan kesempatan serta hak yang setara sebagai manusia. Kesetaraan gender ini sudah diperjuangkan sejak lama. Sayangnya, di dunia khususnya Indonesia, perempuan masih belum mendapatkan kesempatan dan hak yang setara seperti laki-laki. Anehnya, ada banyak perempuan yang justru tidak sadar akan hal ini dan menganggap bahwa mereka sudah mendapatkan hak yang setara dengan laki-laki hanya karena telah mendapatkan fasilitas pendidikan dengan bisa bersekolah, berkarir, dan lain sebagainya. Padahal sama belum tentu setara.

Lihat saja pada kasus yang sering terjadi di sekitar kita atau bahkan pernah kita alami sendiri, yaitu kasus kekerasan dalam pacaran atau yang sering disebut KDP. Mungkin masih banyak orang yang beranggapan bahwa hal ini sepele untuk dibicarakan dan tidak perlu untuk diperhatikan. Atau bahkan tidak sadar bahwa KDP adalah wujud nyata dari adanya kesenjangan gender dan tidak adanya kesalingan antar pasangan. Mari buka mata kita, dalam hal ini pihak perempuanlah yang paling dirugikan.

KDP atau yang dikenal juga dengan dating violence adalah segala bentuk kekerasan yang terjadi dalam hubungan pacaran baik berupa kekerasan secara fisik, verbal, ekonomi maupun seksual. Menurut jurnal perempuan Ikatan Sarjana Psikologi Indonesia (ISPSI) bentuk KDP dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu kekerasan fisik, kekerasan seksual, dan kekerasan emosional.

Kekerasan fisik dapat berupa perbuatan-perbuatan seperti memukul, menendang, menjambak rambut, mendorong, menampar, menyulut tubuh dengan rokok, mencekik, membakar, dan mengajak ke tempat yang membahayakan keselamatan. Biasanya keadaan ini terjadi karena pihak perempuan tidak menuruti keinginan pihak laki-laki sehingga perempuan dianggap melakukan kesalahan. Sedangkan kekerasan seksual meliputi pemaksaan dalam hubungan seksual atau pelecehan seksual seperti rabaan, ciuman, dan sentuhan yang tanpa persetujuan dari pihak perempuan. Biasanya disertai dengan ancaman kekerasan fisik atau niat menyengsarakan dan meninggalkan pasangan. Yang ketiga adalah kekerasan emosional yang dapat berupa hinaan, ejekan, pemerasan, over protective, larangan bersosialisasi, bersolek, maupun bersikap.

Nah, salah satu faktor utama penyebab terjadinya KDP menurut ISPSI adalah sikap kedua belah pihakbaik laki-laki maupun perempuan—yang saling mendukung keberlangsungan kekerasan yang terjadi dalam hubungan mereka. Pihak laki-laki cenderung berkeyakinan bahwa kontrol kekuasaan ada pada laki-laki. Perempuan berkeyakinan bahwa apa yang dilakukan pacarnya adalah sikap yang wajar dan akan sembuh sendiri saat mereka sudah menikah nanti. Parahnya, banyak remaja putri yang rela diperlakukan tidak baik dengan mendapatkan berbagai kekerasaan asal tidak ditinggalkan oleh pasangan laki-lakinya hanya karena malu menjadi jomlo. Coba berpikir dengan logika, untuk apa menjalin hubungan bila perempuan terus menerus dirugikan? Sakit hati setiap hari juga melelahkan, loh!

Tindakan KDP seharusnya memang menjadi hal yang pantas untuk disoroti. Perempuan Indonesia tidak seharusnya disiksa, disakiti, dan dihujat dengan kata-kata kasar. Mereka harus mendapatkan hak-haknya sebagai perempuan. Jika perempuan mengalami kasus KDP, bukan tidak mungkin masa depannya akan terganggu karena tekanan mental dan fisik yang ditanggungnya. Hal ini akan memunculkan rasa takut dan trauma yang mendalam serta tidak percaya diri lagi sebagai perempuan. Padahal perempuan Indonesia bisa menjadi kunci kemajuan bangsa.

Kasus KDP ini hanya satu dari banyaknya kasus kekerasan yang sering terjadi di Indonesia. Setiap hari selalu ada penambahan kasus kekerasan. Mereka nyata dan terus berlipat ganda. Ada banyak kasus lain yang harus sama-sama diminimalisir bahkan jika sanggup dilenyapkan. Pada kenyataannya, perempuan masih menjadi kaum yang sengaja dilemahkan dan dipinggirkan dalam tatanan kehidupan; dipaksa tunduk dan patuh pada aturan patriarki di ranah publik maupun non publik. Padahal perempuan juga manusia yang memiliki hak untuk setara dengan yang lain. Mari kita dukung penghapusan kekerasan terhadap perempuan. Kita dukung pengesahan Rancangan Undang Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) dan saling support sesama perempuan.

Salam hangat untuk seluruh perempuan Indonesia! []

Puan belajar, berkarya, dan berdaya. Blog pribadinya dapat dikunjungi di lailafajrin17.blogspot.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel