Di Bawah Lindungan Cungkup Keong

Di Bawah Lindungan Cungkup Keong

Barangkali tetamu akan singgah ke rumah tetangga saya dan seketika memenuhi ruang tamu sekaligus ruang keluarga; atau boleh jadi mereka akan tumplak saja di teras. Barangkali dalam sekejap pula rumah itu akan riuh rendah oleh perbincangan, mengenai hidup dan mati, juga kebahagiaan yang terantuk keputusasaan berkali-kali. Obrolan-obrolan terus mengalun, ngalor-ngidul seolah setrika yang membuat hidup mereka rapi dan tertata dalam semalam.

Rumah tetangga saya tak ubahnya rumah tetangga saya yang lain, dan rumah saya sendiri, tentu saja; beratap rendah namun penuh kehidupan di bawahnya. Terik matahari kadang menerobos di sela-sela genting dan berpadu dengan udara asam-panas dari pesisir. Dan setelahnya, tentu saja, hawa gerah menyesaki musim kemarau.

Gerah beralih sejuk; demikian ketika hari-hari berjalan sekitar DesemberApril. Aroma dan dingin hujan akan mengitari rumah-rumah rendah di desa kami, dan tempias hujan sesekali menyusup lewat celah-celah genting tanah liat. Keduanya memang konsekuensi dari bentuk arsitektur rumah-rumah itu. Langit-langit rumah yang tak kelewat tinggi membuat sekelumit ruang yang dinaunginya menjadi berhawa panas pada musim kemarau dan dingin pada musim penghujan. Bisa saja langit-langit rumah dibuat lebih tinggi, tetapi angin kencang siap mengancam.

Rumah beratap cungkup keong ialah model rumah khas Rembang. Dalam bahasa lokal cungkup keong berarti cangkang atau rumah keong. Rumah ini memilki bidang segitiga sama kaki yang saling terhubung sebagai atapnya. Sementara di garis sisinya, para pembuat rumah menyusun penuwun, tumpukan tiga lapis genting.

Istilah cungkup keong ini sebetulnya tidak tepat secara fisik, sebab orang-orang tahu tak ada keong bercangkang limas segitiga. Namun, pemaknaan ini dapat diterima dengan pendekatan kiasan. Masyarakat Indonesia barangkali tahu betul istilah,Mampirlah di gubukku,” dalam konteks meminta seseorang untuk mampir ke rumahnya. “Mampir sek nek omah keongku (Silakan mampir di rumah keongku),” demikian yang pernah terdengar dari perbincangan simbah saya. Barangkali pendekatan itu dapat memberi konteks yang sama. Terlihat sedikit ekstrem, memang. Pemaknaan itu juga dapat ditimbang dari arsitektur rumah yang amat sederhana. Dan pilihan frasa rumah keong merupakan pilihan yang masuk akal untuk menggambarkan rumah serba sederhana.

Pemilihan frasa keong selain menunjukkan kesederhanaan juga menunjukkan kasta di masyarakat. Belum ada sumber yang akurat, memang, tetapi model rumah ini kebanyakan hanya digunakan para kasta biasa atau masyarakat umum. Hal tersebut dapat dirujuk dengan melihat bekas rumah bupati Rembang masa lalu, yang sekarang berada di kompleks Pendopo Rembang. Rumah tersebut berbentuk layaknya joglo pada umumnya.

Tak banyak variasi dari rumah beratap cungkup keong. Hanya ada dua variasi yang dibedakan dari jumlah tiang penyangga utama: soko papat dan soko wolu. Soko papat berarti rumah dengan empat pilar utama; jenis inilah yang paling banyak digunakan oleh masyrakat pada umumnya. Sementara soko wolu (limasan) merupakan varian memanjang dari rumah jenis ini, mengingat ada delapan pilar utama.

Soko wolu menurut sejumlah anggapan orang tua di lingkungan kami memiliki pantangan tersendiri. Anggapan ini barangkali bermula dari biaya yang dikeluarkan; mulai dari hitung-hitungan kepemilikan tanah yang cukup luas serta kebutuhan luas dinding yang diperlukan.

Kesederhanaan yang jelas terlihat selain dari segi istilah penamaan juga terdapat pada pembagian ruang. Rumah jenis ini hanya mampu disinget (disekat) menjadi empat ruang untuk jenis soko papat; dan dua lebih banyak untuk jenis soko wolu. Di bagian tengah rumah kita akan menemukan ruang cukup lapang: jogan; di situlah tempat beraktivitas anggota keluarga saat malam hari, juga sebagai tempat menjamu tamu.

Pembagian ruang lain berupa teras (telampek) dan latar yang berada di luar pintu utama. Sedangkan bagian belakang berupa dapur dan kakus (kiwan). Kesemuanya tentu dibatasi dengan sekat atau dinding yang disebut gebyok maupun gedek.

Perbedaan penamaan selain menunjukkan perbedaan bahan pembuatan juga menunjukkan perbedaan status ekonomi di masyarakat. Gebyok merupakan dinding yang terbuat dari kayu jati; secara pembuatan dan bahan baku, jenis dinding ini dimiliki kalangan berpunya saja. Kondisi tersebut tentu berbeda dengan gedek yang terbuat dari anyaman bambu. Bahan baku gedek bahkan dapat diperoleh secara cuma-cuma di belantara sekitar. Alasan mudahnya memperoleh bahan baku dan tidak menelan biaya banyak merupakan pilihan logis bagi mayoritas masyarakat Rembang pada masa lalu.

Dinding gedek digunakan mayoritas masyarakat Rembang dibuktikan dengan salah satu tradisi yang masih eksis; seperti dalam hajatan tertentu, misalnya, khitanan dan pernikahan, yang dalam bahasa sekitar disebut ewoh. Demi melaksanakan tradisi itu, sebelumnya sejumlah masyarakat masih melakukan upacara “bedol gedek” atau menjebol dinding untuk sementara waktu.

Upacara bedol gedek” biasanya dilaksanakan sebelum hari-H acara. Masyarakat akan melangsungkan doa bersama beserta tumpengan, sebelum benar-benar menjebol dinding. Tidak besar-besaran, memang; upacara dilakukan dengan mendatangkan lima hingga delapan tetangga terdekat saja. Penjebolan sementara ini jelas demi melebarkan latar rumah, supaya tetamu dapat menikmati pesta di tengah-tengah rumah yang tampak luas.

Istilah gedek dipilih sebagai penamaan upacara membuktikan gambaran betapa banyaknya masyarakat mulanya mempergunakan jenis dinding ini di rumah mereka, yang juga menunjukkan keadaan ekonomi sederhana masyarakat Rembang.

Namun, kini keberadaan gedek sedikit terkikis di desa-desa. Kepulangan para perantau dari negeri jiran akhirnya membawa pengetahuan lain tentang jenis dinding yang lebih baik dan layak seperti gebyok berukir atau bahkan model rumah bertembok yang tak lagi mempergunakan atap cungkup keong. Selain menjaga seisi rumah dari hawa dingin dan panas yang ekstrem, dinding “lebih baik dan layak” itu juga mengubah status sosial masyarakat desa menjadi selayaknya orang berpunya. Hanya saja, pekerjaan ke luar negeri sebagai kuli sejauh ini belum dapat dihindarkan; antara tidak adanya lowongan kerja di Rembang atau Malaysia barangkali lebih menjanjikan. Entah; yang jelas frasa gedek hingga kini tetap bertahan dalam masyarakat, utamanya dalam tradisi “bedol gedek”. Meskipun kini tak benar-benar gedek yang mesti dijebol kembali. []


Pengrajin puisi, prosa, juga esai. Buku puisi debutnya: Sepotong Ikan Kerinduan Ibu (Pustaka Bacabukumu, 2020). Pengelola azizafifi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel