Film Pendek untuk Hari-Hari yang Panjang: Sebuah Rekomendasi Tontonan

Film Pendek untuk Hari-Hari yang Panjang: Sebuah Rekomendasi Tontonan


Bagi sebagian orang, film pendek merupakan pilihan yang tepat bagi mereka yang ingin menikmati film tanpa harus membuang banyak waktu. Film pendek sendiri berarti film yang berdurasi kurang dari 50 menit. Berikut adalah lima rekomendasi film pendek menarik mulai dari lokal hingga mancanegara yang bisa kamu tonton melalui YouTube:

1. Anak Lanang (2017)

Selain Tilik yang belakangan viral, film pendek lain garapan Ravacana Film yang patut diapresiasi yakni Anak Lanang. Sesuai judulnya, film ini menampilkan empat bocah laki-laki SD yang tengah bercakap-cakap di atas becak sepulang sekolah. Film yang disutradarai Wahyu Agung Prasetyo ini menarik bukan hanya sebab mengangkat tema kehidupan sehari-hari, melainkan oleh teknik pengambilan gambarnya pula. Meskipun hanya berdurasi 14 menit, hebatnya film ini digarap dengan mempergunakan teknik one take shot. (Dilansir dari Tirto.id, teknik one take shot merupakan teknik pengambilan gambar dengan satu kali take dari awal hingga akhir adegan.) Percakapan natural dan sederhana, humor-humor menyegarkan, serta isu sosial seperti poligami yang diusung dalam film ini menjadi alasan mengapa kamu mesti menonton Anak Lanang.



2. Merangkul Jarak (2020)

“Ta, belum tentu yang mulai duluan bakal sukses duluan; proses tiap orang, kan, beda-beda. Bukannya hidup itu tentang berproses, ya?” Kata-kata tersebut dilontarkan Randi, seorang sineas lepas kepada sahabatnya, Gita, yang sama-sama bekerja di dunia perfilman saat mereka tengah bercakap video pada malam tahun baru. Dialog mereka berdualah yang menjadi keseluruhan kisah sepanjang film. Film garapan Cine Crib dan Kinovia ini diproduksi oleh sutradara Gerry Fairus. Cine Crib yang biasanya mengulas film belaka, kini memproduksi film pendek perdananya. Sama seperti Anak Lanang, film ini diambil secara one take shot dengan durasi 24 menit. Dalam film ini kita hanya dipertontonkan satu adegan, yaitu obrolan jarak jauh antara Randi dan Gista. Mereka membicarakan kabar dan pekerjaan masing-masing, juga cita-cita mereka membuat film bersama yang sempat tertunda. Percakapan Randi dan Gista terkesan mengalir, sementara topik pembicaraan mengenai cita-cita dan pekerjaan barangkali memang bertalian dengan apa yang tengah dirasakan muda mudi masa kini.



3. The Neighbor's Window (2019)

Film berkisah kehidupan suami istri, Maria Dizia dan Greg Keller yang tinggal di apartemen dengan rutinitas layaknya keluarga pada umumnya. Suatu hari sepasang muda mudi pindah dan tinggal di seberang apartemen mereka, dan hal itu mulai mengganggu keharmonisan suami istri tersebut. Film ini seperti sebuah representasi atas pepatah Jawa: sawang-sinawang. Tak hanya berkisah haru, pengambilan gambar film ini pun menghasilkan sudut pandang yang apik, terutama pada penggambaran aktivitas kehidupan yang dapat dilihat melalui jendela apartemen. Film pendek ini ditulis dan disutradarai oleh Marshall Curry, dengan durasi 20 menit; namun, sayangnya film ini tak memiliki subtitle dalam bahasa Indonesia.



4. Lemantun (2014)

Wregas Bhanuteja menggarap Lemantun sebagai tugas akhir di Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta tahun 2014. ‘Lemantun’ yang berarti lemari, mengisahkan seorang ibu yang hendak membagikan warisan lemari kepada kelima anaknya. Unsur-unsur dalam film ini berhasil membuat Lemantun serasa kisah sungguhan, mulai dari pemilihan latar, percakapan, serta fenomena yang terjadi antara ibu dan anak-anaknya. Pada awal adegan film ini barangkali akan membuat penonton bertanya-tanya: konflik apa yang akan terjadi. Meskipun berbahasa Jawa, film ini juga menyediakan subtitle bahasa Indonesia. Berdurasi sekira 21 menit, penonton pemburu amanat mesti bersabar menunggu hingga akhir film bila ingin mengambil pesan yang ingin disampaikan film ini. Meski begitu, Lemantun sebetulnya telah memberikan petunjuk sejak awal film tentang nilai dan simbol yang terkandung di dalamnya.



5. Turut Berdukacita (2018)

Maria (Diana Valencia) mesti terus-menerus menceritakan kronologi kematian ayahnya kepada para tamu yang melayat. Film berdurasi 10 menit garapan Winner Wijaya ini menyuarakan bagaimana masyarakat ‘kita’ tak banyak berempati saat seseorang baru saja kehilangan orang terkasih. Meskipun dibalut keramahan dan kepedulian, orang yang berduka sebenarnya tak membutuhkan banyak pertanyaan, melainkan dukungan dan sebuah pelukan.




Gemar menonton film. Film-film animasi Jepang seperti Ponyo, Spirited Away, dan The Grave of the Fireflies merupakan sejumlah film favoritnya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel