Kita Semua Harus Membaca

Kita Semua Harus Membaca

Kisah ini bermula ketika seorang manusia terlahir di dunia ini. Ia lahir disesaki dengan manusia-manusia lain yang mencintainya tak habis-habis. Manusia itu adalah kau.
 
Sejak bayi sampai bocah, kau diajarkan menyebut nama-nama; itu bapak, ini ibu, itu kakak, itu sapi, itu sawah, itu matahari, dan banyak ini-itu yang lainnya. Demikianlah cara melatihmu bicara.
 
Pada umurmu yang berjumlah jari-jari tangan kanan ditambah satu, kedua orang tuamu mengantarmu pergi ke gerbang sekolah. Mereka mendaftarkanmu bersekolah di taman kanak-kanak.
 
Mulai dari itu kau resmi menjadi seorang murid taman kanak-kanak. Kau dikenalkan huruf-huruf, puzzle-puzzle, warna-warna, nyanyian-nyanyian, permainan-permainan dan banyak lainnya. Kau ria bahagia. Hanya setahun kau di taman kanak-kanak, tapi hukuman gurumu untuk keluar kelas masih kau ingat sampai hari ini. Pada waktu itu, kau tak bisa berhenti bicara. Kau terlalu ribut. Gurumu kewalahan menegurmu, agar jera kau dihukum keluar dari kelas. Namun, kau malah riang gembira beroleh hukuman itu; sebab kau bisa bermain perosotan dan mengolok-olok teman di dalam kelas lewat lubang sebesar kepalamu di tembok tua gedung kelas.
 
Kau lulus dari taman kanak-kanak membawa kenangan itu hingga hari ini.
 
Selepas lulus dari taman kanak-kanak, sekolah dasar di sebelah taman kanak-kanak tempatmu bermain menerimamu sebagai murid.
 
'Sepertinya'—kau tak mengingatnya dengan baik—guru sekolah dasar mengajarimu cara membaca, "Ini Budi. Budi sedang bermain bola. Ini ibu Budi," dan seterusnya dan seterusnya. Hingga akhirnya kau mahir membaca. Kemahiranmu dalam membaca bikin kau baca setiap sesuatu yang kau temui—selama itu adalah urutan kata-kata yang membentuk kalimat. Syukur-syukur membentuk paragraf dan menjadi cerita utuh. Macam tulisan di bungkus rokok pamanmu, di botol obat, di bungkus sabun, di bak truk yang terbaca olehmu: "Pulang malu, tak pulang rindu," di toilet umum: "Harap disiram setelah buang air besar," dan di banyak tempat yang lainnya.
 
Kau sepertinya keranjingan membaca, meski pada masa itu kau tak tahu maksud itu. Lagi pula, bila kau dan teman-temanmu tahu, kau pasti malu pada dirimu sendiri, sebab kau bakalan dijuluki si kutu buku—yang digambarkan oleh televisi sebagai orang culun, penakut dan tidak memiliki teman. Sungguh kau beruntung tak tahu itu.
 
Pada suatu hari yang tak kau ingat lagi, kau menemukan sebuah buku pada sebuah ruang penyimpanan padi di rumahmu. Kau lalu membacanya. Kau selesai sekali. Kau ulangi lagi; dua kali. Kau ulangi lagi dan lagi hingga kau lupa hitungan; berkali-kali.
 
Kau pengin membaca buku lain, tapi masalahnya bapak-ibumu adalah seorang petani. Jadi, buku adalah kebutuhan nomor sekian. Nomor satunya adalah bisa makan dan kau bisa bersekolah—kelak saat kau dewasa, kau mengerti sesuatu; sebagai keluarga petani, bisa mencukupi itu saja sudah beruntung.
 
Meski keadaanmu demikian, kau tak patah arang, kau tetap saja berusaha membaca. Membaca lembar kerja siswa yang ada ceritanya berkali-kali adalah kesukaanmu.
 
Hingga di suatu masa, ketika kau pergi jauh dari rumah, kau bertemu dengan banyak buku-buku lainnya. Kau kemudian membeli beberapa buku hingga bertumpuk-tumpuk. Dan kini buku-buku itu jadi harta berhargamu.
 
Selama kau membaca buku-buku, kau memahami sesuatu; bisa membaca kata-kata adalah kenikmatan Tuhan yang diberikan serupa gunung, dan batu-batu kecil di bawahnya adalah syukur kita. Begitu pula kegemaran membaca buku; ia adalah gunung sedangkan syukur tak bisa sebanding apalagi melampauinya.
 
Hari ini, di usiamu yang sudah tak bocah lagi, kau tak mampu mengingat dengan baik bagaimana mula kau bisa membaca. Sebab ini, syukur dan terima kasihmu tak akan pernah cukup membalas guru-guru yang sudah mengajarkanmu membaca.
 
Ingatanmu sewaktu bocah tak semua terlupakan; kau masih ingat gurumu mengajarkan bahwa Tuhan mengutus seorang nabi bernama Muhammad. Dan wahyu pertama yang diterima Muhammad adalah "bacalah." Kau yakin akan hal itu. Melalui wahyu itu, kau beroleh kesimpulan: membaca adalah suatu keniscayaan, dan buku adalah salah satu medianya.
 
Soal membaca buku, ada orang bilang: "Bacalah buku yang kau sukai." Kau tak bersepakat dengan ungkapan itu. Karena bagimu membaca buku tak harus buku yang disukai saja. Karena kau percaya ini, "Aku menyukai membaca buku motivasi. Hanya saja sepertinya hidup tak segampang motivasi di buku motivasi." Inilah kegamanganmu. "Bila aku terus-terusan bebal hanya membaca buku yang kusukai saja, mungkin otakku bakal penuh dengan bualan-bualan motivator."
 
Ah, apalagi belum lama ini kau membaca Kertas Basah anggitan Dea Anugrah. Dea dalam bukunya menulis puisi berjudul Nasihat; begini tulisnya: //pengalaman adalah kawat /dan lakban dunia //potongan panjang /maupun pendek /mengatasi masalah //kendati sementara /dan kecuali /masalahnya sendiri//.
 
Begitulah motivator, ia punya pengalaman yang dianggap bisa mengatasi masalah orang lain, tapi tidak masalahnya sendiri. Ironis sekali. Maka, kali ini kau lebih mantap lagi untuk membatasi diri membaca buku motivasi. Meski dulu sewaktu masih mahasiswa dosenmu sempat menekankan untuk banyak membaca buku motivasi. Mungkin karena itulah dosenmu yang bergelimang motivasi itu tak mau mendengarkan keluhan mahasiswa. Benar saja ia seperti itu, batinmu.
 
Dan mengingat itu semua kau putuskan meyakini ini: lebih baik baca buku apa saja. Entah suka atau tidak. Lagipula—soal baca buku apa yang kau sukai—bagaimana kau tahu kau suka buku itu kalau kau belum membacanya. Itu sangat aneh, Ferguso. Apalagi kau sudah mafhum bahwa alasan membaca buku bisa berasal dari mana saja. Mungkin dari teman, dari kekasihmu atau mantanmu, mungkin juga dari gurumu, dan dari-dari yang lainnya.
 
Kau lalu berpesan sebanyak dua hal pada dirimu sendiri, "Ingatlah! Kau jangan jadi orang bebal, menganggap bacaan yang kau sukai adalah bacaan yang terbaik untukmu. Kadang kau butuh membaca ini-membaca itu yang tak benar-benar kau sukai. Misalnya, membaca kitab suci."
 
Tetapi memang membaca buku berasal dari keinginan diri sendiri adalah sebuah karunia. Tentu bisa membikin kau bergembira dan berbahagia.
 
Dan pesan lainnya kau tulis di keningmu, kali ini tebal sekali: "Kebahagian karena gembira membaca buku tak harus kau paksakan kepada orang lain yang tak menyukai itu. Sebab membaca buku tidak segalanya, tetapi membaca adalah segalanya."
 
Jadi hari ini kau meyakini slogan ini, "Kita semua tak harus membaca buku, tapi kita semua harus membaca." Demikianlah kisah ini berakhir. []
 
Rembang, 20202021

Membaca dengan riang. Menulis dengan gembira.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel