Buku Demi Buku dan Hal-Hal yang Mengitarinya

Buku Demi Buku dan Hal-Hal yang Mengitarinya


“Membaca buku, membeli buku, menjual buku,” demikian satu dari sekian twit Agus Mulyadi yang saya sukai.
 
Dunia perbukuan telah saya nikmati entah sedari kapan. Namun, barangkali yang kurang yakni hasil pembacaan buku-buku itu selama ini belum mampu saya tuliskan dengan baik; entah sebagai ulasan maupun bentuk tulisan lain. Hari demi hari, buku demi buku, twit Agus Mulyadi tersebut seolah-olah terejawantah dalam hidup saya.
 
Pembaca Buku
Dulu, saya tak terpikir bahwa gemar membaca merupakan suatu hal spesial. Sampai pada titik di mana saya sangat menikmati diri sebagai seorang pembaca buku, dengan genre buku pilihan saya, tentunya. Kalau ditanya, sejak kapan gemar membaca, terutama membaca buku, dan buku apa yang mampu membuat saya jatuh cinta pada membaca? Jawabannya: saya sendiri tidak tahu. Yang saya ingat, saya suka meminjam buku di perpustakaan sewaktu masih duduk di bangku SD. Sesuai dengan bacaan siswa SD, perpustakaan menyediakan buku-buku dongeng, legenda, fabel, dan sejumlah buku pelajaran, termasuk buku agama. Bahkan tak jarang saya meminjam buku-buku itu untuk saya bawa pulang dan baca di rumah.
 
Seingat saya itu hal yang menyenangkan. Dengan kepolosan seorang bocah, yang saya rasakan hanyalah saya senang membaca buku dan selalu penasaran dengan isinya. Dan kesenangan itu terus saya rasakan hingga kini.
 
Buku-buku selalu menimbulkan kesan dari setiap isinya. Kalau sudah jatuh cinta pada membaca, rasa-rasanya kemungkinan malas merampungkan buku yang tengah dibaca sangat kecil. Selama apa pun waktunya, pasti akan menyempatkan diri untuk menyelesaikannya.
 
Semenjak di pesantren saya mulai tahu lebih banyak judul buku yang menarik. Di pesantren, setahun sekali biasanya digelar pameran buku dalam kegiatan haflah akhirussanah. Salah satu buku favorit santriwati, termasuk saya, yaitu novel terbitan Mata Pena, karena isinya memang seputar dunia santri. Dan serunya membaca novel di pesantren itu jika novelnya hanya satu, maka siapa yang ingin membacanya mesti mengantre dulu. Selalu ada hal yang mengesankan jika membicarakan buku.
 
Selain buku, pesantren juga menyediakan mading, salah satu media yang disediakan agar para santri tetap dapat mengikuti kabar dari luar pesantren. Ada dua mading, yakni mading berisikan tulisan-tulisan karya santri putri dan mading berisikan koran harian.
 
Saya adalah salah satu santri yang selalu menunggu update isi mading. Ya, walaupun di mading koran tulisan yang saya baca hanyalah rubrik cerpen dan zodiak saban hari Minggu. Namun, sungguh, itu sangat menyenangkan. Pada mading karya santri, saya selalu penasaran siapakah pengisi mading santri putri pekan ini; penasaran rubrik yang ditulis dan siapa yang menulis. Beberapa kali saya juga pernah mengirim tulisan untuk mading ketika masih gemar menulis puisi dan cerpen. Dan kini yang baru saya sadari ialah salah satu hal yang memperkaya perbendaharaan kosa kata berasal dari kegiatan membaca. Tulisan yang saya tulis, kata demi katanya dapat diperkaya dari buku-buku saya baca.
 
“Cuma perlu satu buku untuk jatuh cinta pada membaca. Cari buku itu. Mari jatuh cinta,” begitulah kutipan Najwa Shihab yang amat populer, dan saya menyukainya. Saya telah menemukan jalannya, dan kadung jatuh cinta pada membaca.
 
Pembeli Buku
Dari mana saya memperoleh buku-buku yang selama ini saya baca? Sudah pasti kalau tidak meminjamnya dari perpustakaan atau teman, ya, hasil beli sendiri. Sebagai seorang pelajar dan mahasiswa yang hanya punya uang saku pas-pasan, kegiatan membeli buku merupakan keinginan yang sangat sulit dicapai. Betapa tidak, sewaktu SMP atau SMA, sebagai anak yang sedang nyantri bisa terhindar dari kelaparan saja sudah bersyukur. Meskipun tentu memperoleh uang saku bulanan dari orang tua, tetapi tetap saja mesti menyisihkan uang jajan yang ekstra demi membeli satu buku saja. Dan benar saja, tirakat untuk membeli buku itu nantinya juga berlanjut sampai di bangku kuliah.
 
Sewaktu di pesantren, setiap kali digelar bazar buku saya sangat antusias mengunjunginya. Melihat deretan buku yang berjajar rapi saja rasanya sudah membikin semringah. Banyak judul buku yang menarik. Salah satu manfaat mendatangi bazar buku, selain hanya melihat-lihat buku dan membelinya, jika ada uang, saya jadi tahu lebih banyak judul buku dari berbagai genre. Tahu judul bukunya saja sudah bisa jadi tabungan daftar bacaan bahwa kelak saya pasti bisa membeli buku itu. Dan suatu kebanggaan apabila setelah mendatangi bazar buku lalu ketika keluar telah menenteng kantung plastik berisikan buku-buku yang berhasil saya beli.
 
Saya selalu merasa bahwa dapat membeli buku ialah sebuah prestasi. Ya, meski tidak semua orang setuju dengan pendapat itu. Membeli buku merupakan investasi untuk masa depan. Saya selalu berandai suatu saat dapat berpenghasilan lebih supaya bisa membeli buku semau saya.
 
Masa-masa kuliah merupakan masa di mana saya bisa mencicil membeli buku yang sudah masuk dalam wishlist buku yang akan saya beli. Ya, saya sengaja menulis judul-judul buku yang ingin saya miliki. Lumayan banyak judul buku yang saya tulis. Tentu saja saat itu untuk melengkapinya saya mesti memotong uang jajan bulanan, yang mengakibatkan uang jajan ambyar sebelum waktunya. Tapi sekali lagi, saya menikmati momen itu.
 
Sekali waktu dosen saya berkata, bahwa seberapa kayanya seorang mahasiswa ialah ketika ia pulang ke kampung halaman membawa kardus-kardus berisikan buku. Dan tentu saja, pesan itu sangat saya ingat ketika pulang boyongan setelah wisuda. Saya membawa banyak kardus, dan separuh dari barang bawaan ialah kardus berisi buku. Manusiawi, betapa bangganya saya.
 
Bercerita tentang buku memang selalu menyenangkan. Sampai kini pun masih berusaha memenuhi daftar buku yang ingin saya beli. Tetapi tetap, buku-buku itu bisa dibeli dengan menyisihkan penghasilan bulanan. Saat ini selain bisa membeli buku untuk diri sendiri juga bisa membeli buku untuk adik saya, yang juga punya kesenangan membaca buku. Bersyukur keadaan keuangan sudah lebih baik dibanding ketika masih duduk di bangku kuliah; jadi tidak ada alasan untuk tidak membeli buku.
 
Penjual Buku
Tanpa saya sadari, dunia perbukuan sudah menjadi bagian hidup saya. Apa-apa yang berkaitan dengan buku, saya selalu menikmatinya. Membaca buku, membeli buku, hingga menjual buku. Ya, menjual buku adalah kegiatan yang kini tengah saya tekuni. Bermula ketika saya berada di bangku kuliah, kira-kira ketika memasuki semester enam. Beberapa kali saya membeli buku dari Yogyakarta, salah satu kota yang menjadi pusat distributor buku. Dari situ terpikir bahwa jika saya bisa menjadi reseller atau dropshipper dari distributor buku itu saya bisa mendapat harga lebih murah dan bisa membeli buku dengan mudah karena memiliki beberapa relasi. Namun, karena jiwa mahasiswa yang hidup sebagai anak kos, maka sangat naif jika tujuan penjualan saya bukan karena mendapat keuntungan—untuk menambah uang saku bulanan, tentunya.
 
Ketika itu, karena saya masih menjadi mahasiswa, maka sasaran penjualan adalah teman-teman lingkup kampus. Tentu buku-buku yang saya jual adalah buku penunjang mata kuliah. Sebagai pemula, bisa dikatakan penjualan buku saya cukup lancar; hanya bermodalkan membagikan gambar buku lewat status WhatsApp yang dilihat oleh teman-teman di kontak ponsel saya yang cukup banyak, sudah bisa menjadi sebuah kabar bahwa saya adalah seorang penjual buku.
 
Sampai pada suatu ketika saya tergabung dalam salah satu tim distributor buku di Yogyakarta yang menyediakan lebih banyak genre buku. Dari tim ini saya tidak hanya belajar tentang buku, namun juga bisa sebagai wadah untuk saya menggali ilmu tentang strategi penjualan yang baik. Hingga saat ini, kurang lebih sudah tiga tahun saya menekuni sebagai penjual buku. Saya mulai memperluas pemasaran melalui media sosial lain seperti Facebook, Instagram, dan marketplace lainnya. Tentu dengan terus belajar menjadi penjual dan toko buku daring yang bisa memuaskan penikmat baca dan penikmat buku di luar sana.
 
Lalu, apakah saya menikmati kegiatan ini? Tentu saja. Selalu ada ilmu-ilmu baru dari setiap prosesnya. Misalkan, saya bisa tahu lebih banyak buku-buku sekaligus cuplikan isinya, karena kadang kala ada tuntutan dari pembeli yang ingin tahu isi bukunya, sehingga mau tidak mau sebagai penjual yang berusaha melayani dengan baik, maka saya harus mencari tahu isi buku tersebut. That’s the point, wawasannya jadi tambah luas.
 
Saya menikmati kesibukan sebagai penjual buku online yang tengah berusaha memenuhi keinginan membangun toko buku offline. Saya rasa ini hal yang lumrah bagi para penjual buku, khususnya para penikmat buku; ingin memiliki perpustakaan pribadi, membuat taman baca, pun memiliki toko buku sendiri. Itu harapan yang selalu saya gantungkan kepada (dan semoga diijabah) Tuhan.
 
Soal buku, satu hal yang hingga kini belum bisa saya wujudkan: menjadi penulis buku. Doakan saja—siapa tahu? []


Pembaca buku, pembeli buku, penjual buku. Mengelola toko buku Ruang Buku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel