Harapan di Secawan Menstrual Cup

Harapan di Secawan Menstrual Cup

Di dunia yang sedang tak baik-baik saja, atau anggaplah, meski agak berlebihan, sedang di ambang kehancuran (melihat lingkungan yang kian mengkhawatirkan), sedikit membantu memperlambat kehancurannya merupakan sebuah keniscayaan. Kita (perempuan) dapat turut serta dalam agenda itu. Mengurangi atau bahkan menolak pemakaian pembalut sekali pakai ialah salah satu jalan yang dapat ditempuh.
 
Pembalut atau segala sesuatu yang mengatasi keluarnya darah haid adalah ihwal yang tak terpisahkan dari kehidupan perempuan. Pada mulanya barangkali pembalut yang dipergunakan masih ramah lingkungan, tetapi kini, pembalut adalah satu dari sekian barang yang cukup banyak menyumbang kerusakan lingkungan. Oleh sebab pembalut sekali pakai yang banyak digunakan perempuan berbahan sulit terurai atau hancur. Pembalut itu berbahan plastik perekat yang hanya bisa terurai setelah 200—800 tahun.
 
Memandang hal itu, bayangkan seberapa banyak pembalut sekali pakai yang terpakai dalam sehari hingga masa menopause tiba; ratusan atau ribuan? Kita bisa membayangkannya dengan hitungan sederhana:
 
Dalam sebulan atau sekali siklus menstruasi seorang perempuan memerlukan kira-kira 25 pembalut sekali pakai. Nantinya, siklus itu akan berulang sepanjang tahun sampai pada usia menopause yang rata-rata dialami perempuan ketika berumur 45—50 tahun. Jika 25 pembalut setiap bulan ditotal selama setahun saja, jumlahnya telah mencapai angka 300; lalu berapa pembalut yang diperlukan dalam rentang 30 tahun atau sejak menstruasi pertama sampai usia menopause? Barangkali tumpukan sampah pembalut itu akan menyerupai bukit.
 
Itu baru sampah pembalut saja, lalu bagaimana dengan sampah berbahan plastik lainnya? Tentu menggelikan melihat bumi akan—dan itu mungkin saja terjadi—melahirkan pulau-pulau baru: pulau sampah plastik.
 
Sebagai pembuktian, mari kita tilik produksi sampah plastik yang ada di Indonesia. Menurut data mutakhir yang termuat di laman Okezone Techno, jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2020 telah mencapai angka 7,6 juta ton. Sementara itu, dilansir dari ANTARA News, produksi sampah plastik di Indonesia bertambah sebanyak 5,4 juta ton setiap tahun. Dengan fakta itu, kiranya tak butuh waktu lama menunggu munculnya pulau sampah plastik di Indonesia.
 
Soal jumlah sampah belum seberapa; hal yang lebih mengerikan ialah zat berbahaya yang dikandung sebagian besar plastik yang kita gunakan. Plastik-plastik itu lambat laun akan terurai menjadi mikroplastik yang sangat mungkin tanpa sengaja termakan makhluk hidup lain hingga menimbulkan penyakit bahkan kematian.
 
Untuk itulah andil perempuan dalam memperlambat laju penumpukan sampah plastik sangat dibutuhkan; dalam hal ini mengurangi penggunaan pembalut sekali pakai memang perlu dilakukan. Di antara banyak cara, salah satu yang dapat dilakukan yakni pemakaian menstrual cup (cawan menstruasi).
 
Menstrual cup adalah peranti berbentuk cawan yang berfungsi menampung darah haid. Cara pemakaiannya cukup mudah, yakni hanya dengan memasukkan cawan menstrual cup ke dalam vagina. Setelah cawan penuh oleh darah haid, kamu bisa melepasnya, lalu dibilas dengan air, dan kemudian dapat dikenakan kembali. Dengan mengenakan alat itu kita bisa menghemat 3.000 pembalut sekali pakai, sebab masa pakainya selama 10 tahun.
 
Belakangan senang sekali mengetahui banyak teman perempuan saya mulai beralih ke menstrual cup dengan berbagai alasan: simpel, hemat, ramah lingkungan, nyaman, dsb. (Bagaimana, apakah kamu juga mulai tertarik beralih memakai menstrual cup?)
 
Tindakan itu barangkali tak seberapa dalam mengurangi sampah plastik yang kian memprihatinkan; namun, sumbangan sederhana itu diharapkan mampu menjadi pemicu produsen pembalut sekali pakai untuk mengendalikan produksi, atau paling tidak memikirkan proses pemusnahan barang sekali pakai yang mereka produksi; bahkan barangkali juga mencari alternatif bahan ramah lingkungan demi keberlangsungan bumi yang lebih baik. []

Mahasiswa UIN Walisongo, semester akhir.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel