Eskapisme

Eskapisme

“Kita bukan manusia yang dulu lagi,” kataku dalam hati. Seperti kaki yang mengarungi sungai berarus, ketika merintanginya kembali, sungai itu tak lagi sama; arusnya mengalir air yang lain lagi. Dan seperti itulah aku memaknai kebiasaanku membaca buku semasa pandemi. Aku menemukan arti baru dari sebuah aktivitas membaca. Barangkali arti ini tak akan pernah kutemui jika pandemi tak mampir di negeri ini.
 
Selama pandemi, masalah-masalah bukannya ikut terinfeksi dan mati; ia justru makin kuat, makin beringas, makin bertenaga menerpa kehidupanku. Kuliahku terhambat, dosenku makin sulit diajak kompromi. Padahal masa studiku sudah kebablasan. “Empat tahun selesai!” yang dulu kuucapkan pada orangtuaku kini asap kelabu yang memusingkanku belaka. Aku stres tak bisa memenuhi ucapanku. Kata orang-orang, ucapan adalah doa dan kini aku belajar bahwa doa bisa saja tak terkabul.
 
Hari-hari penuh penantian. Kabarnya kadang datang, tidak sebulan sekali tapi beberapa bulan sekali. Ah, aku ingat, rekor terlama mendapatkan tanggapan dari dosenku itu adalah tiga bulan. Di dalam waktu-waktu yang terus bergulir, nyaris semua tetangga yang tak ingin kusebutkan namanya di sini, terus menanyaiku, “Sudah lulus?” Kemuakan yang kurasakan menuntunku untuk mengindari setiap pertanyaan itu dengan jawaban, “Belum, masih menunggu dosen.” Selepas itu aku mengurung diri sambil merenung.
 
Mulanya semua kuambil pusing. Ingin rasanya mengumpat, “Sialan!” pada takdir yang rasa-rasanya tak begitu adil padaku. Namun, agaknya percuma saja mengumpat. Kuputuskan melakukan apa yang kubisa. Meneruskan kebiasaanku sebelum pandemi; membeli buku-buku, membacanya, menuliskan beberapa komentarku, mengirimnya ke meja redaksi. Tulisanku tayang, honor pun datang. Lalu, kubelikan buku baru, kubaca lagi. Hampir satu tahun sudah siklus ini bertahan.
 
Membaca. Banyak waktu yang kucurahkan pada kegiatan yang satu ini. Ya, waktu luangku yang melimpah selama pandemi hampir separuhnya dihabiskan untuk menatap huruf-huruf yang terangkai menjadi kalimat, kalimat-kalimat yang tesusun jadi paragraf, paragraf yang diruntut menjadi subbab, subbab digabungkan jadi bab, bab demi bab diurutkan menjadi buku. Akhirnya, buku tidak pernah terlewatkan untuk dipegang saban harinya.
 
Aku dan buku bermesraan. Lebih syahdu dari pegangan tangan sepasang insan. Kuakui, meski sekalipun tak punya pasangan selama pandemi, karena buku, aku masih merasakan namanya cinta. Dan, perasaan cinta itu yang tak pernah kudapati sebelum adanya pandemi.
 
Dulu sebelum pandemi, aktivitas membaca buku adalah bagian untuk mengisi otakku yang masih rumpang saja. Melumat bacaan demi beberapa niat; sekadar ingin tahu, bahan persiapan jika diajak mengobrol dengan kawan, dan beban tugas kuliah yang mendatangiku. Sudah itu saja.
 
Bagaiamanapun, tak banyak yang bisa diperoleh. Hasil tergantung niat. Aku sebatas dapat ilmu baru. Sekadar bisa menimpali seorang kawan yang bertanya kurang ajar dan mendebat tanpa pegangan pendapat. Hanya kudapati kelegaan dari beberapa lembar kertas tugas bisa ditumpuk di meja dosen.
 
Kini kujelaskan bahwa makna baru dari membaca yang kukatakan di awal adalah buku tempat bernaungku dari permasalahan. Tempatku berlari dari kenyataan pahit. Buku adalah kusir yang membawaku ke dunia lain yang membangun rasa kepercayaan diri.
 
Dosen tidak memberi kabar? “Ah, sudahlah. Toh masih ada buku yang masih belum terbaca,” kataku dalam benak. Aku kehilangan separuh dari stresku. Sebelum pandemi, kurasa membaca buku tak pernah senikmat ini. Kini seakan masalah-masalah yang kuhadapi tengah digerus oleh setiap huruf yang muncul di halaman-halaman buku.
 
Aku berbincang dengan para buku. “Mengapa kita gemar membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan?” tanyaku.
 
“Kita termakan citra, terjebak dalam dunia simulakra, digiring oleh media untuk mengonsumsi apa pun yang mereka tawarkan, seakan tanpa aktivitas itu kita bisa mati atau tak eksis lagi sebagai manusia,” demikian Masyarakat Konsumsi anggitan Jean Baudrillard menjawabnya.
 
Ketika aku resah tentang banyak orang yang sepertinya tidak menyukai buku, salah satu buku pun turut menjelaskannya. “Banyak yang tidak tahu hargaku. Bagi mereka, aku tidak lebih dari kertas yang dicetak, membacaku tidak mendatangkan uang secara praktis. Saat ada di antara mereka sadar hargaku, mereka merasakan ancaman besar dariku. Hingga suatu saat mereka mulai menutup lemarinya rapat-rapat, menjauhkanku dari tangan-tangan anak kecil yang polos, ada yang membakarku hidup-hidup di atas bara api yang membumbung tinggi. Mereka yang melakukannya, tidak lebih dari pemimpin dan cendekiawan yang kuberi ilmu, lalu durhaka,” kata Penghancuran Buku karya Fernando Baez.
 
Betapa aku selalu merasakan keseruan manakala buku seolah dengan santai berbincang denganku. Buku, jendela dunia yang embusan anginnya saja sudah menyejukkan suasana. Kusadari, waktu terlewati terlampau lama, tapi inilah kebahagiaan untukku. Aku lari dari masalah, lari dari kegetiran dan berlabuh di buku. Membangun rumah yang akrab bersama para penulis yang kujumpai melalui buku. Jika badai takdir kehidupanku sebagai mahasiswa masih terus menerjang, aku masih punya rumah berlindung, yaitu buku.
 
Kartini pernah berkata dalam kumpulan suratnya, Habis Gelap Terbitlah Terang, bahwa pendidikan adalah cara bagi kita “mendekatkan bumi kita yang indah pada kesempurnaan”. Kini, aku katakan bahwa buku adalah bagian dari cita-cita yang Kartini sebutkan, juga obat lara bagiku. Buku menyediakan jalur bagi pelarianku ataupun dialah tujuan dari kebahagiaan yang kumiliki sekarang ini. Apakah kalian merasakan stres selama pandemi? Apakah kalian juga mahasiswa yang kelulusannya terhambat? Aku sarankan, berkenalanlah dengan buku, jatuh cintalah, dan jamah mereka sesering yang kau bisa.
 
Masalahku memang tidak sepenuhnya sirna, tetapi aku masih bisa tersenyum dan tertawa setiap kali membaca. Deretan hurufnya memberiku salam sapa, seperti bocah kecil yang mengajakku bermain di dunianya. []
 
Kebumen, 19 Maret 2021


Pembaca biasa yang membiasakan membaca.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel