Hassan Blasim — Lubang

Hassan Blasim — Lubang


1
 
Aku sedang memenuhi tas dengan batangan-batangan coklat tersisa. Aku baru saja memenuhi seluruh kantungku dengan itu. Kuambil beberapa botol air dari gudang. Aku punya cukup salmon kalengan, sehingga kusembunyikan sisanya di bawah tumpukan tisu toilet. Lalu, tatkala menuju pintu, tiga penembak bertopeng masuk menerjang. Aku mulai menembak dan salah satu dari mereka ambruk. Aku berlari ke pintu belakang, memasuki jalan, tapi dua lainnya mulai mengejar. Aku melompati pagar lapangan bola setempat dan berlari menuju taman. Saat mencapai paling ujung taman, di sisi Museum Sejarah Alam, aku terperosok ke lubang.
 
***
 
“Heh, jangan cemas.”
 
Suara paraunya menggentarkan.
 
“Siapa kau?” tanyaku, ketakutan tak berdaya.
 
“Kau kesakitan?”
 
“Tidak.”
 
“Itu normal. Bagian dari rangkaian.”
 
Kegelapan memudar tatkala ia menyalakan lilin.
 
“Tarik napas yang dalam! Jangan khawatir!”
 
Ia tertawa kering, penuh kelantaman dan rasa hina.
 
Wajahnya gelap dan kasar, seperti sepotong roti jelai. Seorang tua renta. Bertelanjang dada. Ia duduk di atas dingklik, dengan selembar kain kotor terbujur di kedua pahanya. Di sebelahnya terdapat beberapa karung dan rombengan usang. Kalau tak menggerakkan kepala seperti tokoh kartun, ia seperti gelandangan biasa. Ia memiringkan kepala ke kanan-kiri seperti kura-kura dalam beberapa hikayat.
 
“Siapa kau? Apa aku jatuh ke lubang?”
 
“Ya, tentu kau jatuh. Aku hidup di sini.”
 
“Kau punya air?”
 
“Airnya mati. Nanti hidup lagi. Aku punya lintingan ganja.”
 
“Ganja? Kau ini oposisi atau bersama pemerintah.”
 
“Aku bersama tempik ibumu.”
 
“Ayolah! Di sini aman, kan?”
 
Ia menyalakan selinting dan menawariku. Aku meringsut dan mengamatinya. Ia terlihat mencurigakan. Ia menghisap seluruh lintingan itu dan menyetel radio di sampingnya; sebuah frekuensi memainkan lagu berbahasa asing. Terdengar seperti irama religius dari Afrika.
 
“Apa kau orang asing?”
 
“Tak terdengar dari logatku? Aku berbicara bahasamu, bung! Tapi kau tak bicara bahasaku, sebab aku mendahuluimu. Tapi kau akan berbicara bahasa orang yang jatuh setelahmu.”
 
“Ah, bung. Cara bicaramu layak dibenci.”
 
Berpaling, ia menyondongkan leher kura-kuranya ke depan, dan menyalakan lilin lain. Sekarang, aku bisa melihat tempat ini dengan jelas. Ada sebuah mayat. Mengamatinya di cahaya lilin, rasa pahit muncul di mulutku. Tubuh seorang prajurit, dan sebuah bedil di dekatnya. Tungkainya tersayat-sayat, jelas oleh pecahan tajam peluru. Seorang prajurit dari zaman bahela.
 
“Betul, prajurit Rusia.”
 
Ia seperti membaca pikiranku, dan di wajahnya timbul senyum palsu.
 
“Dan apa yang dilakukannya di negara kita? Bekerja di kedutaan?”
 
“Ia terperosok di hutan sewaktu perang musim dingin melawan Finlandia.”
 
“Dasar gendeng.”
 
“Heh, aku tak punya waktu untuk orang sepertimu. Aku ingin berlaku santun, tapi sekarang kau mulai menjengkelkan. Aku sedang ambyar hari ini.”
 
Aku mulai mengamati lubang ini. Seperti sebuah sumur. Dinding-dindingnya dari lumpur basah, namun pori-porinya menguarkan bau tajam. Mungkin bau bunga-bunga! Kuangkat lilin untuk melihat seberapa dalam lubang ini. Di mulut lubang, cahaya lampu-lampu taman terlihat.
 
“Kau percaya Tuhan?” tanyanya dengan mengejek.
 
“Kita selalu dalam lindungan-Nya. Berdoalah, bung, agar selamat dari sengsara dunia.”
 
Ia lingkarkan kedua tangannya membentuk toa dan mulai berteriak histeris, “Oh Tuhan yang Ajaib, Mahakuasa, Mahatahu, Tuhan, yang Perkasa, turunkanlah seekor jerapah atau monyet yang tingginya seratus delapan puluh sentimeter! Jadikanlah sesuatu yang jatuh ke sini bukanlah manusia. Jadikanlah sebatang pohong kering jatuh ke lubang! Lemparkanlah empat ekor ular supaya kami dapat menjadikannya tali!”
 
Wah, sintingnya tua renta berleher kura-kura ini yang kubutuhkan! Kugoda ia dengan doa sarkastiknya dan berkata kalau seorang lagi jatuh, akan jadi perkara mudah untuk keluar dari lubang, sebab lubang ini tidak dalam.
 
“Betul juga, dan ini orang ketiganya!” ucapnya, menuding prajurit Rusia.
 
“Tapi ia mati.”
 
“Di sini, tidak di lubang lain.”
 
Tiba-tiba, si tua renta meloloskan sebilah pisau. Aku menatapnya waspada, kalau-kalau ia menyerang. Ia merangkak menuju mayat prajurit itu dan mulai mengiris sebongkah demi sebongkah daging dan memakannya. Ia tidak mengacuhkanku, seolah aku gaib.
 
 
2
 
Malam itu telah kusarungkan revolver sebelum menuju toko. Aku telah menutup toko berbulan-bulan lalu saat pembunuhan dan penjarahan mulai melanda seantero ibukota. Aku akan menuju toko saat ini dan ketika sulit mendapat makanan atau air dari pertokoan di dekat rumah. Perekonomian segera ambruk, dan seluruh persoalan jadi tambah runyam oleh serangan-serangan. Tanda-tanda pemberontakan bermunculan, dan kekacauan mewabah sebagai akibat absennya pemerintah. Demonstrasi-demonstrasi awal bermula di ibukota, dan dalam beberapa hari kepanikan dan kekerasan memenuhi seluruh negeri. Sekelompok orang menduduki seluruh gedung pemerintahan. Mereka membentuk komite interim dan berusaha memerintah. Namun, persoalan jadi getir lagi. Orang-orang menyebut para pebisnislah yang membekingi kelompok terorganisir penguasa wilayah utara negeri. Orang-orang kaya dan para pendukung pemerintahan sementara diyakinkan bahwa kelompok baru berpaham agama akan berkuasa dan memaksakan ideologinya yang tidak jelas. Itu yang dikatakan juru bicara wilayah utara, dan ia juga mengancam bahwa wilayahnya akan memisahkan diri. Terhadap pidato para politisi dan revolusioner, kelompok ekstrimis agama tak ambil pusing. Mereka bergerak diam-diam, dan menguasai pangkalan rudal nuklir negara dalam satu serangan kilat. “Umat manusia telah menggiring dirinya kepada kehancuran, mari kembali pada kebijaksanaan Sang Pencipta.” Begitu semboyan mereka.
 
Dan tentara, mereka bertempur di beberapa medan. Di bandar utama negeri, para prajurit dengan senapan mesin membunuh lebih dari lima puluh orang yang berusaha merampok bank negara. Rakyat mulai melawan prajurit, yang mulai menganggap mereka musuh perubahan. Terdapat persenjataan melimpah. Tetangga kami dari selatan disinyalir menyediakan senjata untuk rakyat. Beberapa orang berpengaruh berusaha menenangkan situasi di ibukota dan menemukan solusi dari kekacuan yang memenuhi negeri. Tentara mengepung pangkalan rudal dan mulai berunding dengan pemimpin para ekstrimis, yang hidup dinaungi suku-suku bersenjata di negara lain. Ia dulunya seorang kolonel yang dibebastugaskan sebab gagasan-gagasan ekstrimisnya. Konon pula, ia memiliki tato di kening: MUSNAHKAN IBLIS DARI MUKA BUMI.
 
Si tua renta itu memamah daging dan kembali ke tempat semula, seolah-olah baru saja rampung melahap sepotong roti isi. Ia mengelap mulutnya dengan handuk kotor, membuka buku, dan mulai membaca. Aku meloloskan sebatang coklat dan menelannya gelisah. Si tua renta ini lumayan memuakkan dan menjijikkan.
 
Ia beralih pandang dari bukunya dan berkata, “Dengar, aku langsung saja. Aku ini jinni.” Ia mengulurkannya tangannya untuk salaman.
 
Aku menatapnya penasaran.
 
Apa ini yang coba dikatakan kakek pada minggu-minggu terakhirnya? Ia selalu mengoceh di hadapan pohon pomegranat (yang bisa dilakukannya hanya mengenyot pomegranat dan menatap pohonnya).
 
Sungguh, diriku ingin bangkit dan menyepaknya. Aku sadari ia sedang menatapku hina dan tersenyum jijik. Lalu ia berkata, “Kau nampak lebih berani dan lebih sedikit menjijikkan daripada si Rusia ini. Dengar, aku tak tertarik padamu; begitu pula pada orang lain yang kemari. Yang kucari dari kisahmu adalah hiburan. Saat menghabiskan waktu dalam rangkaian ananta ini, hanya kenikmatan bermain yang membuatmu bertahan. Orang malang macam si Rusia ini mengingatkanku pada kekonyolan permainan ini. Gairah ketakutan mengubah rangkaian jadi tiang gantungan. Segera setelah kawan kita si Rusia ini jatuh, ia belingsatan lantaran ada aku di sini. Ia todongkan bedilnya ke batok kepalaku. Dan ketika kukatakan kalau aku ini jinni, ia jadi agak gila. Ia punya sebutir peluru. Jika aku tak terbunuh, ia yang bakal mati ketakutan, dan jika tak menembakkannya, ia bakal terus-terusan terbelenggu ketakutan sendiri.”
 
“Bagus, lalu?”
 
“Ha! Aku bilang padanya aku tahu seluruh rahasia hidupnya, dan untuk membuatnya tambah takut, kukatakan aku tahu Nikolai, anak bungsu bibinya. Prajurit itu belalakan mendengar nama itu. Aku berkata bagaimana ia dan Nikolai memperkosa seorang gadis di desa. Ia tak kuasa dan menembak. Rangkaian konyol, penuh kisah-kisah manusia. Percayakah kau pada petuah macam ini?” Ia melafalkan dari bukunya: “’’Di dunia ini, kita hanyalah bayang-bayang ganjil’ Omongan usang, kan? Hidup itu indah, kawanku. Nikmatilah dan jangan gelisah. Aku dulu mengajar puisi di Baghdad. Sepertinya akan turun hujan. Suatu hari, kita mungkin tahu secuil rahasia atau cara keluar dari sini. Tak ada bedanya di sini. Yang penting itu melodi rangkaiannya.”
 
Aku menjerit, “Kau makan mayat, tua renta menjijikkan!”
 
“Halah! Kau bakal makan aku juga, dan mereka bakal melahapmu atau menguraimu jadi bahan baterai atau minuman.”
 
Kutinju wajahnya dan menjerit lagi: “Kalau saja bukan orang tua, sudah kupecah tengkorakmu, bangsat!”
 
Ia tak menghiraukan perkataanku. Yang hanya dikatakannya bahwa tak perlu merasa terkejut, sebab ia akan meninggalkan lubang segera dan aku akan jatuh ke lubang lain di lain waktu. Bukunya tetap bersamaku. Buku penuh halusinasi. Isinya penjelasan rinci tentang energi tersembunyi yang tersarikan dari serangga untuk membuat organ tambahan supaya liver, pankreas, jantung dan organ tubuh lainnya lebih kuat.
 
 
3
 
Sebelum meninggalkan lubang, si tua renta bercerita bahwa ia berasal dari Baghdad dan hidup di masa kekhalifahan Abbasiyah. Dulu, ia seorang guru, penulis, dan pencipta. Ia menyarankan pada khalifah untuk menerangi jalanan kota dengan lentera. Ia telah mengurus penerangan masjid-masjid dan saat itu sedang sibuk merencanakan pemerataan sistem penerangan rumah berdasarkan metode kontemporer. Para rampok Baghdad terkejut oleh lenteranya, dan suatu hari mengejarnya sehabis subuh. Saat hampir sampai rumah, pria lentera ini tersandung jubahnya dan jatuh ke lubang.
 
Satu dari sekian hal si Baghdadi katakan adalah bahwa mereka yang datang ke lubang lambat laun belajar tentang kejadian-kejadian masa lampau, sekarang, dan esok, dan para pencipta permainan membuat permainannya pada rangkaian eksperimen yang dilakukan demi memahami kebetulan-kebetulan. Ada selentingan bahwa mereka hilang kendali atas permainannya, yang bergulir tiada henti dan menabrak putaran waktu. Ia juga berkata, “Siapapun juga yang mencari cara keluar dari sini mesti merumuskan seni bermain; kalau tidak mereka hanya jadi hantu sepertiku, bersenang-senang dengan permainan... Ha, ha, ha. Aku muak menguak simbol.
 
Terdapat dua lawan dalam setiap permainan. Masing-masing punya kode pribadi. Sebuah pertarungan berdarah-darah, berulang dan membosankan. Sisanya adalah ingatan, yang tak bisa mereka hapus dengan mudah. Pada masamu, eksperimen memori masih seumur jagung. Para peneliti terus bekerja lebih dari satu setengah abad setelah percobaan-percobaan awal, yang bertujuan menemukan kendali memori di otak werok.
 
Ternyata werok-werok itu ingat apa yang dipelajarinya meski otak mereka sudah dibikin sepenuhnya  berantakan di laboratorium. Itu bakal jadi eksperimen hebat jika diterapkan pada manusia. Apakah memori itu sebuah kartu as di permainan ini, yang kita mainkan dengan serius, atau semestinya kita sekedar bersenang-senang saja? Siapapun yang jatuh kemari jadi santapan atau sumber pemuas hasrat, atau energi untuk sistem lain. Kita ini... Sialan, siapa kita? Tak ada yang tahu!”
 
Si tua renta mati dan meninggalkan diriku yang sungguh putus asa. Hari telah tiba dan bunga salju jatuh dari mulut lubang. Tubuh si Rusia nampak kabur. Aku ingin kembali ke waktu yang aku di sana, kepada jejak-jejakku yang terserak di tempat yang dulunya kupikir fana. Kesadaranku sedang bergerak seperti sebuah roller coaster di taman hiburan. Bunga salju berpusar. Penampakan si prajurit telah hilang. Sepasang mataku terbuka dan pikiranku lelap. Mungkin aku sudah tidur selama ratusan tahun. Aku membayangkan sel mati. Sebetulnya, aku ini hanya pikiranku atau setiap sel di tubuhku? Semerbak bunga-bunga memenuhi lubang. Kupejamkan mataku, tapi kemudian seorang gadis muda jatuh. Ia sedang menggendong sebuah ransel elektronik di punggung, terikat di dadanya banyak pengikat, dan kedua pahanya terikat oleh rangkaian fosfor metalik. Ia sedang menggenggam di tangannya sesuatu yang terlihat seperti alat pengukur elektronik.
 
“Siapa kamu?” tanyanya, ternengah-engah. Ada luka-luka yang menodai rupa cantiknya.
 
“Aku jinni. Apa yang terjadi padamu?”
 
Rasanya seperti suaraku kembali ke masa purba.
 
“Sebuah robot pemeriksa darah sedang mengejarku,” ucapnya.
 
Ia sedang mengenyot jarinya yang bengkak seperti jamur.
 
“Itu normal,” ucapku masa bodoh, lalu merangkak menuju mayat si tua renta. []
 

*) Cerita pendek ini ditulis oleh Hassan Blasim (lahir di Baghdad, 1973), penulis berkebangsaan Irak. Cerita pendek dengan judul bahasa Inggris The Hole diterjemahkan oleh Achmad Agung Prayoga dari buku The Corpse Exhibition and Other Stories of Iraq, terbitan Penguin Books, New York. Penerjemahan bahasa Inggris dari bahasa Arab oleh Jonathan Wright.


Penulis dan penerjemah prosa. Pengampu biskuatsusu.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel