Omong Kosong Rumit Perihal Cinta

Omong Kosong Rumit Perihal Cinta

Jika kau ingin tahu seberapa penting dan seberapa besar kekaguman orang-orang Amerika pada karya Raymond Carver, tontonlah Birdman (2014). Klimaksnya ada di saat Riggan Thomson—salah satu tokoh di film itu, berdiri dengan masih mengenakan jas, menghabiskan tenggak demi tenggak sloki wiskinya di sebuah bar di Broadway. Ia tak sendiri. Bersama rekan panggungnya, Mike, mereka sedang membahas agar pertunjukan preview teater mereka, yang mengambil bahan dari salah satu karya Carver, tak diolok-olok oleh kritikus. Mereka berdua belum mabuk ketika Mike menyurungkan pertanyaan kepada Riggan: kenapa Raymond Carver, sih? Dan Riggan agak-agak sentimental menjawab bahwa dulu ketika ia bersama-sama kawan sekolah menengah membuat pertunjukan drama, dari tribun penonton ada yang mengiriminya selipat tisu bertuliskan: Terima kasih untuk penampilan yang begitu natural. Tisu itulah yang mendorong Riggan punya cita-cita jadi pemain watak. Riggan menyimpan tisu dengan tanda nama Ray Carver itu, memamerkannya kepada Mike dengan penuh kebanggaan seolah jimat dari seorang guru spiritual. Alih-alih ikut terpesona, Mike justru mencemooh dengan tertawa penuh ejek yang membuat Riggan bertanya: ada yang lucu? Dan Mike menjawab lugas: ia menuliskannya di tisu koktail, Bung. Itu artinya ia sedang mabuk.
 
Di film yang diganjar aneka penghargaan itu, What We Talk About When We Talk About Lovesalah satu cerita pendek dari sekian banyak cerita yang sudah dibikin Carver, benar-benar dijadikan motor penggerak plot film. Alejandro González Iñárritu, sang sutradara, memanglah waskita. Baginya, cuma tersisa Carver yang masih relevan ketika membicarakan cinta di abad penuh limpahan kasak-kusuk ini.
 
Jika sanjungan orang-orang londo kita rasakan belum cukup, tengok saja bagaimana Haruki Murakami, penulis yang penggemarnya di dalam negeri lumayan melimpah, tidak perlu malu atau menutup-nutupi bagaimana garapan-garapan Carver menginspirasinya ketika akan menerbitkan senarai memoar ihwal bagaimana selama ini ia tak bisa lepas dari jerat kecintaannya pada dunia maraton. Di atas sampul bukunya yang berlabur warna putih itu, Murakami cuma menghapus lema Love dan menggantinya dengan lema Run. Pada Raymond Carver, Murakami seakan hendak menegaskan: aku iki bocahmu, Bos!
 
Cerita pendek What We Talk About When We Talk About Love ada di buku kumpulan cerita dengan judul yang sama. Ia ditemani enam belas cerita pendek lain, dan terbit kali pertama pada tahun 1981. Sebenarnya agak menjengkelkan, pembaca berbahasa Indonesia butuh masa 37 tahun cuma untuk ikut menyesap bagaimana keasyikan tersaji di cerita-cerita Carver. Omong-omong, masa tiga puluh tujuh tahun itu lebih lama dari umur Orde Baru yang tega memberangus bacaan-bacaan elok.
 
Memang, cerita-cerita di buku ini seolah diikat oleh kesamaan benang topik yakni cinta, percintaan. Tapi kau semua kecele jika berharap menemukan bayang-bayang romantisisme ala Layla-Majnun atau Hamlet-Ophelia atau si Doel dan si Zaenab bakal terselip di halaman demi halaman. Cinta itu omong kosong yang rumit, Bung dan Nona, kalian tak usahlah berlagak pintar dengan berkoar-koar ini dan itu. Begitu kira-kira Carver ingin mengulurkan gagasannya tentang cinta via cerpen-cerpen bikinannya. Jangan berharap kau bakal menemukan kisah-kisah bombastis, atau konflik-konflik yang berakhir dengan sedu-sedan dari narator. Carver, agaknya, lebih suka mengunggah apa-apa yang dekat dengan keseharian dirinya sebagai pengarang, ketimbang menggunakan lompatan-lompatan imajinasi liar ketika berkreasi dengan prosa yang kadang digunakan oleh pengarang lain.
 
 Kita bisa melihat pada cerita berjudul Kamera (dialihbahasakan dari judul Viewfinder). Di situ, Carver menghadirkan karakter seorang laki-laki buntung yang mengganti kedua tangannya dengan besi pemauk. Berbekal polaroid lawas, si laki-laki buntung bekerja jadi tukang foto keliling. Dia pakar memotret rumah dan segala perabotan beserta penghuninya. Suatu ketika, si tukang foto menawarkan jasanya ke sebuah rumah di mana empunya rumah ternyata seorang laki-laki yang bertahun-tahun hidup sendirian. Cerita ini memang ringkas, namun bukan Carver jika tak bisa menawarkan cakrawala nun jauh di balik ringkasnya jumlah kata. Dengan berbekal secangkir kopi, bunyi kakus digebyur, segepok foto, dan tentu saja dialog-dialog tuan rumah dengan si tukang foto, kita akan diajak menebak-nebak, mengukur kekuatan bagaimana dua laki-laki sekuat tenaga mengatasi brengseknya kesepian ketika nasib menempatkan mereka dalam situasi ditinggalkan oleh anak-anak dan istri. Sama sekali tak ada kata-kata mutiara. Tak ada petitah-petitih baik di tengah atau di akhir cerita. Carver membangun karakter-karakternya bukan untuk berdakwah. Jika kau masih kurang percaya, silakan simak cerita Satu Hal Lagi (dialih bahasakan dari One More Thing). Perihal bagaimana Maxine memutuskan mengusir suaminya lantaran lelaki itu punya hobi yang menurutnya payah. Maxine mencintai L.D, suaminya. Tapi, siapa yang tahan dengan pasangan hidup yang selain gemar mabuk, gemar pula mencederai anak mereka sendiri? Dengan langgamnya yang dirty realism, Carver menyuguhkan segala sesuatunya dalam ukuran-ukuran detil tajam, dengan meniriskan hasrat untuk menggurui. Bahkan untuk cerita yang satu ini, Carver memperjelas visi prosa miliknya yang ‘show don’t tell’ itu dengan memacak racauan milik L.D sebelum minggat dari rumah.
 
“Katanya, ‘Aku hanya ingin bilang satu hal lagi.’
Tapi kemudian ia tak bisa memikirkan apa kiranya yang akan ia katakan.”
 (hlm 203)
 
Carver sendiri—sebelum menjadi pengarang, kerap menjajali beragam profesi pekerjaan, yang barangkali turut memudahkan dirinya menciptakan karakter-karakter beraneka ragam dan biasanya berada di wilayah pinggiran. Dari kardiolog sampai tukang roti, ada. Dari agen penjual buku sampai pengelola hotel, ada. Karakter-karakter berbungkus berbagai jenis pekerjaan tersebutlah yang saya rasa punya andil besar menjadikan plot tak monokrom. Itu sebabnya, Bill Buford, dalam salah satu edisi di majalah Granta, bukan tanpa alasan menyebut gerakan teks penulis-penulis Amerika ini sebagai dirty realism. Charles Bukowski, Cormac McCarthy, Richard Ford, dan tentu saja Raymond Carver adalah beberapa di antara penulis Amerika yang sering disebut-sebut sebagai generasi sastra dirty realism. Kisah-kisah yang ditulis oleh mereka akan berada di atas tema-tema dari kehidupan kontemporer, dekil, pinggiran, jorok, slengekan beserta karakter-karakter cerita yang selama ini kadang tak pernah dimunculkan oleh penulis-penulis lain. Untuk perkara ini, jelas kita akan dapatkan dari cerita-cerita pendek Raymond Carver.
 
Kita akan menemukan bagaimana karakter dalam tiap cerita berupaya mengatasi situasi-situasi rumit dengan beragam cara yang bakal membuat kita tersedak, atau lebih tepat lagi menertawakan diri sendiri dengan senyum ganjil. Jika nalar kita bekerja dengan baik, oleh cerita-cerita Carver, kita seperti sedang ditaboki dengan selembar sandal refleksi; sadar bahwa hidup tidak melulu lempang, sementara kita bukan gerombolan manusia yang bakal duduk di atas bangku-bangku sebuah seminar motivasi demi mendengarkan si pemberi petuah berujar: tenanglah, kisanak, kesabaran ialah kunci. []

Judul
What We Talk About When We Talk About Love
Penulis
Raymond Carver
Penerjemah
Dea Anugrah & Nurul Hanafi
Penerbit
Baca
Tebal
203 halaman
Cetakan
Pertama, Agustus 2018


Bergiat di Komunitas Lacikata dan Kelab Buku Semarang dan Kabilah Pemuja Alihbasa. Tinggal di Semarang dan hidup sebagai penjual nasi goreng.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel