Nasib dan Dua Puisi Lain

Nasib dan Dua Puisi Lain

Nasib
 
ia menanti malam datang
menyambut tidur yang melenakan
demi sebuah mimpi bak surga
dan pagi menamparnya dalam telak
 
jalan raya dan dingin yang menusuk
bulu-bulu berdiri
angan melayang-layang
dalam masa depan menjanjikan
 
tetapi hidup, tetapi nasib
mematahkan kakinya
dan tangannya dan lehernya
 
hanya di sini, dan di sini selamanya
 
ia dapati bayangan mengerikan
merambati seluruh kulit
dan ia tak ingin hidup lebih lama
 
andai besok semua selesai


Perselisihan

kekasih, ada yang pelan-pelan tanggal dari jari-jariku
ia jatuh seperti tak ingin lagi kembali
jika sore nanti kau melihatnya di suatu persimpangan jalan
sampaikan pesanku, "Aku hanya minta ia kembali"

kami telah berselisih
tentang bagaimana seharusnya menghadapi esok,
tentang seperti apa semestinya menantang kemarin
tentang kapan selayaknya mengakhiri kini

ia marah dan melepaskan tubuhnya lewat sela-sela jariku
jika sore nanti kau melihatnya di suatu persimpangan jalan
sampaikan pesanku, "Aku hanya ingin ia kembali"


Pukul Satu Dini Hari

tujuh menit menjelang pukul satu
tak ingin terpejam
kilau lampu-lampu menyerikan
lagu-lagu menjaga mata menyala

lima menit menjelang pukul satu
bayangan pagi memuram
rutinitas membosankan
seharusnya langit malam selamanya

empat menit menjelang pukul satu
hanya kata-kata tanpa suara
ada yang tiba-tiba hinggap
seolah semua sedang terjadi

dini hari tak pernah melahirkan apa-apa
selain ketakutan akan waktu yang tidak jelas asalnya
selain penyesalan dan pengharapan yang berbaur
di dalam langkah-langkah yang lamban dan gelisah

satu menit menjelang pukul satu
hanya katak dan dingin di kulit
hanya jarum jam dan nafas memberat
kita tidak di mana-mana
hanya di dalam ketakutan yang direkayasa

pukul satu dini hari
seharusnya kita lelap dalam mimpi tentang pantai dan gunung-gunung tinggi
tentang danau dan kicau burung di taman
tentang orang-orang yang datang penuh cinta

pukul satu lewat satu 
dan kita tidak ke mana-mana
hanya berputar di pusaran waktu yang mengisap hasrat perlahan-perlahan
dan kita mati setiap pagi.


Lahir di Pekanbaru, 22 November 2000. Sejumlah puisinya tergabung dalam Eidetik 2: Antologi Puisi Tema Kenangan (2020). Ia dapat disapa di Instagram, @ekos.sptra.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel