Yang Berdiri di Pati Sendiri

Yang Berdiri di Pati Sendiri

Rasa-rasanya tahun 2000 datang kembali saat saya memasuki rumah kecil bertuliskan “Toko Buku Bekas” beserta satu kata "Buka" pada kaca jendelanya. Tahun 2000 dan toko memang bukanlah paduan yang pas untuk disandingkan, tetapi bagi saya keduanya bertalian.

Tahun 2000 ialah tahun ketika saya kali pertama mendengar ramalan cuaca di radio. Pada jam berikutnya, kalau tak salah ingat, pentas wayang akan mengudara; saya dan simbah mendengarkan radio yang seharian menyala menemani aktivitas seisi rumah. Lalu sebuah toko buku bekas yang tempo hari saya kunjungi bersama kawan menyulut api suar dalam ingatan yang datang dari tahun-tahun itu.

Cuaca Jepara hari ini tampak mendung ...” kata penyiar, mengutip laman BMKG hari itu, tentu saja usai sang pemilik menekan tombol on/off radionya. Entahlah, itu terasa ganjil benar. Rasanya saya berada di tahun yang berbeda, jauh sebelum wabah disiarkan radio yang hari begini masih berjuang mencari pendengar.

Buka: Buku Bekas

Namun, saya sadar tempat itu bukan rumah simbah. Tempat itu hanya toko buku bekas seluas 4×3 meter, barangkali. Ia hanya berisi buku, lalu debu, lalu radio tua, juga meja kasir kusam. Buku-buku tampaknya sengaja ditumpuk menjulang; majalah Tempo beragam edisi, buku-buku pelajaran, dan sejumlah novel terjemahan yang asing juga disusun demikian.

Jangan pernah bayangkan ia seperti toko buku hari-hari ini. Jangan pernah bayangkan ia seperti Berdikari Book, raksasa toko buku Yogyakarta. Namun, bayangkan sisi lain dari bisnis berdagang buku. Atau sisi risiko lebih besar dari bisnis buku itu sendiri: tak ada yang laku, tak ada pembeli, dan tak ada uang untuk makan esok.

Saya dan kawan saya memang tak dapat menggali lebih dalam cerita sebenarnya dari si empunya toko buku. Namun, setidaknya seorang wartawan senior memberi bahan penting untuk saya olah di sini. Ia bilang, toko buku itu bahkan telah berdiri sebelum Soeharto terjengkang dari kursi kepresidenan, atau, dua tahun sebelum saya lahir, 1994 tepatnya.

Lelaki itu telah menikah dengan buku-bukunya,” terang wartawan senior itu padaku. Barangkali itu ada benarnya. Saya pikir di setiap sudut dunia hubungan manusia dan buku agak rumit, dan yang paling rumit ialah banyak di antara mereka begitu tergila-gila membaca, membeli, dan memotretnya. Bahkan ada pula yang tak bisa lepas dari hidup mereka.

Toko buku bekas di Pati itu, misalnya. Sang pemilik mengingatkan saya pada salah seorang tokoh dalam novel Rumah Kertas karangan Carlos Maria Dominguez. Ia barangkali serupa Carlos Brauer, tokoh yang memenuhi rumahnya dengan buku-buku atas dalih kepincut. Lebih jauh, buku-buku itu bahkan memengaruhi kewarasannya. Si tokoh mesti menempatkan buku berdasarkan kekerabatan di antara mereka. Ia juga tak akan menaruh dalam satu rak buku-buku dari dua penulis yang pernah saling cekcok semasa hidupnya.

Barangkali ia juga seperti salah seorang tokoh dalam film yang pernah saya tonton, ialah Josee, tokoh yang gemar membaca dan seakan hidup di dunianya sendiri. Tokoh yang tak bisa membedakan antara dunia tempatnya berpijak dan isi buku.

Namun, entahlah. Kisah toko buku bekas itu nyaris tak ada yang mencatat. Jika ingin sedikit bersusah payah, satu-satunya dokumen yang dapat diakses tentang toko tersebut yakni tulisan yang terbit pada portal berita lokal di kota itu. Dari situ diketahui si pemilik mesti sering-sering berpuasa sebab dagangannya tak laku. Boleh jadi ia menahan lapar sehari, dua hari, bahkan seminggu, sambil menunggu kedatangan pembeli. Selalu ada kemungkinan. Sudah saya terangkan, saya tak memperoleh keterangan apa pun ketika berkunjung ke sana.

Namun, kegilaan ala Carlos Brauer atau Josee sekalipun memang betul-betul tampak pada diri lelaki pemilik toko, Very Yulianto. Pada berita lokal itu ia menuturkan, kegilaannya membaca koran telah mendorongnya mendirikan sebuah toko buku, lantas meninggalkan pekerjaan di pabrik rokok yang telah lama ia jalani.

Dulu sering beli koran waktu kerja di pabrik, kemudian saya membuka lapak jualan stiker dan poster, baru setelah itu membuka toko buku bekas,” ujarnya pada kanal berita Patiraya.com.

Namun, entah mengapa, buku memang sumber kegilaan yang tak bisa dihentikan begitu saja. Nyatanya meski hanya satu dua orang yang mengunjungi tempatnya, Very tetap bersetia menunggu di sana. Ia amat menekuni profesinya. Saat menjaga buku-bukunya, sesekali ia boleh jadi menatapnya dengan rasa menyesal, boleh jadi dengan kebanggaan. Boleh jadi ...

Namun yang jelas, penulis berita itu tahu betul bagaimana Very bekerja. “Bahkan, dalam beberapa hari tokonya pernah tak ada yang menyambangi. Tapi tujuannya satu, ia ingin menyediakan bacaan murah bagi masyarakat,” tulisnya.

Dan itu berarti Very akan selalu ada di sana. Ia akan senantiasa menyambut orang-orang dengan cara menyalakan radio, menunjukkan koleksinya, atau lain-lain cara. Saya tak mengerti. Tentunya, ia akan terus menghidangkan senyuman dengan rasa lega pada siapa saja yang datang, entah untuk membeli maupun sekadar membaca. Bukankah memang itu yang ia inginkan?

Maka dari itu berkunjunglah. Sebab menyitir penutup tulisan berita tersebut: "... dari 21 kecamatan di Kabupaten Pati, toko buku bekas itu merupakan satu-satunya." []

Rumah Buku


Pengrajin puisi, prosa, juga esai. Buku puisi debutnya: Sepotong Ikan Kerinduan Ibu (Pustaka Bacabukumu, 2020). Pengelola azizafifi.wordpress.com.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel